3 Fase Kehidupan Manusia Dengan Alam

0 228

Untuk mengetahui fase kehidupan manusia dengan alam, sudah semestinya kita mengetahui posisi kita sebagai manusia. Manusia menjadi satu-satunya makhluk yang dalam dirinya memiliki kapasitas untuk menyandang predikat sebagai “Wakil Tuhan” di muka bumi. Agama mengajak sekaligus mengajarkan kepada ummat manusia bagaimana ia mampu mengenal dirinya.

Upaya pengenalan segala bentuk dimensi dan karakteristik manusia, pada akhirnya akan mampu mendekatkan seseorang pada asal mula penciptaan dan tujuan penciptaannya, sebagaimana Allah swt menjelaskan dalam surat Adz Dzariyat ayat 56: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Jika di perhatikan secara seksama, jelas ayat di atas menyebut bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah dengan hanya menyembah Allah semata. Jika manusia mampu menhayati sebagaimana tujuan dimaksud, maka segala daya dan upayanya mengelaborasi potensi kemanusiaannya akan mengarah pada pencapaian tujuan dimaksud.

Setidaknya, manusia akan mengalami tiga fase naturalistis (alami) dalam kehidupannya, diantaranya:

Fase Dependen

Fase dependen merupakan sebuah fase dimana manusia akan melakukan adaptasi terhadap lingkungan. Manusia masih berada pada posisi sebagai objek lingkungan yang sangat pasif dan dependen. Contoh paling nyata dan sangat mengagumkan adalah bagaimana ketika seorang bayi memiliki insting untuk meniru dan belajar dari lingkungannya. Sejalan dengan kematangannya, baik secara biologis ataupun mentalnya, pada akhirnya ia mampu menyesuaikan dirinya sendiri dengan lingkungannya. Secara alamiah, manusia untuk pertama kalinya menggantungkan hidup kepada kepada lingkungannya. Tentu hal ini mesti kita harus hargai dengan sebaik- baiknya.

Fase Adaptif

Fase adaptif juga dapat di sebut sebagai fase belajar dan meniru. Fase ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari dependensi terhadap lingkungan. Dalam fase ini, Manusia dapat menyimak dan mencatat serta meresapi segala fenomena dan pengalaman yang terjadi dalam lingkungannya. Mereka menjadikan itu semua sebagai sesuatu yang sangat berharga dan tak akan pernah dapat di nilai dengan apapun.

Penyesuaian diri (adaptasi) dengan lingkungan, sesungguhnya adalah bagian dari transaksi diri dengan segala kemampuan manusia terhadap kekuatan lingkungannya. Sekalipun, proses adaptasi ini untuk pertama kalinya masih diperlukan sebuah penjagaan dari orang dewasa.

Interaksi yang dilakukan secara berulang kali dengan lingkungan mampu membawa kematangan pengalaman terhadap diri seseorang. Hal ini kemudian, membuat manusia secara sadar nyaman terhadap lingkungannya. Pada posisi ini, manusia masih berada pada posisi dependen, namun dalam proses dependensi itu terdapat upaya aktif untuk  tidak dapat di kuasai sekaligus melakukan penyelarasan diri.

Fase Kreatif

Fase kreatif menjadi sebuah fase paling unggul dalam proses kehidupan manusia. Status manusia sebagai khalifah fil ardh mulai menampakkan dirinya. Manusia melakukan aktualisasi kemanusiaannya terhadap alam sekitar. Mereka mulai menguasai bahkan mengarahkan lingkungan (alam) pada situasi yang diinginkannya. Mereka mampu mengelola bahan mentah menjadi bahan jadi. Mereka juga memiliki kemampuan untuk mengolah alam mati menjadi sesuatu yang bergerak. Kayu mampu di olah menjadi meja, kursi dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya, mereka mampu mengolah biji besi menjadi berbagai macam bentuk, seperti sepeda motor, mobil dan pesawat terbang. Dalam posisi ini manusia mampu menata sebuah situasi menjadi sebuah kondisi. Di letak inilah manusia menunjukkan superioritasnya di hadapan alam. Inilah juga fase paling kritis manusia terhadap lingkungannya. LM

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.