7 Faktor Konversi Agama Di Desa Klepu

2 41

7 Faktor Konversi Agama Di Desa Klepu Studi Kasus Konversi Agama: Konversi agama dalam penelitian ini adalah perubahan dari suatu keyakinan kepada keyakinan lain khususnya antar keyakinan agama.  Dalam hal ini, konversi agama suatu perubahan dalam berkeyakinan  atau  masuk ke dalam suatu keyakinan baru dengan meninggalkan keyakinan yang sebelumnya. Fenomena migrasi keyakinan terjadi di kalangan agamawan, yang berlatar belakang faktor yang bermacam macam  di antaranya adalah:

Faktor Pergaulan

Salah satu faktor yang mempengaruhi  proses perpindahan agama dari Islam ke Katolik faktor pergaulan. Tapi sebaliknya ketika dari Katolik ke Islam, lebih dipengaruhi oleh faktor keluarga, khususnya pengaruh isteri dan anak.  Perpindahan agama yang dipengaruhi oleh faktor pergaulan biasanya berjalan secara alami. Di balik kesadaran itu seolah olah tidak terjadi pemaksaan dan pelanggaran hak asasi kemanusiaan. Pergaulan dalam masyarakat dalam kontek ini, terdapat rekayasa sosial yang berupa kesenjangan  kondisi antara kedua belah pihak. Sehingga pihak yang berposisi lemah, secara alami akan terpengruh oleh kelompok yang berpotensi lebih dan kuat. Di samping itu ada beberapa faktor yang menjadikan suatu pihak berposisi lemah, seperti faktor status pendidikan, kondisi kehidupan ekonomi,  kondisi sosial  dan lain lain. Faktor faktor ini akhirnya berpotensi pengaruh dan dipengaruhi.

Faktor Pernikahan

Konsep pernikahan dalam perspektif agama, tidak sekadar menyatukan dua lawan jenis secara biologis, tetapi juga menyatukan keluarga besar, budaya dan hal hal lain yang awalnya berserakan. Pernikahan sebagai salah satu faktor konversi agama diawali dari pra perkawinan, yaitu ketertarikan hubungan cinta kasih antara calon pasangan suami isteri, dan juga pasca perkawinan.

Faktor perkawinan dalam beberapa data yang dialami oleh responden, ternyata sangat mempengaruhi dan bahkan menjadi salah satu faktor yang sering terjadi dalam kasus perpindahan agama. Namun konversi agama yang disebabkan oleh perkawinan, kadang kadang hanya bersifat politis dan empiris. Artinya sering terjadi rasa cinta dan birahi kasih lebih mendominasi dari keyakinan itu sendiri. Orang yang melakukan konversi agama yang disebabkan oleh perkawinan, bukan perkawinan untuk mendukung keyakinannya. Tetapi justeru keyakinan untuk mendukung kekuatan cinta kasihnya.

Faktor Kesadaran (Petunjuk)

Faktor kesadaran dipandang paling menguntungkan bagi agama yang didatangi dan seolah oleh memberikan celah bagi agama yang ditinggalkan. Kesadaran seseorang terhadap pilihannya terhadap suatu keyakinan tidak dapat diungkapkan melalui indikator yang konkret juga termasuk misteri. Kesadaran seseorang terhadap sesuatu, juga berdasarkan pengalaman inderawi yang ia alami, baik langsung maupun tidak. Hanya saja karena yang bersangkutan, karena luapan emosi, lemah untuk memberikan identifikasi kondisi eksternalnya.

Yang dikategorikan faktor kesadaran  yang diungkapkan oleh responden, ternyata juga dibangun diatas pengalam inderawi yang bersumber dari hal hal yang empiri, seperti ketika dia mendengarkan adzan, mendengarkan al-Qur’an, dan juga pengaruh dari ritual yang dijalankan akhirnya dia merasa ada getaran jiwa yang tak mampu untuk dirasionalkan prosesnya.

Faktor Jiwa

 Jiwa akan menjadi tenang dan tajam ketika melabuhi agama. Dan agama akan nampak fungsi dan manfaatnya ketika dijalankan oleh jiwa yang bersih.  Sikap keberagamaan yang sejati akan direkomendasikan oleh jiwa. Ketika jiwa seseorang merasakan ketenangan terhadap suatu keyakinan, atau sebaliknya ketika jiwa seseorang mengalami kegoncangan, di situ agama- agama akan menjadi alternative perlabuhan.

Konversi agama yang disebabkan oleh pengaruh jiwa, bisa jadi terjadi pada diri seseorang. Oleh karenanya tidak jarang mereka yang masih tergolong baru dalam menjalankan konversi agama, tetapi mereka memiliki semangat untuk menjalankan agama yang baru. Mereka yang demikian itu biasanya karena sebagai tebusan atas kesadaran dan rasa berdosa selama ini. Sehingga ia berusaha untuk menjalankan seluruh syari’at agama dengan seluruh kemampuannya.

Konversi agama yang dipengaruhi oleh kesadaran jiwa sulit untuk diidentifikasi. Karena perubahan jiwa selalu diikuti oleh kondisi eksternal. Salah satu kondisi eksternal yang kemudian mempengaruhi jiwa adalah di kala rutinitas kehidupan  tidak mampu memberikan pengaruh   dengan jiwa, di saat itu akan terjadi kegundahan dan mungkin juga perubahan jiwa.

  1. Khavid Khalwani/1415104050/T.IPSB/3 berkata

    Orang yang konversi dengan agamanya karena faktor lingkungan, pergaulan, jiwa dan pernikahan berarti orang tersebut pada dasarnya tidak sadar apa yang sebenarnya dia anut sebelumnya karena dari ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap proses konversi agamanya dan biasanya apa yang dia kerjakan dalam agamanya itu karna hanya tuntutan bukan karena pada dirinya sendiri yang memang suatu kebutuhan wajib bagi pengendalian keimanannya. Dalam motif seperti ini orang tersebut wajib mendapatkan suatu komunikasi yang baik antara pihak kedua selain keyakinan dalam dirinya seperti keluarga, saudara dan kerabat (satu iman/se agama). Karena agar adanya pemikiran yang mendalam akan perubahan yang terjadi dalam dirinya mengenai agama yang dianut. Perubahan konversi pada umurnya individu merasa tidak nyaman dengan dirinya dan adanya ketidak pemahan mendalam mengenai agama yang dianut dalam dirinya.

  2. Anan Abdul Hanan berkata

    Fakta nya faktor pertama itu lebih banyak mengakibatkan terjadinya konversi agama di Indonesia , berawal dari bergaul kemudian di pengaruhi selanjut nya adalah proses pengajakan .

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.