3 Rekomendasi untuk Pembaharuan Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Pembaharuan Pelajaran Pendidikan Agama Islam
0 121

Sikap toleransi seharusnya tidak hanya dilakukan sekedar untuk mencegah konflik sosial. Dalam tulisan yang berjudul What Toleration Is (2004) karya Andrew Cohen, memberikan arti yang luas mengenai toleransi. Beliau menjelaskan bahwa toleransi ialah tindakan seseorang yang menahan diri secara sengaja dan berprinsip dari aktivitas yang mengikut sertakan mereka yang berlawanan di berbagai situasi yang melibatkan keberagaman. Di saat individu tersebut meyakini ia memiliki kekuatan untuk ikut campur. Dikutip penulis (26/11)

Institusi pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan prilaku toleransi. Sehingga situasi dan kondisi keberagaman bisa di atasi dengan mudah. PPIM UIN Jakarta merekomendasikan tiga perubahan dalam konteks pendidikan agama terutama untuk kurikulum PAI.

Materi

Dalam materi harus ada pengembangan literasi keagamaan melalui lintas agama, untuk mengurangi prasangka negative yang sudah tertanam terhadap kelompok agama lain.

Berpartisipasi Aktif

Siswa/i juga harus dibiasakan aktif dalam aktivitas yang memberikan pengalaman keberagaman. Seperti saling menceritakan pengalaman agama mereka masing-masing. Nilai-nilai kebaikan yang di ajarkan agama lain. Tanpa adanya rasa bahwa agama mereka paling baik. Tanpa ada rasa mengagung-agungkan.

Pembelajaran Interaktif

Rekomendasi terakhir yaitu dalam aktivitas pembelajaran harus dibuat interaktif dengan mengkombinasikan berbagai bentuk materi pembelajaran.

Mastuki (Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Sekrertariat Jendral Kemenag), menjelaskan bahwa sedang dilakukan berbagai strategi untuk PAI yang moderat dalam materi, proses pembelajaran, rekrutmen guru dan pendekatan kepada anak anggota RohIs.

Dalam aspek materi buku PAI yang pendekatannya lebih condong pada moderasi ajaran Islam sedang diuji cobakan di 8 wilayah dalam dua tahun terakhir. Materi toleransi, PAI dirancang agar membiasakan siswa/i  nya menghargai keberagaman. “Dikenalkannya pemeluk-pemeluk agama keada siswa. Karena ini PAI di sekolah, maka akan lebih muda diterapkannya. Karena tidak homogen, anak-anak yang beragama Islam dapat bertemu dengan anak-anak non Islam” jelas Mastuki kepada Tirto, dikutip penulis (26/11)

Untuk melakukan proses rekrutmen dan seleksi guru-guru PAI, Kementrian Agama juga berkomitmen melalui pemberian materi yang focus terhadap Islam secara meluas dan moderat. Menurut Mastuki, selain materinya perlu diperhatikan pula prosedur pengangkatan guru Agama yang saat ini belum terpusat.

Selain penjelasan diatas, diskusi mengenai tema kebangsaan dan hubungan Islam dengan Negara lain telah dilakukan dengan anak-anak Rohis. Mastuki menyatakan bahwa informasi tentang keagamaan yang radikal biasanya bermula dari anggota Rohis dan mentor mereka, diluar institusi penddikan dan sumber internet yang belum terverifikasi.

Komentar
Memuat...