Agama Dalam Pandangan Masyarakat Klepu | Studi Kasus Konversi Agama

1 199

Agama Dalam Pandangan Masyarakat Klepu | Studi Kasus Konversi Agama: Agama dalam konteks kehidupan masyarakat, lebih menonjol sebagai sstem sosial yang didefinisikan oleh para penganutnya yang bersumber dan berporos dari kekuatan non-empiris yang dipercayai dan didayagunakan untuk menggapai keselamatan baik untuk individu maupun untuk masyarakat luas.

Definisi dan pemaknaan agama tersebut, dipengaruhi oleh kondisi internal, seperti pendidikan, kualitas kehidupan batin, suasana keluarga dan karir kehidupannya. Sementara kondisi eksternal masyarakat yang mempengaruhi pemahaman dan cara pandang terhadap agama adalah kondisi sosial masyarakat itu sendiri, seperi keamanan, kesejahteraan, tata hubungan masyarakat serta kondisi alam lingkungan.  Ada beberapa makna yang diungkapkan oleh masyarakat desa Klepu tentang agama di antaranya adalah:

Keyakinan yang Harus Dipegangi dan diperjuangkan

Dalam konteks ini, agama secara mendasar difahami dan didefinisikan sebagai keyakinan. Kata keyakinan di sini bukan bersifat diskriptif dan evaluatif. Akan tetapi keputusan atau definisi antara dalam suatu kondisi dari sebuah rasionalitas yang diakukan kepada batinnya.  Pemahaman dalam konteks ini termasuk bagian dari dimensi ideologikal. Dimensi ini sebagai para meter untuk mengukur seberapa jauh seseorang mempercayai doktrin-doktrin agamanya, misalnya tentang keberadaan dan sifat-sifat Tuhan, ajaran-ajaran  dan takdirNya. Kepercayaan kepada Tuhan dan sifat-sifat-Nya merupakan inti pokok dari adanya rasa agama.

Agama yang dipahami sebagai keyakinan yang harus dipegangi dan diperjuangkan, merupakan pemahaman yang diungkapkan oleh mayoritas responden. Hal ini menunjukkan bahwa tipologi keagamaan masyarakat adalah bernuansa doktriner dan dogmatis responsive. Keberagamaan jenis ini termasuk keberagamaan yang bertipikal ideological.

Makna dari ungkapan “keyakinan yang harus dipegangi dan diamalkan dalam kehidupan”, menunjuk pada pemahaman orang agamawan yang professional bahwa mengalkan agama harus sesuai dengan patron dan contoh yang disampaikan oleh konsep agama itu sendiri.  Hal ini logis, karena rata- rata dari mereka telah merasakan berbagai doktrin agama. Termasuk posisi dan ritualitas ajaran agama. Mereka memanggap bahwa hal tersebut harus dipegangi secara kuat, karena bisa jadi mereka menyadari bahwa dengan elemen- elemen ritual itu makna dan nilai keagamaan dapat dirasakan. Termasuk juga dalam hal perintah dan larangan, para muallaf berpendapat lebih kuat dari agamawan turunan bahwa hal tersebut harus dijalankan. Ketika orang berpikiran moderat tentang keberagaman keagamaan,  ternyata tidak menyurutkan keyakinan dan komitmennya terhadap agama. Orang beragama harus tegas untuk dilaksanakan dan diaktualisasikan bagi yang berkeyakinan, bukan bagi orang lain.

Aturan Tuhan yang Harus Dipegangi.

Selain dimensi keyakinan, agama juga dipahami sebagai aturan Tuhan. Kata “aturan Tuhan” adalah bahasa yang menunjuk pada konstitusional yang sumber secara otoritatif yang berada di luar kemampuan dan pengalaman kemanusiaan. Kata Tuhan juga menunjuk pada semangat yang tinggi dalam menjalankan agama yang baru diyakininya secara formal. Semangat tersebut tercermin dalam pemahaman dia terhadap agama. Meskipun agama memiliki nilai ilahiyyah, tetapi nilai tersebut dijalankan dengan kondisi individu yang bersangkutan. Penisbatan agama kepada kemutlakan Tuhan memang perlu. Akan tetapi itu menjadi kuarang berfungsi kalau manusianya tidak mampu memahmi visi dan misi Tuhan yang dialamatkan kepada manusia.

Pemahaman ini mengusung nilai progresifitas. kata “aturan Tuhan” dalam sub ini  bersifat memaksa untuk melakukan, maupun yang memaksa untuk meninggalkan. Agama dalam konteks ini lebih menampakkan sebagai yuridis formal. Agama yang dipandang sebagai aturan atau syari’at yang harus dijalankan. Para Converts berpandangan demikian, bisa jadi karena merasa selama itu pengalaman keagamaan sebelumnya tidak memiliki titik fokus. Agama hanya bersifat status yang melekat pada status formal saja.

Jalan dan Pintu untuk Mencapai Keselamatan Akhirat

Agama dalam konteks ini lebih dipahami sebagai misi agama yaitu misi keselamatan. Sebagaimana misi sebelumnya, keselamatan ini kadang kadang memperuncing dialog keagamaan. Hal ini karena seluruh agama menawarkan konsep keselamatan. Namun ketika visi tersebut dijabarkan dalam misi, maka akan terjadi dinamika yang dinamis antar agama. Tetapi jika visi tersebut hanya diadu dengan visi lain, maka akan muncul doktrin ekstrim dan dalam waktu yang sama akan muncul radikal irrasional.

Dalam konteks ini, agama lebih ditonjolkan dari sisi spiritual batiniyah, dari pada etos sosial. Meskipun dalam zaman tertentu, spiritual batin sangat dibutuhkan sebagai kontrol bagi etos sosal dan modernitas. Agama yang dipahami demikian adalah agama ritual. Sikap beragama seperti ini bisa jadi karena dipengaruhi oleh rasa apatis terhadap pengalaman beragama tertentu. Dia berusaha bangkit dan mencari spiritualitas baru yang dapat dirasakan, khususnya aspek ketenangan batin.

Sikap yang demikian ini, bisa jadi karena bersangkutan telah sering menerima doktrin keselamatan daru suatu ajaran agama, tetapi yang bersangkutan belum mampu untuk mengakap promosi tersebut. Ketika dia mendapat dan menangkap suatu tawaran baru, dan dia dapat menerimanya, lalu jiwanya merasa berkecukupan dengan tawaran itu.

Agama: Pegangan Hidup

Ketika agamawan memahai bahwa agama adalah pegangan hidup, ini karena didasarkan keyakinan atas ralitas yang dirasakan oleh manusia. Ia merasa makhluk yang lemah dan penuh keterbatasan. Oleh karenanya, ia harus tunduk pada kekuasaan yang dipandang datang dari luar diri dan kemampuannya. Sikap ini ada yang dikategorikan rasional, dan ada yang  irrasional.

Namun apa pun sikap penerimaan manusia terhadap ajaran agama, dipastikan telah melalui seleksi daya rasionalnya. Hanya saja daya rasional tersebut dilatarbelakngi kondisi yang bermacam macam.  Ketika agama diposisikan sebagai pegangan hidup,  akan mempengaruhi semangat untuk menjalankan segala tugas dan tanggung jawab yang datang atas nama agama.

Agama yang dipandang sebagai pegangan hidup adalah pandangan yang didasarkan atas fungsi dan misi agama yang alami. Ketika agama diposisikan demikian, yang muncul adalah sikap kompetitif yang sehat. Karena apapun yang sedang dilakukan dan sedang dijalani oleh agamawan, dia akan selalu merasa bahwa dia sedang menjalani misi agamanya. Atau sebaliknya, kehidupannya harus dijalankan atas misi agamanya.

Sebagai Identitas Sosial

Ada dua hal yang menjadikan agamawan bersikap terhadap agamanya secara simbolik; Pertama, berkaitan dengan sumber daya individunya,  Kedua, faktor individu terhadap beragama.  Dalam posisi ini, agama hanya dipandang sebagai pemenuhan status dan posisi sosial. Sebelum mereka menjadi muallaf meskipun telah beragama dan berganti agama, dia masih belum dapat merasakan hakikat dan nilai dalam beragama. Hal ini bukan karena agama tidak membuka kunci dirinya untuk dipahami oleh pengikutnya, melainkan bisa jadi karena yang bersangkutan tidak berusaha untuk memahami agama yang sedang digelutinya.

Ada beberapa faktor yang dominan, pertama, kondisi ekonomi dan kehidupan yang berpotensi untuk memperankan status agama. Kedua, peran tokoh dan institusi agama dalam mengorganisir ummat dalam wadah keyakinan, tidak memastikan dan merumuskan standar yang jelas terhadap kompetensi keagamaan, baik dari sisi ideologi, praktik dan moral. Ketiga, status sosial keagamaan, dibutuhkan oleh isnstitusi agama itu sendiri sebagai kekuatan eksoterik secara politis. Kalau hal demikian, maka para tokoh dan juru agama harus membaca realitas kondisi keagamaan masyarakat, yang selanjutnya mengambil langkah langkah konkret untuk merumuskan suatu gerakan yang mendasar. Namun harus disadari gerakan yang mendasar tersebut jangan hanya lebih menonjolkan nuansa politis yang strategis.

Pemahaman agama yang diungkapkan oleh masyarakat sooko, menunjuk pada fungsi dan misi agama yang relatif alami, dalam artian pemahaman tersebut bermuara pada sumber doktrin agama itu sendiri. Pemahaman tersebut terjadi bukan karena nuansa politis, tetapi atas kekayaan pengalaman mereka dalam menjalankan berbagai keragaman keyakinan.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Agus, Bustanuddin, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006

Beilharz, Peter, Trori Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Boisard, Marcel A, Humanisme Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1980

Connoly, Pitter (ed), Approacher to The Study of Relegian,Terj. LKiS,  Yogyakarta: LKiS, 2002.

Cremers, A, Tahap-Tahap Perkembangan Kepercayaan: Menurut James W. Fowler, Sebuah Gagasan Baru Dalam Psikologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1995

Daradjat, Zakiyah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2005

From  Erich,  Konsep Manusia Menurut Marx, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Frondizi, Risieri, Pengantar Filsafat Nilai, Terj. Cuk Ananta Wijaya, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001.

Geertz, Clifford, Kebudayaan dan Agama, Jakarta: Kanisius, 2003

Hendropuspito, D, Sosiologi Agama,  Yogyakarta: Kanisius, 1983

Khaldûn, ‘Abd al-Rahmân Ibn, Muqaddimah ibn Khaldûn, Beirût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993

Litle, David, John Kelsay, Abdul Aziz A. Schedina, Kebebasan Agama dan Hak hak Asasi Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997

Malefijt, Anne Marie de Wall, Religion and Culture, New York and London: The Macmillan Company, 1968

Moleong,  Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif,  Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002

Nasr, Seyyed Hossein, Knowledge and The Sacred,  New York: State  University  of New York Press, 1989

Norbeck, Edward, Religion in Human Life, New York: Holt Rinehart and Winston Inc.1974

Rachman, Budhy Munawar, Islam Pluralis, Jakarta: Paramadina, 2001.

Ritzer,  George, Douglas J: Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Prenada Media, 2003.

Suseno, Franz Magnis, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme,  Jakarta: Gramedia, 1999

Thouless, Pengantar Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000

  1. Muhamad Farhan berkata

    Assalamu’alaikum..
    Dalam studi kasus konversi Agama di Desa Klepu yakni bahwasannya dapat disimpulkan masyarakat mengganggap agama itu Keyakinan yang Harus Dipegangi dan diperjuangkan, Jalan dan Pintu untuk Mencapai Keselamatan Akhirat, Aturan Tuhan yang Harus Dilaksanakan, dan agama sebagai pedoman hidup.
    Wassalamu’alaikum..

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.