Fenomena Ahok telah Menjarakkan Rakyat dengan Pemimpin Umat

0 14

Terdapat beberapa fenomena menarik atas berlangsungnya aksi 212 dan 411 Jakarta yang dilakukan masyarakat Muslim Indonesia, atas ketidaksabarannya dalam menyaksikan fenomena dugaan penistaan agama yang saat ini telah disangkakan kepada Ahok. Beberapa fenomena dan wacana di kalangan masyarakat itu. dapat saya himpun ke dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dialektis berikut ini.

Betulkah umat Islam yang datang ke Monas, Jakarta pada 212 atau sebelumnya 414 itu adalah manusia tanpa Nalar? Pertanyaan ini muncul karena banyak pihak menganggap bahwa mereka yang datang pada dua moment, dianggap sebagai kaum terpinggir yang tidak terdidik dan tidak memiliki nalar. Betulkah mereka yang datang ke Jakarta itu, sekelompok manusia yang memiliki pemahaman keagamaan yang sempit dan lemah?Kalimat tanya ini dimunculkan karena ada beberapa pihak yang menganggap bahwa yang datang dan mengajak datang ke Jakarta itu, tidak memiliki otoritas keagamaan.

Pertanyaan lebih konyol dari itu adalah: Betulkah mereka yang datang ke Jakarta itu, adalah mereka yang dibayar dengan beberapa lembar kertas biru atau merah? Pertanyaan itu dimunculkan karena ada beberapa kalimat naratif di berbagai akun yang mengatakan bahwa mereka yang datang ke Jakarta, hanya karena ingin rekreasi melihat Jakarta, mumpung ada yang membayar. Atau betulkah mereka yang berjalan kaki dari Ciamis, Tasikmalaya dan Garut dan kemudian disusul beberapa masyarakat Muslim dari daerah lain ke Jakarta itu, sosok manusia yang bodoh, sehingga mereka pantas untuk disebut menjadi penyebab kemiskinan umat? Ini juga suatu pertanyaan yang menjadi resumen atas adanya anggapan bahwa mereka datang ke Jakarta, patut dianggap bodoh. Terhadap pertanyaan terakhir ini, berhubung kebanyakan yang datang itu guru-guru ngaji saya, agak musykil dan keterlaluan pernyataan itu dimunculkan.

Sadar dan Tidak Sabar

Pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu tidak perlu dijawab. Mengapa? Karena sudah terbukti, mereka bukan hanya jauh dari apa yang disangkakan, tetapi, juga menunjukkan jati diri dan eksistensinya sebagai warga Muslim yang shaleh, ilmiah, tidak miskin dan tentu terdidik. Jawaban semacam ini, muncul sebagai respon atas dinamika keumatan (Islam), yang menyebabkan umat bukan hanya sekedar sedang diuji tingkat kesadaran dan kesabarannya dalam mewujudkan keadilan yang berdimensi keagamaan ini, tetapi, juga sedang menjalani suatu peristiwa multi tafsir yang bukan mustahil dapat melahirkan fitnah besar di antara sesama umat Islam.

Bagaimana tidak! Ormas-ormas Islam terbesar Indonesia, sebut misalnya MUI, NU dan Muhamadiyah, bukan hanya sekedar dipanggil ke istana untuk diajak bicara, tetapi, juga dikunjungi Presiden RI, Joko Widodo. Isi pesan yang disampaikan Presiden kita ini, sejatinya kita tidak pernah tahu. Tetapi bahwa ada pesan penting, itu pasti.

Namun secara samar dapat terlihat pesan moral apa yang disampaikan Presiden saat pertemuan itu terjadi. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari sikap pimpinan Ormas Islam yang bukan hanya sekedar melunak, tetapi, bagi ormas-ormas tertentu, malah dilarang untuk mengikuti aksi dimaksud. Belum lagi kalau soal urusan Presiden memanggil para petinggi partai dan kunjungannya ke beberapa lembaga strategis kenegaraan.

Loby Kurang Membuahkan Hasil

Hasilnya! Demo atau Do’a bersama tetap berjalan, dan umat secara halus menolak ajakan untuk tidak demonstrasi, termasuk tidak mengindahkan tidak syahnya shalat Jum’at di Jalan Raya. Jutaan umat Islam tetap kembali hadir di jakarta. Ini mengindikasikan setidaknya terpatri tiga  persoalan pokok keumatan dalam Islam, tentu bersama dengan ormas didalamnya. Ketiga persoalan dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama. Figur-figur kunci ormas Islam, tidak lagi mampu menjadi magnet umat –sekalipun hanya untuk komunitasnya–  hal ini terjadi, mungkin karena tarikan kepentingan baik politik, ekonomi, sosial dan budaya telah berjarak antara kepentingan rakyatnya dengan mereka yang berada dalam lapis upper structure kekuasaan. Dampak dari nalar ini, maka, pada spektrum kedua, kejadian ini akan membuat siapapun menjadi sadar, khususnya bagi kalangan politikus dan birokrasi negara, bahwa upper structure Ormas Islam dan masyarakat yang menjadi asuhannya itu, dalam jangka panjang, tidak lagi akan menjadi magnet penting dalam konstelasi politik dan budaya nasional. Rakyat menjadi demikian independen dengan wilayah kekuasaannya sendiri.

Dengan anggapan semacam ini, maka, pada lapis berikutnya, yakni pada lapis yang ketiga, pemerintahan Jokowi, sebenarnya telah berhasil membuat survey politik jangka panjang –tentu hal ini kalau mau dimanfaatkan beliau–, bahwa kejadian 212 ini, telah menjadi survey gratis misalnya dalam  kepentingan Pemilu 2019, akan potensialitas suara umat Islam yang sesungguhnya. Mereka ternyata memiliki kedaulatan tertentu dan tersendiri dengan elite-elite masyarakat, termasuk tentu dengan elite pimpinan ormasnya.

Keuntungan Joko Widodo

Mungkin karena analisa seperti inilah, akhirnya, Jokowi tampak ikhlas akan fenomena Ahok, mau dijadikan terdakwa atau tidak, dihukum atau tidak, tergantung hasil penelitian dan argumentasi para hakim di pengadilan. Yang Pasti, Presiden kita, yakni Jokowi, tampak tampil sebagai presiden cerdas karena telah berhasil membuat resume politik baik dalam kepentingan pribadinya maupun dalam kepentingan kebangsaannya. Inilah tanda jaman yang mengharuskan diri kita pada akhirnya sadar, dan kembali dituntut kesabarannya dalam menghadapi kesadaran yang sesungguhnya. ** Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.