Ada Apa dengan Cina di Indonesia.?

0 1.833

Ada Apa dengan Cina di Indonesia. Ada pertanyaan menarik dari anak saya, yang baru kelas satu SMA. Pertanyaannya begini! Pah … mengapa kalau yang disebut non pribumi, pasti legitimasinya kepada orang Cina. Kata Non pribumi jarang tersimpan dalam kortek otak manusia Indonesia untuk mereka yang berasal dari India, Malaysia, Arab atau dari bangsa bangsa lain di dunia. Mengapa kesan non pribumi, selalu bersanding dengan kata Cina?

Selain itu, kesan yang muncul belakangan, Cina seolah menjadi “musuh” bangsa pribumi. Padahal, orang Cina sudah lama kan tinggal di Indonesia? Secara teoretik, mereka sebenarnya sudah tidak tepat lagi untuk disebut sebagai non pribumi. Bukankah mereka telah lama menempati bumi Nusantara dalam durasi waktu ratusan tahun.

Terhadap pertanyaan yang sangat menggigit ini, saya kemudian memberi jawaban yang agak sedikit teoritis. Saya harus berhati-hati memberi jawaban atas pertanyaan sejenis begini.Sambil sedikit merenung, saya katakan:

Betul bahwa Cina telah datang ke Indonesia di ratusan tahun yang lalu. Menurut beberapa catatan sejarah, bangsa Cina datang ke Nusantara, diperkirakan dimulai pada abad ke 15 Masehi. Kedatanga mereka, sebenarnya hampir berbarengan dengan pedagang-pedagang Muslim dari Gujarat, India dan bahkan Arab. Sedikit lebih dulu hadir, dibandingkan dengan kehadiran Portugis dan Belanda.

Mengapa Cina Migrasi?

Sejak abad ke 15, banyak masyarakat Cina yang melakukan migrasi ke Indonesia. Termasuk ke daerah lain di dunia. Mengapa? Sebab di negeri mereka, dari dulu sampai sekarang, Cina selalu menjadi negara dengan penduduk terbesar sekaligus terpadat di dunia. Mereka “sangat sulit” memperoleh kemudahan untuk mengembangkan ekonomi mereka di kampung halamannya.

Mereka mencari tempat berlabuh untuk mengembangkan ekonomi mereka melalui perdagangan, perkebunan dan kegiatan industry lain.  Dalam anggapan mereka, daerah Nanyang [Lautan Selatan], dianggap sebagai daerah ideal untuk mendapatkan pola kehidupan yang menyenangkan. Daerah itu, hari ini dikenal dengan kawasan Asia Tenggara, di mana Indonesia berada didalamnya. Nanyang inilah yang menjadi daerah operasi perekonomian mereka.

Dalam konteks Indonesia, kebanyakan dari migrasi Cina itu masuk ke Pulau Jawa. Menurut catatan sejarah, hampir 50 persen orang Cina yang datang ke Nusantara, memilih tinggal di Jawa. Jawa adalah Pulau dengan sebutan sebagai pulau tersubur, bahkan mungkin di dunia.

Ini yang menyebabkan budaya bangsa “pribumi”, cenderung memilih profesi sebagai petani dan pekebun dibandingkan dengan memilih profesi lain. Bangsa pribumi jarang yang memilih untuk menjadi pedagang agar mereka menjadi saudagar.

Jawa, akhirnya, sejak dulu menjadi menjadi pusat perdagangan dan perindustrian. Orang Cina, memilih membuka usaha. Karena itu, jangan heran  jika mayoritas toko, supermarket, super blok, Mega Mall atau apapun istilah dalam bidang kartel, hampir dimiliki orang Cina. Inilah kecemburuan ekonomi masyarakat.

Di saat ekonomi berpusat pada sektor jasa karena lahan pertanian menipis, maka, yang tetap bertahan dan bahkan cenderung maju, adalah mereka yang memilih profesi sebagai pedagang.

Namun, jika pertanyaannya berlanjut, mengapa beberapa dekade ini, ada semacam “eskalasi” kebencian kepada mereka? Nah … yang satu ini, saat ini memasuki fase politis. Karena masuk ke dalam fase politis, maka, ada kekhawatiran yang belum tentu benar, ketika mereka menguasai ekonomi, lalu saat ini, seolah ada angin bagaimana politikpun akhirnya dikuasai mereka.

Tetapi yang penting buat anda hari ini adalah, belajarlah dengan baik. Hanya dengan belajar yang baik, sambil memperkuat pemahaman sosial-lah, anda akan mampu melihat dunia secara utuh. Mungkin dalam sisi lain, itu juga mengapa rasul mengatakan: “Carilah Ilmu walau sampai negeri Cina”. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.