Home » Pendidikan » Ada apa dengan Kode Jakarta 04-11-16 ?

Share This Post

Pendidikan

Ada apa dengan Kode Jakarta 04-11-16 ?

AHOK – Sosok yang dianggap melakukan penistaan agama, melalui al Maidah 51 tetap santai, ketika mendapat informasi massif akan adanya demo tanggal 04 Nopember 2016. Ia seperti tidak memiliki beban dan cenderung cuek. Mungkin bagus dalam kepentingan tertentu, tetapi, sesungguhnya menyembulkan suatu tanda baru, ada drama apa sesungguhnya di balik semua fenomena ini.

Sikap itu, tampak kontras dengan apa yang dilakukan Presiden RI ke 7, yakni Jokowi. Presiden bertipikal kerakyatan ini, gestur tubuhnya menunjukkan sikap  yang tampak agak grogi, ketika berbagai pemberitaan adanya isu akan adanya demonstrasi besar-besaran, yang dilakukan sebagian umat Islam di Jakarta. Jumlah pendemo yang bakal turun pada hari jum’at dimaksud, menurut berbagai kabar, saat ini telah dan sedang berangkat dari berbagai daerah di Indonesia, menuju Jakarta. Jumlahnya diprediksi paling tidak berjumlah 200 ribu orang.

Ahok seperti tidak peduli akan situasi apa yang bakal terjadi. Ia tetap berdiri tegak dan sedikitpun belum menunjukkan wajahnya sebagai sosok  yang harus melakukan langkah apa atas situasi yang bakal terjadi nantinya. Hal ini, berbeda dengan apa yang ditampilkan Jokowi, yang langsung menghubungi –dalam kapasitasnya sebagai Presiden—tokoh-masyarakat, sebut misalnya Prabowo Subianto, di rumahnya, Hambalang, Bogor 31 Oktober 2016. Jokowi kemudian, melanjutkan pertemuannya dengan tokoh-tokoh Islam melalui organisasi massa Islam di istana negara pada hari berikutnya. Sikap yang ditunjukan Presiden ke 7 ini, juga sesungguhnya menyembulkan suatu pandangan tertentu, mengapa beliau? Seberapa parahkan sesungguhnya demo dimaksud akan berlangsung, sehingga Sang Presiden harus langsung turun ikut melerai.

Rekomendasi untuk anda !!   Ahok Gagal Mengartikulasi bahasa Agama ke dalam Bahasa Politik

Dalam kaca mata lain, menarik juga untuk dicatat bahwa, demo yang bakal dihelat tanggal 4 Nopember besok, pengusung utamanya adalah Front Pembela Islam (FPI). Tetapi ormas pengusung demo ini, tidak diundang ke istana. Sementara yang diundang ke Istana justru adalah Ormas yang secara langsung tidak menyerukan demonstrasi. Ini juga menarik untuk diperhatikan, bagaimana Presiden Indonesia, pandai mengambil moment dan ilustrasi politik. Di letak ini, ia tumbuh sebagai maestro politik dengan tipikal yang sangat unik.

Di waktu yang sama, mantan Presiden RI yang ke 6, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), malah menyambangi Rumah Dinas Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), di kawasan Dipenogoro, Menteng, Jakarta Pusat. Secara materi, pertemuan mereka berdua, tidak banyak diketahui karena tidak ada pemberitaan mengenai apa yang dibicarakan mereka. Hanya saja, sehari setelah pertemuan dimaksud, SBY memberi statement dalam sebuah jumpa pers di rumahnya, Cikeas, Bogor

Dalam jumpa pers dimaksud, SBY menyatakan: “Hampir setiap menit, jam dan hari, selalu muncul berita seputar rencana gerakan unjuk rasa yang akan dilaksanakan pada hari jum’at, 04 Nopember 2016 di Jakarta. Situasi politik di negeri kita, kini telah menghangat bukan hanya di Jakarta, tetapi, juga di seluruh tanah air. Hari-hari ini, banyak pertemuan politik, misalnya Presiden bertemua Prabowo Subianto, saya bertemu Jusuf Kalla dan Menkopolhukam Wiranto.

“Saya memandang semua pertemuan itu baik. Saya yakin, niatnya baik. tetapi kemudian jangan diasumsikan kalau ada pertemuan politik yang dilakukan mereka yang berada di luar kekuasaan, lantas dicurigai. Intelegen harus kuat, jangan ngawur dan main tuduh. Saya kira bukan intelegen seperti itu yang harus hadir di negeri tercinta ini. Karena amanat reformasi kita jelas. Kita ingin mereformasi tatanan budaya dan cara-cara yang dulu pernah terjadi di masa otoritarian yang tidak tepat, padahal ini adalah era demokrasi. Saya tidak alergi dengan unjuk rasa dan sudah saya tunjukkan selama 10 tahun masa pemerintahan saya yang sering terkena demonstrasi. Saya tetap dapat mempertahankan pemerintahan, menjaga stabilitas ekonomi tetap tumbuh dan saya masih tetap bisa bekerja. Siapa bilang tidak bisa kerja”

Lebih lanjut SBY mengatakan: “Menghina rakyat namanya jika disebut demo sebagai kelompok bayaran. Itu urusan hati nurani. Tidak ada yang bisa mempengaruhi dalam soal ini. Uang tidak ada gunanya apalagi kalau menyangkut akidah. Banyak di dunia ini, orang berani mengorbankan diri demi sebuah akidah. Memfitnah orang yang dilaporkan itu atas nama analisis intelegen, itu menghina. Jakarta, (02/11/2016)

Rekomendasi untuk anda !!   Moralitas Peserta Didik Indonesia Sangat Memperihatinkan

Jika Jokowi, SBY, JK dan Prabowo sampai gelisah atas situasi 04-11-16, kita akhirnya patut bertanya, ada apa sebenarnya di balik semua fenomena ini? Yang pasti, secara kasat mata, situasi politik kita memang sedang panas, kalau bukan sedang sakit. Bagaimana ahirnya, kita menanti saja sampai seperti apa situasi Jakarta pada 04 Nopember nanti. ** (ALY)

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>