Ada Apa di Balik Hari Santri Nasional

0 28

Hari santri Nasional, bukan hari kyai nasional. Banyak yang bertanya, mengapa disebut hari santri, bukan hari kyai. Jawaban singkatnya, itulah kebesaran jiwa dan patriotism kyai Nusantara. Hari Santri nasional, secara resmi diakui pemerintah sejak tahun 2015, melalui Keputusan Presiden Republik Nomor 22 tahun 2015. Jika ada pertanyaan, mengapa tanggal 22 Oktober, bukan pada tanggal lain atau bulan lainnya. Inilah jawabannya.

Tanggal 22 Oktober 1945, adalah hari di mana KH. Hasyim Asy’ari –ulama kharismatik dan sekaligus pendiri NU– menyerukan jihad kepada seluruh umat Islam Surabaya untuk “Membela tanah air dari penjajah. Ia mengatakan bahwa, membela tanah air hukum fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu Muslim.

Kekalahan Jepang dan Semangat Belanda Kembali ke Indonesia

Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, setelah beberapa hari sebelumnya, Hirosima dan Nagasaki dibombardir sekutu yang melumatkan hampir 200 ribu penduduk Jepang. Penyerahan tanpa syarat ini, mengharuskan Jepang memberlakukan status quo  atas seluruh wilayah atau daerah yang dikuasai Jepang.

Jepang yang berada dalam kelompok fasisme, pada akhirnya harus bertekuk lutut kepada sekutu. Ia tidak lagi mampu mempertahankan wilayah kekuasaannya seperti ketika mereka berhadapan dengan sekutu yang terkalahkan pada perang dunia ke II. Tanggal ini pula, sering disebut sebagai berakhirnya peran dunia ke dua.

Pasukan sekutu yang dipimpin Amerika Serikat, memindahkan pulau-pulau yang ada di Nusantara dari Soutd West Pasific Comment (SWPC) ke South East Asia Command (SEAC) di bawah Komando Inggris. Suatu team gabungan yang dipimpin Laksamana Lord Louis Mountbatten dari Inggris ini, menjajagi kemungkinan mereka kembali menguasai Nusantara. Tujuannya hanya untuk mempelajari dan melaporkan situasi dan suasana di Indonesia, sebelum tantara sekutu dating.

Tanggal 16 September 1945, Tanjung Priuk, menjadi saksi kedatangan sekutu. Tentara sekutu ini dipimpin oleh Laksamana Muda WR. Patterson yang didalamnya ada CHO Vander Plas. Di sisi yang lain, terdapat juga perwakilan dari Nederlands Indies Civil Administration (NICA), yaitu Dr. HJ. Van Mook. Setelah itu, dating juga pasukan SEAC di bawah pimpinan Sir Philip Chistison. Seluruh gabungan pasukan sekutu berada di bawahbendera Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI)  yang berpusat di Sumatera dan jawa.

Saat pertama mereka datang ke Nusantara, ia disambut hangat penduduk suatu Republik yang baru berdiri beberapa hari itu. Tetapi, ketika bangsa Indonesia sadar bahwa AFNEI ditunggangi oleh NICA, sikap bangsa Indonesia berubah drastic. Maka, terjadilah berbagai huru-hara social di mana-mana. Terlebih, ketika NICA mempersenjati tantara KNIL yang dulu sempat dulu sempat digunakan Jepang dalam mempertahankan jajahannya di Indonesia.

Pengakuan De Facto AFNEI atas Pemerintahan Indonesia

Akhirnya, berbagai ketegangan tadi, telah memaksa AFNEI untuk memberlakukan pemerintahan RI yang ada di daerah. Deklarasi AFNEI tadi, terjadi pada tanggal 1 Oktober 1945 yang mengakui secara defacto eksisten RI. Pemerintah RI sendiri menerima deklarasi dimaksud, dengan cara meminta seluruh pejabat didaerah untuk membantu apa yang dilakukan AFNEI. Namun demikian, suasana tetap tidak reda, dan bahkan ada kesan yang kuat bahwa Belanda, bercita-cita untuk kembali menjajah Nusantara. Jadilah berbagai gelombang perang seperti yang terjadi di Bandung Lautan Api, Medan dan Surabaya.

Pada tanggal 22 Oktober 1945, KH. Hasym As’ary mengeluarkan sebuah Maklumat, khususnya untuk warga Muslim Surabaya, umumnya masyarakat Nusantara, untuk melakukan jihad, termasuk jika diperlukan berperang dengan cara apapun, untuk mencegah kembalinya tantara colonial Belanda ke Nusantara melalui NICA.

Melalui maklumat tadi, telah menyebabkan terjadinya perang besar pada kisaran tanggal 27 -29 Oktober, yang menewaskan 2000 pasukan Inggris. Perang ini baru berakhir ketika arek-arek Surabaya, pada tanggal 10 Nopember 1945, yang dimpimpin seorang santri bernama Bung Tomo berhasil memporakporandakan Surabaya. Inilah yang kemudian ditetapkan pemerintah sebagai hari Pahlawan Nasional.

Dengan nalar tadi, maka, adanya hari pahlawan nasional tidak lebih dari lanjutan fatwa KH. Hasym As’ary yang menggerakan santri-santri seluruh Nusantara untuk berperang melawan penjajah dalam apa yang disebut dengan jihad. Maklumat KH. Hasym As’ary itu, dideklarasikan pada tanggal 22 Oktober 1945.  By. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...