Inspirasi Tanpa Batas

7 Dimensi Untuk Mencapai Manusia Paripurna

0 679
  • justify”>Menjadi seseorang yang sempurna dalam hidup merupakan soal perspektif diri. Seseorang bisa memiliki pernyataan yang berbeda- beda dalam menyebutkan kehidupan yang sempurna. Sering pula, kita mendengarkan dalam khotbah- khotbah religius dan pesan- pesan damai bahwa kesempurnaan manusia itu ada dalam ketidaksempurnaanya. Hal ini, didasarkan pada kreasi Allah swt yang memiliki otoritas penuh untuk mengklasifikasikan bahan baku penciptaan makhluk dan segenap karakter yang ada di dalam perangkat masing- masing makhluk. Malaikat merupakan cermin makhluk yang penuh ketaatan dan tidak memiliki dimensi perubahan apapun dalam konteks aktivitas ilahiyah-nya. Begitu juga dengan iblis, yang dicerminkan sebagai makhluk pembangkang; keburukan dan ketidakpatuhan terhadap regulasi Tuhan. Inilah yang disebut dengan karakter iblis. Sementara manusia, merupakan cermin makhluk yang serba ada diantara dua karakter (malaikat dan iblis). (7 Dimensi Untuk Mencapai Manusia yang Paripurna)

  • justify”>Kemungkinan manusia dapat melakukan ketaatan melebihi malaikat dan keburukan melebihi iblis. Hal itu merupakan sebuah keniscayaan. Kesempurnaan manusia ada pada kombinasi karakter antara sikap baik dan buruk, tercela dan terpuji, ketaatan dan pelanggaran. Manusia akan senantiasa ada dalam posisi keduanya. Oleh karena itu, stabilitas diri yang dibangun oleh pribadi senantiasa berupaya agar ketaatan itu muncul dan menguat diantara terpaan keburukan dan ketercelaan yang terus menyerang. Disinilah, alasan mengapa manusia harus terus selalu berupaya menjadi makhluk yang taat sesuai dengan instruksi Tuhannya. Karena hanya manusialah yang memiliki target prestasi diantara makhluk- makhluk Tuhan lainnya. Jika taat hanya milik malaikat dan buruk hanya milik iblis maka, keduanya tidak memiliki capaian apapun dari kestabilan karakter itu. Berbeda dengan manusia, tahapan menuju kelas- kelas bergengsi di depan Tuhan dalam konteks ketaatannya selalu diberikan mata ujian kehidupan yang sarat dengan ujian dan godaan.

  • justify”>”Kehidupan paripurna dapat dicapai bila kita memiliki tujuh tingkat kesadaran; Sadar biologis, sadar realitas, sadar sosial, sadar spiritual, sadar eksistensi, sadar kesejahteraan diri, dan sadar cinta”.

  • justify”>Dalam mempertahankan identitas makhluk yang taat, manusia selalu berupaya agar ketaatan dapat mengalahkan keburukan yang ada dalam pikiran manusia. Menurut Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, seorang filsuf kontemporer sekaligus CEO di perusahaan- perusahaan ternama, ada tujuh dimensi kesadaran yang harus dilalui oleh manusia untuk mencapai manusia paripurna.

  • justify”>Dimensi pertama adalah kesadaran biologis
  • justify”>Sadar secara biologis adalah menerima kenyataan bahwa sebagai manusia memiliki kebutuhan biologis yang menjadi penciri makhluk hidup. Manusia memerlukan pasangan untuk menikah, memerlukan ketercukupan pangan, sandang dan papan. Kebutuhan- kebutuhan itu merupakan kebutuhan biologis yang lazim dan tentu sangat lumrah bagi manusia. Seorang manusia tidak boleh melepas salah satu dari kebutuhan- kebutuhan itu jika ingin mencapai kestabilan hidup dan keparipurnaan hidup. Pola makan yang seimbang, pola pikir yang sesuai daya jangkau, dan pola hidup yang sesuai ritme- ritme firman Tuhan merupakan penunjang utama bagaimana individu itu dapat mencapai dimensi kesadaran biologis.

  • justify”>Manusia memiliki ketertarikan antar lawan jenis adalah kewajaran. Keinginan membina rumah tangga yang baik dengan ketercukupan ekonomi merupakan tahap yang wajar bagi manusia yang memiliki kesadaran dalam dimensi ini. Berpenampilan menarik sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menjaga performa diri kepada publik dan menata rumah dengan baik sebagai tempat inspirasi hidup merupakan satu kebutuhan untuk mencitrakan diri sebagai manusia yang wajar.

  • justify”>Dimensi kedua adalah kesadaran realitas.
  • justify”>Dimensi kedua ini merupakan satu tahap di atas kesadaran biologis. Kesadaran realitas merupakan satu pemahaman diri bagaimana sadar untuk berada di lingkungan dengan segala perbedaan dan perubahannya setiap saat. Menempatkan diri sebaik mungkin dengan segala perbedaan atmosfir dan mengimbangi segala perubahan nuansa yang terjadi. Realitas merupakan satu keniscayaan yang tidak dapat terelakkan. Manusia yang memahami dimensi ini, ia tidak akan mempersalahkan satu realitas untuk dibawa ke realitas dirinya. Ia akan memahami dan menyadari terhadap perubahan itu. Ia akan menyikapi dengan bijak dan memosisikan diri sebagaimana orang bijak yang senantiasa mampu berada diantara dua sisi atau lebih perbedaan dan menjadikan dirinya sebagai penyeimbang dalam perbedaan itu.

  • left”>Dimensi ketiga adalah kesadaran sosial
  • justify”>Dimensi ini menjelaskan bahwa seseorang harus sadar bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang senantiasa dihadapkan tidak pada sebatas melihat realitas namun justru masuk dalam realitas itu sendiri. Masuk ke dalam realitas kehidupan dan berkecimpung di dalamnya, memperkenalkan dirinya dan menyatu dengan masyarakat merupakan ciri individu yang sadar akan dirinya dengan dimensi kesadaran sosial.

  • left”>Dimensi keempat adalah kesadaran spiritual
  • justify”>Kesadaran spiritual merupakan dimensi yang dibangun berdasarkan nilai- nilai yang terkandung dalam firman- firman Allah. Kesadaran spiritual tercermin dari sikap individu dengan pengakuan diri yang lemah dan tak berdaya di hadapan Tuhannya. Tidak ada tempat kembali yang pantas selain kepada-Nya. Tiada yang pantas untuk dipinta selain meminta pada-Nya. Dan, tiada yang patut disembah selain pada-Nya. Individu yang telah melewati ketiga tahapan kesadaran sebelumnya akan mengalami kesadaran spiritual. Kesadaran ini hadir untuk menguatkan hati bahwa diri seseorang memiliki pengakuan murni tentang makhluk yang diciptakan oleh Allah.

  • justify”>Ketaatan yang dilakukan oleh individu semata- mata perwujudan rasa syukur atas segala limpahan kasih sayang dan cinta kasih sang Maha segalanya. Kesadaran spiritual ini akan menghantarkan kepada individu untuk mengalami dan merasakan bahwa beribadah kepada Tuhannya merupakan satu kebutuhan spiritual dirinya. Ketenangan dan kebahagian hidup yang ingin ditemukan adalah dengan cara berdekatan pada ruh kebaikan-Nya. Sehingga, ibadah dalam persepsi kesadaran ini adalah sebuah kebutuhan bukan lagi sebagai kewajiban yang dirasa membebani.

  • left”>Dimensi kelima adalah kesadaran eksistensi
  • justify”>Dimensi ini merupakan tahapan dimana seseorang memiliki kebutuhan pengakuan publik. Publikasi diri sebagai wahana menyatukan hati dengan masyarakat. Dalam bahasa agama dapat disebut sebagai ‘silaturahmi’. Silaturahmi lebih luas dipahami sebagai sebuah proses sosialisasi diri dalam konteks mengenalkan potensi diri, meyakinkan publik akan keberadaan diri, dan kesiapan diri untuk mencurahkan segala potensi dalam kerangka mendukung program- program publik. Kesuksesan diri secara materi dan kebaikan diri secara spiritual belum cukup jika keberadaan diri tidak diketahui dan tidak diakui publik. Keberadaan diri kita harus ada dan dirasakan oleh publik. Ada dan dirasakan itu, jika keberadaan kita dapat memberikan manfaat kepada yang lain. Dalam pesan agama disebutkan bahwa sebaik- baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat terhadap manusia lain. Memberikan manfaat terhadap orang lain ini merupakan satu bukti eksistensi diri di depan publik.

  • left”>Dimensi keenam adalah kesadaran untuk membangun kesejahteraan diri
  • justify”>Dimensi ini memiliki cakupan bahwa individu yang telah melalui kelima tahapan sebelumnya harus mampu menciptakan kesejahteraan diri. Kesejahteraan diri yang dimaksud adalah harmonisasi jiwa raga untuk meraih ketenangan. Ketercukupan kebutuhan hidup secara fisik, kenyamanan hati secara spiritual dan pengakuan publik atas eksistensi dirinya merupakan variabel tak terpisahkan satu sama lain untuk menuju kesejahteraan diri. Kesejahteraan diri merupakan perpaduan lima dimensi kesadaran yang dibangun secara bertahap dan saling menguatkan. Kesejahteraan diri ini akan mencitrakan pribadi yang menjalani kehidupan dengan ketenangan hati.

  • justify”>Ketenangan hati yang mampu dihadirkan merupakan citra positif yang didapat dari sinar Ilahiyah. Ketenangan hati tidak dapat hadir dalam atmosfer fisik yang lemah. Fisik lemah dimaksud adalah ketidaktercukupan aspek- aspek pendukung dalam melakukan beribadah kepada Tuhan. Hal yang sulit kita dapatkan dalam mencapai ketenangan hati adalah jika perangkat lahiriah sebagai manusia yang memiliki kelaziman untuk memiliki kebutuhan fisik belum terpenuhi dengan baik. Sifat dasar manusia adalah memerlukan pemenuhan kebutuhan fisik. Terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan mampu menghantarkan diri untuk beribadah kepada Tuhan dengan tenang. Jika dalam beribadah itu tenang maka, kesejahteraan hati akan tercapai. Dengan demikian membangun kesejahteraan diri merupakan titik kompromistis dan harmonisasi antara fisik dan nonfisik.

  • left”>Dimensi ketujuh adalah kesadaran cinta
  • justify”>Cinta merupakan anugerah Ilahi bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Cinta hadir dalam bentuk keindahan dan kebahagiaan. Ibnul Qayyim Al-jauziyah menyebutkan bahwa cinta tidaklah memiliki pendahuluan dan akhiran. Cinta ada karena dirinya. Cinta hadir hanya sebatas muqoddimah untuk menghantarkan esensinya dan bermuara pada efek kehidupan semata yang bukan merupakan sebuah akhiran dari cinta. Cinta, kini telah diinterpretasikan dalam bahasa rendah dan erotis. Maka, cinta harus dikembalikan ke ranah yang kudus. Karena di sanalah cinta itu berada bersama sang pemiliknya, abadi.** By. Nanan Abdul Manan

  • justify”>Selanjutnya Baca : Cinta Tidak Mudah Didefinisikan, Tetapi Bisa Dirasakan

Komentar
Memuat...