Ada Apa dengan Metafisika| Kajian Ulang Metafisika Part ai??i?? 7

Ada Apa dengan Metafisika Kajian Ulang Metafisika Part – 7
0 146

Muncul suatu pertanyaan, mengapa harus mengkaji metafisika? Pertanyaan sejenis ini, tampak dari sebagian mahasiswa yang merasa seram ketika mengikuti perkuliahan dalam sessi ini. Terlebih ketika disampaikan sessi khusus terkait dengan metafisika materialisme. Suatu aliran yang menganggap bahwa di balik yang fisik ini, ada yang menjadi penggerak utama, tetapi, yang menjadi penggerak itu bersifat materil.

Terhadap situasi itu, saya menyebut bahwa mengkaji metafisika, sesungguhnya dapat membuat mereka yang mengkajinya, akan sampai pada sifat tertinggi (ultimate nature) kehidupan. Suatu keadaan atau posisiAi??di mana kenyataan yang tampak nyata dan variatif itu, sesungguhnya relatif atau bahkan mungkin tidak ada. Sebab yang benar-benar Ada, sesungguhnya hanya Sang Pengada.

Mereka yang mengkaji metafisika, akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa ada sesuatu di luar jangkauan nalar manusia. Sesuatu itu, abstrak dan segalanya berada dalam posisi tertinggi. Melalui pengkajian dan penghayatan terhadap metafisika, manusia akan dituntun pada jalan dan penumbuhan moralitas hidup.

Sebut misalnya, mengapa manusia harus berbuat baik? Mengapa manusia mesti melakukan simetri dengan khalik dan makhluk? Mengapa manusia beribadah? Keyakinan bahwa ibadah manusia mendapat pahala di sisi Tuhan, atau mengapa kita tidak berbuat jahat karena Tuhan akan menyiksa kita, sesungguhnya terjadi karena nalar kita, sampai pada suatu kesimpulan bahwa di luar yang fisik ini, ada sesuatu yang metafisik. Terlepas dari apapun nama yang diberikan kepada Dia yang metafisik itu.

Hal ini setidaknya dapat dibaca dari tulisan K. Bertens (1975) yang menyebut metafisika sebagai kebijaksanaan (shopia) tertinggi. Ilmu ini akan membawa manusia pada pencapaian prinsip dan penyebab tertinggi. Suatu sikap di mana yang melatarbelakangi lahir dan munculnya seluruh eksistensi yang tampak adalah sesuatu yang justru tidak tampak. Termasuk didalamnya eksistensi manusia yang sudah lama lupa dan mengasingkan bahkan membuang eksistensi tertinggi dalam hingar bingar kehidupan.

Kajian atas apa yang kita sebut metafisika, dapat mendorong manusia berlaku bijak pada sipat kebijaksanaan yang paling prinsip dan paling fundamental. Prinsip dimaksud adalah diketahuinya, penyebab pertama yang efisien, final dan material formal dari segala yang ada. Melalui kajian ini, manusia diharapkan dapat kembali kepada fitrah dasarnya sebagai hamba Allah. Ia akan dituntut memiliki tanggungjawab dan menunaikan kewajiban dalam berbagai sisi kehidupan sebagaimana Tuhan mencita-citakan-Nya.

Relasi Metafisika dan Filsafat Ilmu

Hubungan antara metafisika dengan filsafat ilmu dapat diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan meski gampang dibedakan. Filsafat ilmu membicangkan persoalan metafisika lebih karena hampir tidak ada satu ilmupun, dalam pendekatan filsafat ilmu, yang terlepas dari persoalan metafisika. Bahkan dalam banyak hal, ilmu dan pengkaji ilmu (ilmuwan) yang kering perspektif metafisis akan berakibat pada keringnya makna ilmu itu sendiri. Tentu ini subjektif. Tetapi, kelihatannya argumentasi semacam ini sangat sulit ditolak.

Pendapat demikian, diakui Jujun S. Suriasumantri (1982). Dalam rumusannya ia menyatakan bahwa ilmu adalah sesuatu yang harus berfungsi menafsirkan alam dan segala dinamikanya. Dalam soal dinamika, tidak mungkin manusia hanya melihat hanya dalam pengertian biasa atau apa adanya. Suatu dinamika, tidak selalu harus sesuai dengan apa yang dapat dilihat, didengar, diraba dan dicerap. Tetapi justru, yang paling penting adalah penela’ahan kita pada sesuatu yang jauh lebih substantif dan esensial dibandingkan dengan yang fisik tadi. Sebab jika ilmu hanya terbatas pada aspek-aspek fisik tadi, maka, mengutif Jujun, justru bakal terjadi proses pendangkalan terhadap ilmu itu sendiri.

Dalam perspektif ini, saya memahami bahwa, ilmu yang lahir dengan semangat metafisik akan mendorong timbulnya ilmu yang jauh lebih substantif, tampak lebih eternal dan dalam beberapa hal dapat juga sakral.

Itulah tujuan yang hendak digulirkan dari pengkajian terhadap metafisika. Jika benar itu tujuannya, maka ilmuwan tidak dapat melepaskan diri dari masalah-masalah yang dihadapi dalam kajian metafisika. Makin jauh ilmuwan melakukan avountur dalam masalah-masalah ilmiah, maka ia akan semakin dekat dan mendesak kebutuhannya terhadap pemahaman yang utuh ten tang metafisika.

Ilmuwan yang hendak meneliti batu-batuan di labolatorium misalnya, ia pasti akan melakukan pertanyaan, apakah dalam batu-batuan itu terpendam proses kimia fisika atau di dalam batu itu bersembunyi roh yang halus? Atau bahkan mungkin akan muncul pertanyaan bagaimanakah sebenarnya atau hakikat dari batu itu? Apakah manusia yang tertawa, menangis dan jatuh cinta; semua itu hanya merupakan proses kimia-fisika belaka seperti difahami Sigmun Frued atau ada wujud hakiki di balik manusia itu yang menggerakkan seluruh gerak dinamiknya?

Pengetahuan dan Kesadaran Mental

Apakah pengetahuan yang manusia dapatkan ini bersumber pada kesadaran mental [idealis] atau hanya rangsangan penginderaan [materialis] belaka? Kajian terhadap soal- soal dimaksud, hanya ada dalam ruang lingkup kajian metafisika. Problemnya memang, manusia atau ilmuan belakangan ini, selalu terbelah dalam dua narasi yang diametral. Memilh di antara kelompok idealisme atau materialisme. Padahal seharusnya melakukan sinergi di antara keduanya.

Meski demikian, harus pula diakui bahwa jawaban terhadap pertanyaan tadi tentu akan direspon secara beragam. Keragaman respon dimaksud, bukan hanya akan datangAi?? dari mereka yang terpelajar, tetapi, juga dari mereka commen sence.Ai?? Perbedaan itu dilatar belakangi faham yang dianut serta latar belakang pemikiran masing-masing filosof dan ilmuwan yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi.

Bagi ilmuwan yang berpaham materialisme, memahami aspek lain di luar benda terwujud, tentu tidak mungkin mempercayai adanya sesuatu di balik yang terwujud yang bersifat halus. Yang dalam anggapan tertentu seperti ruh. Ia dengan sekuat tenaga akan mencari berbagai penemuan sesuai dengan standar dasar kefilsafatan yang dianutnya tadi, yakni materi atau sesuatu yang dapat dicerap dan dirasa. Di luar itu, tidak ada. Bersambung –Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...