Inspirasi Tanpa Batas

4 Tipe Kepribadian Peserta Didik

0 721

Tipe Kepribadian Peserta Didik: Menjalankan Tugas dan Pekerjaan dengan selalu memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral, yang diterjemahkan dengan bertindak jujur, menepati janji dan bertindak konsisten. Prinsip ini akan berkaitan langsung dengan kepribadian seseorang. Berikut akan digambarkan beberapa tipe kepribadian, di antaranya:

Peserta Didik Suka Menuntut Lebih Jauh

Hal ini akan dicirikan dengan kecenderungannya yang vokal dan cenderung emosional, tidak peduli (corporate) dengan aturan dan cenderung demonstratif. Bila berhadapan dengan siswa model demikian, guru yang menjadi pengajar tentu tidak perlu menghadapi siswa seperti dengan cara yang berlebihan. Hanya saja dalam internalisasi, guru diperlukan berjabat tangan dengan tegas, tatap mata secara langsung, jaga jarak, jaga penampilan dan tentu menjaga wibawa.

Peserta Didik Cenderung Menciptakan Kehebohan

Hal ini akan dipercirikan dengan keinginanya untuk berbicara, butuh pengakuan sosial, bicara penuh antusias dan murah senyum. Sikap guru terhadap siswa model demikian dilakukan dengan cara: interupsi, panggil nama, sering simpulkan pembicaraan, kontrol pembicaraan dengan pertanyaan tertutup.

Peserta Didik Yang Tenang

Hal ini akan dicirikan dengan stabilitas emosi yang tinggi, memiliki loyalitas yang baik, santai dan tidak suka perubahan. Terhadap siswa atau peserta didik yang demikian, guru sebaiknya menawarkan solusi praktis, bersikaplah santai, jaga suasana dan tetap tenang.

Peserta Didik Yang Patuh

Hal ini dipercirikan dengan kebiasannya yang perfeksionis, selalu sesuai dengan aturan, butuh informasi dan solusi. Sikap guru ketika berhadapan dengan siswa yang demikian adalah jangan mengajak dia untuk ngobrol (Guru harus lebih banyak meng-iya-kan tanda setuju terhadap siswa dimaksud) dan selalu menjaga jarak.

Karakter peserta didik di atas, ditambah dengan sikap guru yang harus ditempuh, tujuan akhirnya adalah agar guru tetap mampu terus menciptakan suasana yang  cool and calm karena amarah tidak menyelesaikan masalah. Ingat pula bahwa peserta didik adalah, Customer Service guru dan ia adalah juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati.

Sikap ini, tetap penting dipertahankan, dan guru terus diupayakan untuk “menjaga” dan “melindungi” peserta didik agar tetap dapat dianggap: Penting, ditanggapi secara serius, diperlakukan dengan hormat,  memberikan pelayanan yang efisien dan terbaik, merasa tetap didengarkan, solutif dalam memecahkan masalah, dan tetap merasa memperoleh bantuan yang kompeten. Intinya guru harus memuaskan klien peserta didik sebagai klinnya.

Tawaran Solusi

Solusi lain yang dapat ditawarkan kepada siswa dengan cara kerja di atas, adalah peserta didik harus terus memperoleh pertolongan dari guru dalam bentuk: Bantuan, penghargaan dan pengakuan, rasa simpati dan dukungan, dengarkan dengan penuh empati dan pengertian, kepuasan, saling percaya, tampilkan wajah yang bersahabat, anggap peserta didik sebagai orang penting, dan pelayanan dan pembelajaran yang berkualitas.

Cara Menangani Keluhan Peserta Didik

Tujuan dengan sejumlah cara yang ditempuh di atas, dalam implementasi internalisasi, guru juga dituntut memiliki kemampuan menangani keluhan mereka dengan cara:

  1. Tenang dan dengarkan dengan baik
  2. Jangan tunda penanganan
  3. Cari akar masalah (istilah komputernya : explore clien)
  4. Akui perasaan peserta didik dalam bentuk empati
  5. Tanyakan solusi yang diinginkan peserta didik
  6. Guru perlu mengunakan solusi
  7. Upaya guru tidak “mempermalukan” peserta didik, baik langsung maupun tidak langsung.

Teori lain yang dapat digunakan untuk menganliasis fungsi atau manfaat internalisasi, dapat dilacak dari teori penguatan yang dikembangkan Skiner. Teori ini lebih banyak menekankan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat memperkuat atau memperlemah seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Menurut teori ini, kuat atau lemahnya dorongan bagi seseorang melakukan suatu tindakan banyak tergantung pada faktor-faktor yang memperkuat atau memperlemah dari hasil tindakannya.

Apabila suatu tindakan menghasilkan suatu yang memuaskan, maka tindakan itu cenderung akan diperkuat. Dan sebaliknya, apabila suatu tindakan menghasilkan sesuatu yang kurang memuaskan, maka tindakan itu cenderung akan diperlemah. Perinsip ini oleh sekiner disebut sebagai operant conditioning. Berdasarkan teori ini setiap rangsangan atau setimulus yang sampai pada diri seseorang akan diberi sambutan atau respon. Respon yang meberikan kepuasan akan diperkuat dan respon yang tidak memuaskan akan diperlemah. Menurut Skiner, setiap respon yang terjadi dari suatu setimulukan, akan menjadi setimulus baru yang mendorong berperilaku. Dalam konseling klien hendaknya diberikan setimulus atau rangsangan yang dapat memberikan kepuasan, dan selanjutnya diberikan penguatan terhadap respon-respon yang dinilai baik.

Oleh: Dr. H. Djono, MA

Komentar
Memuat...