Inspirasi Tanpa Batas

7 Anak Generasi Zaman Ago yang Sudah Masyhur Sejak Dini

0 35

Konten Sponsor

Sekarang ini Indonesia telah di gemparkan oleh anak-anak yang dikenal sebagai generasi kids zaman now. Tidak lain karena kelakuan-kelakuan aneh yang selalu bikin banyak orang dewasa menggelengkan kepala. Seperti apa yang sudah di jelaskan di artikel “Kids Zaman Now” .

Oleh karena itu penulis dibuat penasaran oleh anak-anak sebelum generasi zaman now sekarang ini. Apakah kelakuan mereka sama seperti anak-anak zaman now kebanyakan atau sebaliknya ya?.

Untuk bisa menjawab pertanyaan diatas. Penulis mencari beberapa sumber tulisan mengenai anak-anak pada abad ke 16-18 yang penulis sebut sebagai generasi kids zaman ago.

Dalam beberapa tulisan tersebut penulis temukan fakta. Bahwa ternyata, kids zaman ago lebih banyak membuat orang-orang dewasa zaman ini merasa malu. Terutama penulis. Bukan karena kelakuan kids zaman ago yang sama anehnya dengan kids zaman now. Melainkan karena kemampuan orang-orang dewasa zaman ini yang belum sempat mencapai apa yang sudah dilakukan oleh kids zaman ago.

Terutama dalam dunia literasi, syair, sastra, novel, drama dan sejenis lainnya. Bayangkan mulai sejak dini mereka telah masyhur dengan dunia yang seperti itu. Bukankah itu membuat kita sebagai orang dewasa yang lahir di generasi kids zaman now menjadi malu dan minder?.

Mereka dari sejak dini membaca, berfikir, menulis dan memuaskan hati banyak orang, tanpa hambatan dan rintangan, dan tanpa faktor-faktor lain yang dijadikan sebagai peganggu.

Daripada bikin kalian penasaran, yuk kita simak bersama. Beberapa anak-anak kids zaman ago yang sudah masyhur sejak dini. Diantaranya adalah :

1. Sir Thomas Wyatt penyair Inggris yang lahir pada tahun 1503 di Kent, Inggris dan meninggal pada tanggal 6 Oktober tahun 1542 di Sherborne, Dorser. Ia telah meraih gelar M.A dari St. Jhon’s Collage Cambridge saat berusia 17 tahun. (Wilson Nadeak : 38)

Sajak-sajak beliau yang sebagian besar bertemakan cinta banyak dikutip orang banyak. Beliau mampu memperkenalkan sonata yakni sajak yang terdiri dari empat bait. Dua bait pertama berjumlah empat baris. Sedang dua bait terakhir terdiri tiga baris. Secara keseluruhan berjumlah 14 baris yang memiliki satu pikiran pokok.

2. Francis Beumont yakni seorang anak yang luar biasa. Pada usia 12 tahun ia telah menulis dua buah kisah tragedi. Lakon-lakon dalam kisah tragedi tersebut di mainkan di London pada usianya yang ke 17. (Wilson Nadeak : 38)

3. Abraham Cowley lahir pada tahun 1618 di London, Britania Raya. ia Meninggal pada tanggal 28 Juli 1667, Chertsey, Britania Raya.

Pada usia 10 tahun sudah menjadi seorang penyair. Semua karyanya banyak disukai orang. Kemudian pada usianya yang ke 11 tahun, dia menulis epic romantic dengan hasil yang “matang”. Ketika beranjak usianya yang ke 15 tahun kumpulan sajaknya sudah diterbitkan. (Wilson Nadeak : 38)

4. Matthew Prior lahir pada tanggal 21 Juli 1664 di London, Britania Raya dan meninggal pada tanggal 18 September 1721 di Cambrideshire, Britania Raya. Ia telah menterjemahkan buku Horace dan Ovis kedalam bahasa Inggris pada usia ke 13 tahun. (Wilson Nadeak : 38)

5. Alexander Pope pada waktu berusia 10 tahun memulai menterjemahkan beberapa literasi dari bahasa Yunani ke Latin. Pada usianya yang ke 12 tahun ia menulis “Solitude” yakni sajak yang sangat digemari orang. Ketika dia sudah mencapai usia 17 tahun ahli-ahli sastra menerima ia dalam kelompok mereka. (Wilson Nadeak : 38 )

6. Franscoise Sagan lahir pada tanggal 21 Juni 1935 di Cajarc, Perancis. Meninggal pada tanggal 24 September 2004. Ia sudah menjadi novelis sejak usia belasan tahunnya. Novel dia yang paling terkenal adalah “Bonjour Tristesse”. (Wilson Nadeak : 38,39)

7. Pamela Moore yang telah menulis Chocolates for Breakfeast saat usinya masih menginjak belasan tahun. Ketika buku itu telah diterbitkan. Penerbitnya berkata “ Dewasa ini anak-anak gadis menulis buku yang satu generasi sebelumnya tidak diperkenankan untuk membacanya.” (Wilson Nadeak : 39)

Kesimpulan Penulis

Seperti apa yang telah dituangkan dalam buku “The Art of Loving” karya Erich Fromm tentang pembelajaran Seni yang dibagi menjadi dua. Diantaranya adalah pertama penguasaan atas teorinya, kedua adalah penguasaan atas Praktiknya. (Erich Fromm : 6) Dan menjadi ahli dalam seni bisa terjadi kepada siapapun. Itupun, jika banyak melakukan praktik, sampai pada akhirnya hasil pengetahuan teoritis dan hasil praktik mendarah daging. (Erich Fromm : 17)

Menurut pemahaman penulis dari yang sudah di jelaskan dalam buku Erich Fromm tersebut. Maka penulis beranggapan bahwa menulis adalah sebuah seni. Dimana kedua hal antara menguasai teori dengan membaca dan menguasai prakteknya dengan menulis adalah sebuah keharusan. Menjadi ahli seni dalam menulis solusinya tidak lain adalah harus banyak menulis.

Dari semua yang sudah diuraikan diatas. Penulis bisa menarik kesimpulan tentang apa yang sudah anak-anak di generasi kids zaman ago lakukan.

Bahwa, mereka mustahil masyhur dengan menulis tanpa menguasai beberapa teori yang dituangkan oleh buku. Begitu juga sebaliknya. Mereka mustahil masyhur dengan menguasai beberapa teori yang dituangkan oleh buku tanpa menulis. Artinya bahwa mereka tidak mungkin bisa menulis sehebat itu tanpa membaca dan sebaliknya.

Jika ada yang menyatakan bahwa seseorang bisa menjadi penulis hanya karena mempunyai bakat menulis. Ataupun jika ada seseorang yang mempunyai bakat menulis dan merasa tidak penting untuk membaca melainkan hanya perlu menulis saja. Penulis akan menentangnya !.

Kalian harus tahu, bahwa Pisau yang dilahirkan dengan ketajamannya jika dibiarkan begitu saja. Tanpa di asah pasti akan tumpul bahkan berkarat bukan?. Begitu juga dengan manusia walaupun ia diberikan bakat tertentu dari sejak lahir jika tidak mau berlatih, sama saja hal yang bodoh bukan?.

Oleh karena itu, jika kalian ingin mencapai sesuatu jangan pernah fikirkan apapun yang akan menimbulkan ketidak percayaan diri kalian. Karena ujung-ujungnya pasti kalian akan  “Stuck” lalu berhenti berusaha dan bekerja keras.

Nah, jadi. Kalian harus terus berfikir positif dan belajar ya. Jangan pernah menyerah dan jangan pernah berhenti !. Lakukan semua itu dari sekarang !.

Sumber :

Wilson Nadeak. 2006. “Bagaimana Menjadi Seorang Penulis yang Sukses”. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Erich Fromm. 2005. “The Art of Loving”. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar