Inspirasi Tanpa Batas

5 Alasan Ini Yang Membuat Kamu Berpikir Kembali Jika Bercita-cita Jadi Presiden Indonesia

0 32

Konten Sponsor

Semasa kecil dahulu, sebagian di antara kita, jika ditanya oleh kedua orang tua, teman, kakak, tante saudara atau siapa saja. Apa cita-citamu? salah satu yang sering di sebut adalah, “Aku ingin jadi presiden.”  dengan semangat dan polos, walaupun tak terbayang di benak kita betapa cita-cita itu begitu susah untuk digapai. Tapi, namanya juga masih bocah di pikiran hanya muncul, jabatan presiden itu amat mulia, dikawal, ingin ini ingin itu mudah. Hal-hal tersebutlah yang membuat kita memasukkan posisi presiden sebagai salah satu cita-cita kita.

Namun, melihat realita yang ada saat ini jadi presiden nampaknya menghadirkan kerguan bagi kalangan muda, bagaimana tidak nyata di masyarakat penghargaan terhadap presiden yang notabenne sebagai simbol negara kini terkikis nyaris nol. Inilah salah satu yang membuat jabatan presiden itu tidak begitu populer di kalangan anak muda saat ini. Di waktu-waktu mendatang, mungkin kita masih akan menyaksikan banyak anak muda mencalonkan diri jadi pemimpin Indonesia. Apakah ada yang salah? Jelas tidak ada. Namun perlu di ingat 6 Alasan mendasar Gak mau jadi presiden Indonesia:

Jadi Presiden Indonesia Bisa jadi Korban Meme Seenaknya

salah satu foto yang tersebar di media sosial, yang mengolok-olok Presiden. Ini sangat ketelaluan.

Ada apa dengan etika masyarakat Indonesia? ketika ada yang janggal dan tidak sesuai atau ketika ada kesalahan dengan mudahnya mereka membuat meme yang menyindir bahkan mengolok-olok Simbol negara ini. Nampaknya ini sudah membudaya dimasyarakat. Di tengah gemerlap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang, namun degradasi moral tanpa sadar dilakukan. Pertanyaanya sederhana, bukankah presiden itu symbol negara? meme yang mengolok-olok jika disebar dimedia sosial, seluruh dunia tau? Kesanya seperti menguliti wajah sendiri kan? mari renungkan.

Warga Indonesia Begitu Mudah meyebar dan mengonsumsi Berita Hoax Tanpa Dicari Kebenaranya

Orang indonesia mudah meyebar hoax (foto : Kompas.com)

Memijam kata pepatah “siapa yang menguasi media dialah sesunggunya yang jadi pemimpin, siapa yang menguasai informasi dia akan menguasai dunia“. Isue hoax yang terus bergulir nampaknya menjadi konsumsi publik, pecitraan dan kesan menjatuhkan harga diri jabatan Presiden terus dilakukan beberapa media masa yang bergulir sejak era kebebasan pers Tahun 1998 silam.

Kebebasan Pesrs dan Paratai Politik Kebablasan “Terkesan CEO Media dan Pimpinan Parpol adalah Presiden?”

Lemahnya peraturan dan pengawasan terhadap Pers disinyalir menjadi sumber permasalahan dari isu yang bergulir dimasyarakat sangat mudah membalikan fakta bagi mereka yang menguasai media. Peran Partai politik yang berkuasa yang selalu harus didahulukan jadi bagian pemerintahan, pusingkan? apalagi ketersesuaian kulifikasinya dipertanyakan?. Maju dengan jalur Independen dalam pemilu presiden itu hal yang akan jadi sebuah olok-olok. Kata pepatah di atas nampaknya menjadi paradoks yang sulit diurai, ketegasan aturan memang perlu jangan sampai media dan partai politik menajdi alat menjatuhkan kewibaan Jabatan Presiden.

Selalu di Bicarakan Kejelekannya, Tidak Dihargai Kalau Sudah Jadi Mantan Presiden

Apa yang ada ingat tentang kepemimpinan presiden Ir. Soerkano? Soeharto? Bj. Habibie? Gudur? Megawati? dan SBY?. Yang mengakar adalah kejelekanya saja bukan? mengapa ini terjadi? “kebiasaan masyarakat indonesia membicarakan sisi negatif Presidennya tanpa dilihat prestasinya” paradigma ini mulai terus mengakar dimasyarat disadari atau tidak. Siapapun yang menjadi presiden nampaknya yang dingat pasti kejelekanya.

Akhirnya Menjabat Presiden Tidak ada Wibawanya?

Dari segelumit, masalah tersebut akhirnya timbul mosi tidak percaya kepada pemerintah yang timbul di masyarakat. Ini sebenarnya yang dikhawatirkan. Harus ada perubahan paradigma, semboyan Cinta Tanah Air jangan hanya yel-yel saja kita juga harus cinta pemimpinya. Kertiklah Presiden dengan memberi solusinya juga, bahu-membahu membangun negara ini.

Kesimpulanya, semua Point di atas harus segera di akhiri. Di waktu-waktu mendatang, semoga kita masih akan menyaksikan banyak anak muda yang mencalonkan diri menjadi pemimpin Indonesia. Walaupun alasan diatas bergulir terus dimasyarakat. Masyarakat Indonesia tentu harus lebih dewasa, siapapun presidennya tentu harus dihormati, dan siapapun presidennya harus menunjukan akhlak sebai pemimpin yang amanah, agar asumsi di masyarakat tentang jabatan presidan kembali jadi cita-cita yang mulia di generasi mendatang. [aL]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar