Inspirasi Tanpa Batas

6 Fenomena Pengetahuan Dalam Kehidupan Manusia

0 189

Konten Sponsor

Melalui proses penciptaan ini berjalan fenomena-fenomena tertentu yang saling bertukaran antara interaksi dan pengaruh dengan manusia. Sehingga berpengaruh pada kehidupannya dan ia terpengaruh dengan kreativitas dan kerja kerasnya.

Oleh karena itu, manusia perlu mempelajari watak, langkah dan cara mempengaruhi dan dipengaruhinya. Yaitu pengetahuan yang kontinu karena kontinuitas proses penciptaan dan fenomena-fenomena yang menyertainya. Adapun rincian fenomena ini adalah sebagai berikut:

Fenomena Berpasangan

Semua makhluk baik material ataupun immaterial melahirkan dua pasangan. Alam manusia, binatang, tumbuhan diungkapkan dengan laki-laki dan perempuan. Dalam benda padat dengan positif dan negatif. Dalam pemikiran dengan benar dan salah. Dalam perasaan memiliki pasang-pasangan yang beragam seperti rela-benci, bahagia-sedih dan seterusnya.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (Qs. Yaasiin [36]: 36).

Pasangan ini adalah sarana dan alat penciptaan. Pasangan terdapat dalam manusia, hewan, dan dalam alam pemikiran dan perasaan disertai dengan daya tarik jiwa, dan disertai dengan kesiapan fisik dan jiwa dan lingkungan yang mengandung keberlanjutan proses dan fungsinya. Adapun dalam benda padat maka pasangan daya tarik antara positif dan negatif dan ilmu alam selalu menemukan kelebihan dalam daya tarik dan spesifikasi.

Qur`an mengajukan keterangan dan contoh untuk pasangan ini seperti sebagai berikut:

“Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina)” (Qs. Huud [11]: 40).

“Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan” (Qs. Ar-Ra’d [13]: 3).

Pasangan dan jenis kelamin beraneka ragam yang menjelaskan penemuan penciptaan dan beraneka ragamnya kemampuan dan perbuatan pencipta.

Fenomena Kausalitas

Setiap penciptaan memiliki sebab yang Allah menjelaskannya dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat-Nya atau salah satu perbuatan dari perbuatan-perbuatan-Nya. Mengetahui sebab-sebab dan kekhususannya atau keahlian berinteraksi dengannya atau koeksitensi dengannya yang membuka horizon pengetahuan yang tidak terbatas.

Kedalaman dan aplikasi terhadap pengetahuan ini adalah realisasi dari meminta bantuan yang Allah perintahkan ketika befirman: “Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (Qs. Al Faatihah [1]: 5), dan manusia adalah yang mencari sebab-sebabnya.

Bahkan sampai tidak terjadinya efektivitas sebab mutlak atau bahwa ia adalah pencipta yang menyebabkan tidak berfungsinya sebab-sebab ini dalam keadaan-keadaan tertentu sehingga prosesnya berjalan tanpa penciptaan. Oleh karena itu, di antaranya adalah pasangan dan perannya dalam menghasilkan keturunan dan melahirkan: “Dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki” (Qs. Asy-Syura [42]: 50).

Manusia menduga –dalam lintasan sejarah- efektivitas sebab-sebab ini dan kemampuannya untuk memberi dan mencegah sebagaimana yang Skinner duga berkaitan dengan efektivitas titik yang berlangsung di bagian atas kotak dan kemampuannya menjatuhkan atau menahan biji gandung sehingga tidak mengenai gandum! Manusia menduga kemamampuan matahari, bulan, sungai, binatang dan manusialah yang mencegah dan memberi, dan kemudian membuatnya tetap mengamati semua itu –atau bersujud- dengan keningnya ketika pemberian berhenti.

Fenomena Keseragaman dan Keanekaragaman

Makhluk memiliki keseragaman dalam hal pertumbuhan dan asalnya, akan tetapi juga beraneka ragam sehingga tidak terbatas. Kita melihat bagaimana setiap wujud pemikiran dan wujud materi abjad bersifat terbatas dan darinya terdapat keanekaragaman yang tidak terbatas.

Terhadap taraf wujud pemikiran terdapat abjad bahasa sehingga setiap bahasa memiliki huruf-huruf yang terbatas kemudian pertama-tama huruf-huruf ini dikombinasikan dan dengan cara yang berbeda-beda membentuk kata dan dari kata terbentuk kalimat sehingga manusia sampai kepada puncak dalam perkembangan manusia dan menjelaskan apa-apa yang ada di sekitarnya dengan lafazh yang terbatas, kemudian dihasilkan konsep-konsep di antara manusia dan terbentuk ilmu dan diwariskan secara turun temurun.

Terhadap wujud materi terdapat abjad dengan sedikit huruf karena terbentuk dari unsur-unsur yang sangat terbatas yang menurut yang ditemukan ilmu tersebut saat ini ada tiga, yaitu proton, elektron dan nitron. Dari ketiga unsur tersebut yang merupakan blok materi yang mengandung muatan listrik, semua alam tersusun dari materi dan volumenya, sehingga ketiga blok ini menyatu dengan hubungan yang berbeda-beda untuk menjadi unsur.

Misalanya gas hidrogen yang tersusun dari satu proton di pusatnya beredar satu elektron di sekitarnya. Jika ditambahkan proton baru maka akan membentuk gas baru yaitu helium. Yang aneh adalah gas pertama –hidrogen- yakni gas yang menyala yang bisa menyebabkan semburan hidrogen kepada pemusnahan alam, sementara gas kedua –helium- adalah gas yang tidak aktif. Jika ditambahkan kepada helium maka proton baru membentuk logam.

Demikian juga kita melihat perubahan unsur dari gas yang terbang menjadi cair dan menghilang, menjadi tembaga yang mudah rapuh, menjadi tembaga yang keras menjadi cairan asam atau alkali, atau pengaruh yang besar kepada warna yang berbeda-beda, kepada reaksi yang beraneka ragam, kepada radiasi seperti dalam uranium dan radium.

Kepada keseragaman dan keanekaragaman ini firman Allah memberikan isyarat:

“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang”(Qs. Al Mulk [67]: 3).

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,” (Qs. Al Mu’minuun [23]: 91).

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (Qs. An-Nisaa` [4]: 1).

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Qs. An-Nuur [24]: 45).

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Qs. Az-Zumar [39]: 21).

Fenomena Evolusi

Penciptaan sempurna dalam beberapa fase dan tahap. Fase ini terdapat dalam bidang penciptaan secara umum, juga terdapat dalam penciptaan langit dan bumi sebagaimana yang dinyatakan Qur`an terjadi dalam enam tahapan di antaranya dua tahapan untuk bumi dan empat tahapan untuk langit.

Fase juga ada dalam penciptaan manusia sehingga berjalan dalam fase-fase sperma, segumpal daging, segumpal darah, kanak-kanak, remaja, dewasa dan tua. Masyarakat dan umat berjalan melalui fase kebangkitan, kejayaan dan kelemahan, kekayaan dan kemiskinan, kemajuan dan kemunduran, berpengetahuan dan kebodohan dan seterusnya dari fase masyarakat, ilmiah dan kejiwaan. Terdapat juga fase dalam penciptaan binatang, tumbuhan dan semua jenis lainnya.

Fenomena evolusi ini benar-benar berpengaruh dalam kehidupan manusia oleh karena itu ia membutuhkan pengetahuan tentang proses, faktor dan hasilnya. Fenomena evolusi ini membuka cakrawala dan bidang pengatahuan yang tidak terbatas dan tidak mungkin membatasinya atau berhenti pada satu titik tertentu.

Fenomena Integrasi Alam Ghaib dan Alam Panca Indera

Yang ghaib dalam Islam adalah alam wujud hanya saja tidak bisa disaksikan. Adapun alam indera adalah alam yang penampakan dan penyaksiannya telah sempurna oleh karena itu disebut alam nyata.

Hubungan antara alam ghaib dan alam nyata adalah hubungan yang saling menyempurnakan, saling mengisi dan saling memperbaharui. Hubungan ini diilustrasikan dalam dua hal. Pertama, dalil-dalil dan bukti-bukti alam ghaib ada dalam alam nyata.

Kedua, makhluk muncul dari alam ghaib kepada alam nyata, dan berpindah dari alam nyata kepada alam ghaib secara teratur dan dipaksa, dan di antara contohnya adalah kelahiran dan kematian di alam manusia, binatang dan tumbuhan, dan perubahan antara keadaan material dan keadaan keras dalam benda padat, dan muncul dan tenggelamnya peristiwa pada waktunya.

Fenomen ini –fenomena perputaran makhluk antara alam ghaib dan alam nyata adalah fenomena yang terus menerus yang berjalan melalui tahapan manusia yang panjang dan fenomen ini membuka cakrawala pembahasan, studi dan penelitian ilmiah yang tidak terbatas.

Fenomena Hukum

Aktivitas penciptaan dan perputaran antara alam ghaib, alam nyata dan perkembangan yang terjadi pada alam, manusia dan kehidupan sesuai dengan hukum yang pasti. Qur`an benar-benar mengingatkan akan fenomena ini dan membantah asumsi-asumsi yang menyalahinya.

Qur`an menegasikan kesembronoan dalam penciptaan, dan menolehkan penglihatan kepada hikmah dalam penciptaan, makhluk dan peristiwa. Qur`an menyatakan fenomena ini dengan berbagai macam nama. Kadang-kadang menamakannya dengan sunnan, qadr, haqq dan kadang-kadang ajal. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut:

“Sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,” (Qs. Al Ahzaab [33]: 38).

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah” (Qs. Shaad [38]: 27).

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main” (Qs. Ad-Dukhaan [44]: 38).

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Qs. Al Qamar [54]: 49).

“Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Qs. Al Furqaan [25]: 2).

“Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan” (Qs. Ar-Ruum [30]: 8).

Telah diketahui bahwa fenomena hukum adalah fenomena yang paling gamblang yang memudahkan pengetahuan dan aplikasi praktisnya.

Kenyataannya konsep sunnah, qada` dan qadar yang menunjuk pada penciptaan yang memiliki tujuan, dan wujud yang meyakinkan adalah pembukaan yang mendalam dalam perkembangan kehidupan manusia dan ia termasuk dari bashirah yang paling agung yang dibawa Qur`an.

Manusia sebelum itu mengasumsikan bahwa wujud itu tunduk kepada jutaan kekuatan yang perkasa yang tidak beraturan yang tidak mungkin memprediksi proses dan tidak mengetahui tujuannya. Oleh karena itu, manusia jelas-jelas menyimpang, menolak dan nihilisme. Demikianlah masalah tertolaknya filsafat eksistensialisme dalam peradaban modern karena akar Yunani dan Romawi dalam filsafat ini.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar