Layakkah Kamu Jadi Pemimpin? Pahami 3 Kualitas Seorang Pemimpin

0 131

“Menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak semua orang mempunyai kesamaan dalam menjalankan kepemimpinannya”, (Winardi, 2001). Karena memimpin itu adalah seni. Dimana gaya, proses, dan pola kepemimpinan itu berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Maka menjadi sebuah hal yang wajar jika kepemimpinan ini menjadi diskusi yang kompleks dan tanpa akhir.

Setiap pemimpin harus siap untuk dinilai baik ataupun buruk, mampu diperhitungkan karena prestasi atau caci maki, pemimpin yang dicintai atau dijauhi. Sehingga dari pertanyaan-pertanyaan inilah, kita bisa fahami terminologi pemimpin harapan yang kita butuhkan.

Selama bertahun-tahun menekuni ruang lingkup, masalah dan analisa seputar kebijakan publik, terutama dalam kajian kepemimpinan, penulis bisa menyimpulkan. Bahwa, seorang pemimpin efektif tidak bisa terlepas dari apa yang penulis sebut dengan 3 Tas yaitu kapasitas, kualitas, dan fleksibilitas sebagai seorang pemimpin.

Membedah hal pertama yaitu kapasitas. Penulis teringat dengan apa yang dikatakan oleh John Maxwell tentang kepemimpinan yang berarti kapasitas untuk menerjemahkan visi menjadi kenyataan. Proses menerjemahkan visi ini juga harus didukung dengan kemampuan merinci misi organisasi secara efektif serta efisien. Sehingga dalam setiap prosesnya, seorang pemimpin harus mampu mencerminkan pikiran, tindakan dan teladan positif bagi bawahannya agar upayanya itu bisa berhasil secara maksimal.

Beralih pada kata kunci Tas yang kedua yaitu kualitas, Stephen Covey (2006) mengembangkan 3 kebiasaan yang menentukan kualitas diri seorang pemimpin. Pertama, bersikap proaktif maksudnya adalah seorang pemimpin harus bergerak aktif, responsif dan mendahulukan kepentingan publik.

Kedua, membangun visi, misi dan identifikasi peran diri. Lagi-lagi para ahli menekankan adanya visi dan misi yang jelas. Semua itu agar kepemimpinan akan berjalan di atas koridor utamanya yaitu efektif dan efisien. Tidak mungkin seorang pemimpin mengabaikan dua prinsip utama dalam suatu organisasi. Dimana dia pada saat itu menjadi pucuk dari “Sistem Respiratori” yang ada dalam tubuh organisasi. Kenapa disebut dengan sistem respiratori? Karena sebagaimana sistem kerja tubuh, organisasi dalam hal ini juga menggunakan prinsip yang sama yaitu produksi, distribusi dan konsumsi yang harus digunakan secara tepat agar organisasinya semakin berkembang.

Dan ketiga, manajemen waktu. Artinya, seorang pemimpin harus disiplin dalam mengelola organisasinya sebab menurut Leonard, organisasi juga memerlukan aturan yang menyeluruh tentang bagaimana kualitas organisasi itu menjalankan seluruh fungsi dalam cara yang terkoordinasi.

Kata kunci Tas yang ketiga yaitu fleksibilitas. Artinya, seorang pemimpin kadangkala harus memperhatikan teori Y –dari pendapat Gregor- (lihat Muninjaya, 2004). Dimana menurut teori ini seorang pemimpin harus bisa mengasumsikan bahwa, bawahan itu senang bekerja, bisa menerima tanggung jawab, mampu mandiri, mampu mengawasi diri, mampu berimajinasi dan kreatif. Sehingga, seorang pemimpin bisa sedikit santai untuk mendorong bawahannya dalam bekerja.

Meskipun demikian, teori kepemimpinan santai ini tetap tidak bisa menghilangkan peran dari seorang pemimpin. Pemimpinlah yang seharusnya memang bisa mempengaruhi bawahannya agar bersedia untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi. Baik  itu dengan memberikan ruang yang bebas kepada bawahan untuk mengelola cara kerja dan pelaksanaan teknisnya.

Berdasarkan ketiga kata kunci Tas ini; kapasitas, kualitas dan fleksibilitas seorang pemimpin ini diharapkan mampu melewati berbagai hambatan dan tantangan bagi organisasi yang dipimpinnya. Meminjam pendapat Pak Kalend Osen yang mengatakan bahwa “Seorang pemimpin besar terlahir dari hambatan yang luar biasa (the great leader comes from the great obstacle).”

Penulis berharap keberhasilan seorang pemimpin untuk meretas hambatan-hambatan yang dihadapinya itu bisa membuatnya semakin bijaksana dalam menyikapi dan merenungi tentang kepemimpinannya. Karena itu, anggaplah kepemimpinan anda saat ini adalah kepemimpinan terakhir anda.

Jika anda berfikir bahwa kepemimpinan anda saat ini adalah saat terakhir bagi anda. Maka mungkin saja anda akan sangat berupaya untuk menjadi seorang pemimpin yang visioner, bertanggung jawab, berintegritas, memiliki bakat dan ketulusan yang luar biasa untuk memberikan segala yang terbaik dalam kepemimpinan terakhir anda.

Jika saja penderitaan rakyat jelata adalah cermin terbaik bagi seorang pemimpin sejati untuk melekatkan kebaikan dalam jiwanya. Mengokohkan langkah kebenaran dan menegarkan diri terhadap jalan kebijaksanaan. Maka siapkah anda menjadi pemimpin terakhir yang bekerja secara optimal untuk agenda besar pembangunan. [May Ashali]


BACA JUGA : Feodalisme, Kekuasaan Dan Kepemimpinan
Komentar
Memuat...