9 Ramadlan Dirgahayu Republik Indonesia

9 Ramadlan Dirgahayu Republik Indonesia
0 10

Tanggal 9 Ramadlan Dirgahayu Republik Indonesia. Meski mayoritas Muslim, Indonesia tetaplah Indonesia. Negeri dengan sejumlah agama dan pemahaman keagamaan yang komplet. Hampir tidak ada negara di dunia yang memiliki variasi agama, ras, suku, bahasa dan etnik yang pluralitasnya mengalahkan Indonesia. Inilah negeri warisan terindah Tuhan di muka bumi. Negeri ini, sebenarnya dapat diterjemahkan sebagai cuplikan syurga Tuhan di muka bumi. Karena itu, wajar jika kemudian ia tumbuh menjadi semacam sansak bagi kepentingan bangsa-bangsa lain di dunia.

Pergantian tahun di Indonesia, bukan hanya 1 Januari bagi perhitungan Masehi [gregorian], tetapi, juga ada pergantian tahun hijriyah [Islam]. Di belakangnya ada tahun Imlek [Cina] dan tahun Saka [Hindu-Budha]. Tahun Saka bahkan sangat mungkin disebut sebagai perhitungan tahun paling tua di Nusantara. Mengapa demikian? Kita tahu bahwa agama Hindu-Budha sudah jauh lebih dulu hadir di Nusantara sebelum kedatangan Islam dan Kristen.

Memang cukup disayangkan oleh banyak kalangan Muslim Nusantara, mengapa negara dengan populasi Muslim terbanyak, memilih tahun Masehi sebagai patokan dalam berbagai kegiatan kenegaraan. Termasuk tentu penentuan hari kerja. Hanya Banda Aceh yang menggunakan tahun hijriyah, itupun setelah Reformasi bergulir.

Perhitungan tahun hijriyah memang lebih sedikit dibandingkan dengan tahun masehi. Setiap tahun setidaknya terdapat perbedaan jumlah hari antara 11 sampai dengan 14 hari antara perhitungan Masehi dan Hijriyah. Jadi, jika anda ulang menggunakan tahun Hijriyah lalu dikomparasikan dengan tahun masehi, maka, setiap tahun ulang tahun anda akan lebih cepat di antara durasi waktu sebagaimana penulis gambarkan tadi.

Membangkitkan Popularitas Tahun Hijriyah

Penggunaan tahun hijriyah mengalami keredupan popularitas setelah khilafah Islamiyah kalah oleh imperialisme Barat. Sejak saat itu, tidak salah jika banyak di antara umat Islam yang tidak tahu, sekedar susunan nama bulan di tahun hijriyah. Padahal dalam beberapa hal, perubahan tahun di dunia Islam, dapat dipandang strategis.

Mencermati dinamika dan pemahaman seperti itu, saya menjadi mafhum mengapa Partai Keadilan Sosial [PKS] menggelar tasyakuran 74 tahun kemerdekaan Indonesia pada tanggal 9 Ramadlan. Di Kantor Parpol Muslim Indonesia terdidik ini, pada tanggal 9 Ramadlan, menyelenggarakan ulang tahun kemerdekaan RI di Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan pada Minggu.

Perayaan kemerdekaan ini, menurut saya tentu tidak harus dimakna persaingan hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni yang baru ditetapkan Presiden Jokowi. Mereka tampaknya hanya ingin mengingatkan bangsa dan Muslim Indonesia, bahwa kemerdekaan yang diproklamirkan Soekarno Hatta itu jatuh pada tanggal 9 Ramadlan.

Pernyataan Petinggi PKS

Berbagai laman media massa; cetak elektronik dan media maya, pernyataan Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini dapat diikuti. Ia mengatakan bahwa peringatan kemerdekaan pada 9 Ramadan ini adalah untuk mengingat mata rantai sejarah. Ia juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menghargai dan memaknai kemerdekaan bukan hanya dari satu sisi. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa

Acara ini, menurut Juwaini, dapat disebut sebagai bentuk awal yang konkret dari keluarga besar PKS, menghargai betul dan menganggap mata rantai sejarah sangat penting yang tidak boleh dilupakan. Islam juga tidak boleh dimarjinalkan, karena kita mempunyai andil dalam kemerdekaan.

Presiden PKS, Sohibul Imam, lebih tegas menyatakan bahwa Ramadan yang dalam kesehariannya umat muslim sedang berpuasa, tetap selalu memiliki kekuatan. Puasa tidak menjadi penghalang untuk meraih kemenangan. Peristiwa tersebut menurutnya menjadi sangat penting bagi umat muslim. “Kita sering memperingati tanggal 17 Agustus 1945. Padahal ada hal penting yang juga perlu kita ingat. Hari Kemerdekaan itu bertepatan dengan 9 Ramadan. Perlu juga diingat bahwa dalam sejarah Nabi Muhammad, berbagai kemenangan besar terjadi di Ramadan”. Begitulan pungkas Sohibul dalam kesempatan itu. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...