Inspirasi Tanpa Batas

Kama Abdul Hakam dalam Resonansi Pendidikan Indonesia

0 92

Kama Abdul Hakam, Dr., M.Pd. Pengusaha yang memiliki basis-basis akademis cukup baik. Ia dikenal sangat populis. Santun dan bersahaja dalam berbagai tindakan. Mudah senyum dan gampang bergaul. Tidak membuat yang datang malas bertemu, tetapi dalam kasus lain, ia memiliki aura dirindukan, jika lama tidak bertemu.Waktu untuk bertemu dirinya, jika tidak dibatasi kesibukannya, tidak akan menjenuhkan, sekalipun dibingai dalam tema yang tunggal. Inilah sosok akademis yang meletakkan dirinya sebagai pundak.

Ia tidak hanya dikenal sebagai ketua Program Studi S3 Pendidikan Umum (PU) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, tetapi, sering dinisbatkan sebagai bapak bagi mereka yang mengikuti pendidikan di Kampus Islami dan program studi ini. Ia juga bukan hanya dikenal telaten dalam mengurusi dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi peserta didik yang ada di bawah asuhannya, tetapi, juga dikenal siap mengambil resiko ketika berhadapan dengan kepentingan mahasiswa yang menjadi asuhannya itu.

Ia adalah pemikir kreatif yang imaginer dalam mentransformasi gagasan pendidikan berbasis keislaman.Baginya, pendidikan itu sumber utamanya adalah masalah yang dihadapi secara langsung, lalu diimaginasi dalam bentuk pemikiran, dan kemudian dimuntahkan dalam wujud teori baru yang lebih hidup.

Mengapa ia begitu konsen dengan kata keislaman? Karena ia bukan saja memiliki habit agama dari bapaknya yang menjadi salah satu pendiri PUI, tetapi, Islam telah menjadi dignity hidupnya. Ia fasih bukan saja dalam membaca al Qur’an, tetapi, dikenal mahir dalam membaca kitab arab yang gundul. Islam itu di hati dan di perbuatan. Karena itu, Islam dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, harus dapat diletakkan dalam posisi strategis, yakni pada konteks dignity. Karena itu, ia merelakan dirinya untuk menjadi pundak dalam pelaksanaan pendidikan.

Teori Pundak dalam Pendidikan

Menurutnya, pundak tidak mungkin melebihi ketinggian kepala. Ini ilustrasi populis tentang pentingnya hidup sahaja dan keharusan menghormati guru atau mereka yang lebih senior dan telah mendidik kita. Sebetapapun mereka kini sudah lemah dalam berbagai definisinya, tetapi, sebagai senior atau sebagai guru, ia tetap senior dan tetap guru yang wajib dihormati. Mereka wajib dijunjung tinggi kehormatannya, selama ia tidak melanggar prinsip-prinsip dasar hidup dan keagamaan.

Menurutnya, pundak mengandung makna, bahwa jika senior atau mereka yang telah mengjari kita akan kebaikan dalam hidup, engharuskan diri para yunior untuk siap menanggung beban yang mereka pikul. Beban itu bukan hanya dicangking oleh tangan, tetapi, perlu dipikul oleh pundak. Mengapa? Karena pundak adalah bagian tubuh yang bukan hanya dipandang lebih kuat dibandingkan dengan anggota tubuh lain, tetapi juga bahkan ia memiliki ruang untuk membawa lebih banyak bawaan, termasuk jika harus dibandingkan dengan tangan.

Aspek lainnya adalah, pundak memberi keleluasaan kepada siapapun yang ingin naik atau memanjat ke tempat yang lebih tinggi. Dengan pundaklah, kita dapat mendorong orang lain untuk naik ke arah yang lebih tinggi. Inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Suatu model yang mengaransemen bahwa pendidikan sejatinya adalah mendorong peserta didik kita ke titik yang lebih tinggi. Jadi, tidak elok kalau sebagai guru misalnya, kita tidak rela jika muridnya naik ke jenjang yang lebih tinggi. Inilah hakikat pendidikan, yakni membangun kesahajaan dan kebersamaan. ** (TLI)

Baca Juga: Resonansi Finansial Guru

Komentar
Memuat...