88 Tahun, Setelah Kongres Kaoem Perempoean

0 15

Adat Istiadat jang berabad-abad , adat istiadat jang sudah menjulur akar itu, adalah menjebabkan, yang banjak kaum ibu bangsa kita tak memikirkan kenaikan derajat, malahan ada jang memusuhi usaha menaikkan derajat itu : hamba jang bernama kaum ibu itu adalah banjak jang tak isnjaf akan perhambaannja sendiri.

Seorang penulis bangsa Timur mangatakan, bahwa “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sajapnya seekor burung”, jang djika dua sajap itu “dibikin sama kuatnya”, lantas “terbang menempuh udara sanpai ke puntjaknya kemadjuan jang setinggi-tingginja”, Ia bermaksud menuntut supaja “semua pintu harus dibuka seluas-luasnya” bagi kaum perempuan itu; ia bermaksud menuntut persamaan-hak dan persamaan-deradjat baginj.

Tetapi kaum ibu Indonesia, kaum ibu ditiap-tiap negeri djadjahan haruslah mengerti, bahwa baginja, burung tahadi ialah burung jang terkurung, burung jang oleh karenanja belum dapat “menempuh udara sampai kepuntjaknya kemadjuan jang setinggi-tingginya. (Ir.Soekarno, Suluh Indonesia Muda, 1928).

Memasuki abad ke-19, kaum perempuan di Jawa maupun Sumatera mulai memperlihatkan kegigihannya dalam berjuang. Pada awal abad ke-19 di Jawa muncul R.A. Kartini putri Bupati Rembang yang memberontak lewat surat-suratnya yang dikumpukan Abendanon. Namun pada akhir abad ke-19, di Tanah Minang (Bukit Tinggi) seorang perempuan biasa, Rohana Kudus muncul sebagai sang pencerah kaum perempuan di lingkungannya. Menurut catatan kolumnis Tamar Djaja (1959) disebutkan, Rohana Kudus merupakan pendiri surat kabar “Soenting Melajoe” yang merupakan surat kabar pertama di Tanah Air. Selanjutnya ia pun membangun Rohana School, sekolah khusus putri dan setiap saat berkeliling desa untuk menyampaikan informasi baru kepada masyarakatnya. Rohana kahirnya dinyatakan sebabagi Pahlawan Nasional pada 1962. Sejak itu kesadaran kaum perempuan makin tinggi temperaturnya dan puncaknya pada 22 – 25 Desember 1928 di Yogyakarta diadakanlah Kongres Kaoem Perempoean Indonesia

Delapan puluh delapan tahun kemudian, apa yang diucapkan Bung Karno sebagian terwujud dengan banyak tampilnya kaum perempuandi berbagai bidang. Seperti diprakirakan John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam “Megatrend 2000” (1990an),perempuan menjadi lini terdepan sebagai pemimpin keluarga hingga politik.

Memang, seperti dianalisa Demos (Tempo, 7 Agustus 2005), di negeri ini, perempuan belum punya peran siginifikan dalam politik. Mereka baru dipasang sebagai pemanis dan lipstick bagi demokrasi. Secara politik, mereka dimarginalkan oleh hegemoni patriarkal. Hasil pemilu kita masih menunjukkan perempuan belum cukup diperhitungkan dalam dunia politik praksis di Indonesia. Ini suatu kondisi yang menyedihkan, mengingat peran perempuan adalah salah satu parameter demokrasi. Lantas, apa yang perlu dikerjakan kaum perempuan ? Mulai bekerja, atau terus menunggu kemurahan hati partai politik ?

Kongres Perempuan dan Dampak Megatrend 2000 

Kecenderungan menuju masyarakat informasi adalah jenis super-trend tersendiri, karena informasi telah mengubah ekonomi global, menciptakan lebih banyak pilihan dan pilihan, dan membuka jalan bagi desentralisasi. Tapi semua sistem informasi baru (pengolah kata, surat elektronik, transfer dana elektronik, komunikasi satelit) didasarkan pada mikroprosesor. Tanpa ini salah satu bentuk teknologi, restrukturisasi saat ini sistem ekonomi, organisasi, dan pasar tidak akan berlangsung.

Banyak tren terpisah yang dijelaskan dari cabang mikroprosesor. Ia menulis bahwa komputer bisa membebaskan orang-orang dari kantor dan memungkinkan mereka untuk bekerja di rumah. Semua kecenderungan ini yang mendorong tren Utara-Selatan. Dan semua tren ini bergantung pada chip komputer. link kurang jelas antara mikroprosesor dan tren yang tersisa, tetapi hadir.(Naisbit, Megatrend, 1998).

Pandangan John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam “Megatrend 2000” melihat adanya kecenderungan kaum perempuan menguasai berbagai lini kehidupan. Dalam pandangannya, analisis gender diarahkan sebagian besar pada wanita muda, baik dari segi konten dan iklan. Majalah adalah publikasi bulanan yang didedikasikan untuk pertanyaan kesehatan, kebugaran, dan gaya hidup, dan itu jelas bahwa majalah tersebut akan diidentifikasi lebih sebagai publikasi perempuan daripada pria.

Hubungan antara Perempuan dan Media Massa

Sifat hubungan antara perempuan dan media massa telah dianggap dalam beberapa tahun terakhir oleh sosiolog dan psikolog serta kritikus media, sebagian didasarkan pada kekhawatiran bahwa cara perempuan digambarkan di media memiliki efek merusak pada jalan perempuan dipandang dalam masyarakat luas. peran perempuan dalam masyarakat. Seperti buku terlaris seperti Men John Gray Apakah Dari Mars, Women Are From Venus menunjukkan, pria dan wanita sering muncul untuk berbicara bahasa yang sama sekali berbeda, bahkan ketika kosakata, sintaks, dan tata bahasa yang mereka gunakan adalah identik.

Dunia public relations dalam arti luas merupakan peluang bagi kaum perempuan untuk merebut pasar kerja yang sebenarnya tak disukai kaum pria. Apalagi temuan-temuan teknologi informasi memberikan peluang sekaligusruang bagi kaum perempuan yang ingin berkarier dalam berbagai bidang.

Seandainya masalah kebangkitan perempuan hanya sekadar gagasan danpemikiran, dan itulah yangb terjadi pada awalmulanya, tentu perempuan tak akan melihat cahaya. Ia akan terpasung oleh gagasan tersebut dan hidup dalam angan-angan, Namun kita tak boleh lupa, bahwa perubahan apa pun, baik perubahan social maupun nonsosial,bahkan revolusi yang terjadi terhadap pemerintahan yang ada, dimulai dengan gagasan, kemudian gagasan tersebut diwujudkan melalui jamaah-jamaah, partai-partai atau gerakan-gerakan perubahan (Qazan, 2001).

Kesetaraan derajat

Kaum perempuan sepertinya sudah mulai merasakan adanya kesetaraan derajat dengan kaum pria. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kaum wanita yang terjun ke panggung politik. Pada masa kerajaan, kaum perempuan hanya dianggap sebagai pengurus rumahtangga dan harus manut kepada suami. Namun seiring perjalanan waktu terjadi perubahan berpikir di kalangan mereka. Salah satu dunia yang diimcar perempuan saat ini adalah politik. Wajar jika mereka kini harus menyetakan siap bertarung dengan kaum laki-laki dalam dunia tersebut.

Pada masa lalu, yang melatarbelakangi kaum perempuan tidak banyak terjun ke dunia politik dikarenakan ada ikatan yang kental terhadap budaya dan norma adat. Perempuan dan anak Indonesia saat ini telah mendapat perlindungan secara politis melalui undang-undamh yang mengkhususkan perlindungan terhadap perempuan dan anak, yaitu Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Undang-undang No.23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dengan adanya undang-undang itu kaum wanita bisa mengadukan masalah rumah tangganya ke Pelayanan Keluarga Sejahtrea yang berada di Rumah Kencana atau bisa mengadukan ke pihak berwajib.

Oleh : NURDIN M.NOER Wartawan senior, pemerhati kebudayaan local

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.