Cara Bangkit Dari Keterpurukan

0 3

Sejak dua minggu yang lalu,  teman dekat saya, sering bolak balik menghampiri rumah kami. Rupanya, hendak menawarkan rumah yang dia bersama keluarganya selama ini tinggal. Ia hendak balik kampung. Ia ingin meninggalkan rumah yang telah dihuninya selama kurang lebih sembilan tahun. Rumah di mana hampir semua anaknya dilahirkan di situ.

Jangan Menjual Asset

Mas …. Apa mungkin saya membeli rumah yang dalam kegiatan sehari-hari, justru memproduksi rumah dan menjulnya kepada orang lain? Saya kira, agak sulit tawaran itu dapat dipenuhi. Masalahnya, mengapa mau menjual rumah? Rupanya dia baru resain dari perusahaan yang selama ini, dia bekerja dan mencurahkan segala perhatiannya untuk membesarkan perusahaan dimaksud. Sudah sepuluh tahun berkarier di situ. Ternyata, berakhir dengan pilihan yang sangat naif.

Saya faham atas apa yang menimpanya. Dia adalah pekerja keras. Hampir dalam perjalanan yang demikian panjang itu, beberapa kali saja ia datang ke Masjid saking sibuknya. Hanya ketika sedang libur, dia bermunajat kepada Tuhan di Masjid yang sering kehilangan imam. Salah satu doanya, adalah memohon agar perusahaannya dapat berjalan dengan baik. Sedikit memberi tekanan, saya katakan: Jika suatu hari, anda bertemu dengan masalah sejenis ini, sementara tidak ada lagi yang layak dijual, kecuali misalnya hanya televisi 29 inci yang suka ditonton seluruh keluarga, apa anda juga akan menjualnya? Dia bingung dengan menampilkan muka yang agak kuyu dan kurang harapan.

Jauhi Rasa Takut

Jangan takut dan pusing menjalani hidup. Yang berat itu bukan beban hidup yang menimpa, tetapi pikiran anda sendiri yang terbebani. Coba bebaskan semua beban itu dari pikiran anda, saya yakin langkah yang akan anda tempuh menjadi mudah. Anda memiliki banyak teman. Itulah investasi yang dalam bahasa bisnis sering disebut sebagai knowledge bassed society. Jika anda, istri dan anak-anak merasa bahwa anda harus kembali bekerja di sektor formal, datanglah ke komisaris ini atau itu, atau datang ke direktur utama perusahaan ini dan itu. Bahkan kalau anda ingin menjadi dosen, saya kira, anda tinggal datang bercurhat yang sama ke Rektor A dan seterusnya. Mereka akan membantu dan faham situasi yang dihadapi anda.

Jika hal itu benar-benar dilakukan, hanya jalan kecil yang akan anda dapatkan. Masalahnya, kita butuh jalan besar. Anda sudah terlalu cape menjalani gang-gang kehidupan yang sempit. Karena itu, lebih baik belajar jualan dan belajar memproduksi sesuatu. Yang penting, jangan malu berbuat sesuatu sekalipun sangat kecil dan dianggap hina oleh orang lain. Suruh saja istri jualan nasi kuning atau nasi kucing dijajakan di setiap pagi. Pendapatan anda selama bekerja dengan gajih 5 juta per bulan, akan terpenuhi oleh kerja istri di pagi hari. Selebihnya, tentu anda juga jualan pada sektor-sektor yang lebih makro.

Teman dan tentu junior saya itu, akhirnya diajak untuk membuka matahatinya. Kami bicara mulai dari pembuatan kompos tinja ayam, keripik singkong dan pisang, sampai kemungkinan mendirikan penerbitan di Bandung. Besoknya, ternyata istrinya mulai jualan nasi kuning. Beberapa institusi mulai ada yang pesan nasi kuning produk istrinya. Sementara itu, dia sendiri mulai jualan produk tertentu, sambil berusaha bagaimana agar dia menjadi agen pisang nangka.

Memang langkahnya belum berhasil maksimal. Tetapi matanya mulai kembali bersinar dan tubuhnya mulai kembali tegak. Pikirannya mulai tenang. Itulah modal penting. Sendiri bolak-balik di beberapa kabupaten Kota di Jawa Barat. Mencari bahan-bahan yang dia perlukan untuk menjadi agen pisang nangka. Kenapa pisang nangka? Kami membutuhkan setidaknya 1,4 ton per hari untuk keperluan produksi keripik. Jika soal buah pisang saja mampu dia penuhi, lalu dia mengambil selisih 500 rupiah saja, maka, setidaknya dia bakal meraup uang sebesar 21 juta per bulan. Hal ini setara dengan kenaikan gajihnya sebesar 400 persen. Dengan asumsi itu, rumahnya tidak jadi dijual. Secara asumtif, dia merasa bahwa kota ini masih memberi harapan kepada dirinya untuk berkiprah.  Selamat bekerja kawan …

Komentar
Memuat...