Ada Obat di Balik Tembakau

Ada Obat di Balik Tembakau
0 124

Ada Obat di Balik Tembakau. Betulkah rokok itu berbahaya bagi kesehatan manusia? Tentu, itu suatu pertanyaan konyol. Perokok sendiri sudah mengenal bahkan mungkin hafal resiko dan bahaya yang ditimbulkan perokok terhadap dirinya dan terhadap orang di sekitarnya. Dinas kesehatan di berbagai belahan dunia, tentu termasuk di Indonesia, kampanye anti rokok begitu massif. Rokok dianggap sebagai komoditas berbahaya bagi kesehatan.

Ketika ada orang bertanya, mengapa anda masih merokok padahal tahu resiko merokok. Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, memang akan menyulitkan. Jawabannya terlalu panjang dan beresiko untuk disalah tafsirkan banyak orang. Tetapi, inilah faktanya.

Suatu hari, tepatnya hari Sabtu tanggal 6 Juni 2009, saya mengalami penyakit aneh. Suatu penyakit di mana dokter tidak sanggup menunjukkan secara pasti penyakit apa yang menimpa saya. Dicek dengan menggunakan laboratorium terlengkap sampai kepada persoalan yang sangat kecil dan rinci sekalipun, tidak ada tanda-tanda penyakit medik. Ketika saya merasa sedang berada dalam ujung akhir cerita di dunia, merasa sedang mempertaruhkan hidup di antara dua alam, dokter keluarga kami, malah sering hanya tersenyum. Ia mengatakan, tidak ada sedikitpun tanda-tanda kematian mendekati tubuh anda.

Pernyataan dokter itu, sedikit banyak mengobati kejiwaan yang dialami. Tetapi penyakit yang menyentuh kejiwaan diri pribadi saya itu, terus membayangi setiap langkah yang kulakukan. Akhirnya  saya dan keluarga mencoba meeretas diri melalui media alternatif. Media yang tentu saja bukan dukun klenik. Saya diobati dengan pendekatan tradisional. Suatu model pendekatan yang kadang, mungkin aneh jika analisanya diletakkan dalam pendekatan medik moderen.

Dalam pengobatan alternatif itu, salah satu pendekatan yang digunakan thabib itu adalah, saya dilarang berhenti merokok. Awalnya saya aneh. Apa mungkin malah saya harus merokok lagi? Padahal waktu itu, saya sudah hampir enam bulan berhenti merokok. Sang Thabib malah berkata: Yang belum merokok jangan merokok. Yang sudah terlanjur menjadi perokok, jangan berhenti merokok. Karena anda pernah menjadi perokok, maka, teruskanlah merokok.

Saya sempat mengadukan hal ini kepada dokter pribadi keluarga kami. Dokter diam dan juga tersenyum. Dia mengatakan, ya lanjutkan saja. Tetapi jangan terlalu banyak. Cukup 8 batang per hari. Ya Akhirnya, sejak tahun 2009 itu, saya kembali merokok.

Tembakau itu Mengandung Obat

Thabib alternatif kami, suatu waktu bercerita dengan nada yang pelan. Rokok itu tetap memiliki manfaat. Tidak ada yang diciptakan Tuhan yang sipatnya sia-sia. Dalam konteks tertentu, rokok sebenarnya dapat Merelaksasi Otak Manusia. Itulah jawaban pertamanya. Ketegangan-ketegangan yang dihadapi kita dalam menjalani kehidupan ini, akan menjadi penyakit ketika otak sangat terbebani.

Jika otak terbebani, maka, degup jantung akan menjadi sangat tidak normal. Zat asam lambung juga meningkat dengan cepat. Itulah  sumber penyakit. Rentetan dan rantaiannya akan sangat panjang. Berbagai jenis penyaklit akan muncul. Rokok dalam konteks ini, menurut thabib kami, adalah dapat menjadi media toleransi stress.

Saya tertegun. Apa mungkin? Jangan-jangan thabib ini stress juga sehingga menyarankan sesuatu yang cenderung aneh. Tetapi di tengah ketertegunan saya itu, ia malah kembali berbisik.  Dia berkata:

“Begini ya … Oke ..Tembakau sering dipopulerkan penyebab berbagai penyakit manusia. Tetapi kenapa semassif itu? Saya kata dia, tahu jawabannya. Ada sesuatu yang masih disembunyikan. Apa  itu? Masih kata dia, berbagai penelitian para ahli, sebenarnya justru banyak menerangkan bahwa kampanye anti tembakau sesungguhnya adalah ulah para pebisnis farmasi. Tujuannya apa? Masih kata dia. Agar mereka mampu menjadi agen tunggal penjualan tembakau. Dalam tembakau, disinyalir mempunyai banyak manfaat untuk kepentingan medis.

Jujur saya kaget. Tetapi, dalam banyak fakta, ternyata memang ada benarnya. Bahwa merokok dalam konteks tertentu, memiliki manfaat tertentu pula. Bagi mereka yang memiliki volume kerja cukup tinggi, merokok di tempat teraman, tetap mengandung manfaat. Lalu saya sedikit menerawang, iya juga. Toch Presiden Kuba, Fiddel Castro atau bahkan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto yang justru dianggap berhasil memimpin negara Indonesia, adalah perokok berat. Bahkan mereka malah merokok menggunakan cerutu.

Di sini, kami bukan berarti sedang mengkampanyekan rokok, tetapi, di wilayah dan medan tertentu, merokok memang dibutuhkan manusia. Bagi kita yang suka merokok, perhatikan juga tempat-tempat seperti apa yang layak bagi kita untuk merokok. [Prof. Cecep Sumarna]

Komentar
Memuat...