Inspirasi Tanpa Batas

5 Pemahaman Dan Asumsi Yang Salah Tentang Entrepreneurship

0 33

Kesalah pahaman tentang dunia wirausaha (entrepreneurship) telah banyak beredar di luar sana. Tak jarang berbagai asumsi yang kurang berdasar tersebut, membuat orang memiliki persepsi dan cara pandang yang tidak tepat dan menyeluruh tentang entrepreneurship.

Entrepreneurship secara definisi dijelaskan sebagai sebuah penciptaan manfaat/ nilai melalui inovasi. Menurut Peter F. Drucker, inovasi adalah instrumen spesifik dari entrepreneurship, sebuah tindakan yang memberikan sumber daya yang semula menganggur menjadi sesuatu yang memiliki kapasitas/ kemampuan untuk menghasilkan kekayaan dan juga memperbaiki keadaan.

Berikut adalah 5 kesalahpahaman yang perlu Anda ketahui mengenai entrepreneurship:

Berwirausaha sama dengan berdagang

Tidak semua pemilik bisnis dari mikro dan kecil menengah (UMKM) adalah sang entrepreneur, menurut Peter F. Drucker. Mengapa? Karena inovasi adalah instrumen khusus para entrepreneurship. Tak semua pedagang adalah wirausaha/entrepreneur. Jika pedagang tersebut menerapkan inovasi dalam berbisnis, barulah ia dapat disebut sebagai entrepreneur. Jika hanya menjalankan bisnis seperti kebanyakan bisnis yang lain dan sudah lazim ditemui di kebanyakan orang, mereka belum dapat disebut sebagai sang entrepreneur.

Entrepreneurship juga berkenaan dengan suatu penciptaan nilai/ manfaat (value). Dalam berbisnis, menciptakan manfaat yang dapat dinikmati konsumen juga sama pentingnya dengan bagaimana meraup untung.

Belajar entrepreneurship adalah belajar membuat (inovasi)

Seseorang tak perlu menjadi produsen barang untuk menjadi sosok entrepreneur. Keterampilan memasak untuk seorang entrepreneur kuliner, misalnya, bisa jadi sangat berguna dalam mendirikan dan menjalankan bisnisnya sehari-hari. Namun, tanpa memiliki keterampilan memasak yang tinggi pun, seseorang masih dapat menjalani bisnis kuliner dengan baik. Asalkan ia punya kreativitas dan inovasi yang berbeda dari yang lain!

Yang terpenting dalam memulai bisnis adalah modal

Dana bukan sumber masalah utama. Saat Anda tidak mempunyai modal yang berlimpah, anggap itu sebagai sebuah cambuk untuk Anda berkreasi. Kreativitas akan lebih terpacu saat bermacam batasan ada di sekitar kita. Dan itu telah terbukti dengan adanya banyak entrepreneur sukses yang memulai usaha dengan modal yang minim, bahkan nol. Syaratnya? Miliki integritas, tekad dan kesungguhan Anda untuk bekerja keras dan tentunya harus memiliki jejaring bisnis yang luas. Itu modal tidak kasat mata yang tidak kalah pentingnya dengan modal uang.

Belajar entrepreneurship adalah belajar materi jurusan sekolah bisnis

Sebagai sebuah bidang keilmuan dan pemilihan jurusan, ekonomi dan manajemen bisnis sering menjadi sang primadona di berbagai kampus baik di dalam dan juga luar negeri. Namun, sayangnya lulus dari sekolah bisnis atau jurusan ekonomi, manajemen dan sejenisnya tak serta merta membuat seseorang bermental entrepreneur dan pasti dapat bekerja sebagai entrepreneur. Dibutuhkan lebih dari sekedar gelar akademis dan kuliah dalam kelas sebanyak SKS tertentu. Memang sangatlah ironis, karena masih banyak orang mengira dengan belajar ekonomi dan manajemen bisnis, seseorang pasti dapat mendirikan dan menjalankan bisnisnya sendiri.

Bagaimana bisa? Karena entrepreneurship adalah suatu ilmu yang harus diamalkan. Ia tak bisa dipelajari secara teoritis saja. Tidak cukup mempelajari entrepreneurship hanya dengan mengetahuinya (tahapan “to know”) dari buku atau dari pemikiran orang lain. Anda harus turun ke lapangan, mempraktekkannya secara langsung (tahapan “to do”). Hingga akhirnya kelak, Anda akan mencapai tahapan “to be”, menjadi seorang entrepreneur yang sebenarnya.

Saya adalah praktisi bisnis (karyawan) maka saya akan mampu buka usaha

Andal menjalankan bisnis (business operation) belum menjamin seseorang pasti lihai dan jago dalam berwirausaha. Meski Anda seorang karyawan paling cemerlang dan berprestasi sekalipun di perusahaan orang lain, Anda masih perlu belajar untuk mengubah pola pikir dan perilaku Anda menjadi lebih entrepreneurial. Sederhananya, pola pikir dan perilaku karyawan berbeda dari entrepreneur. Walaupun mengetahui dan memahami seluk beluk dijalankannya sebuah usaha, Anda masih harus bekerja keras mengubah cara melihat menjadi lebih entrepreneurial. Misalnya, lebih proaktif dalam menjemput peluang daripada menunggu instruksi dari atasan. (dhirga)

Komentar
Memuat...