Agama dan Aktualisasi Kebebasan | Kesadaran Baru dalam Beragama

0 49

Agama dan Aktualisasi Kebebasan: Berangkat dari tesis Marx, timbul pertanyaan, “salahkah mencari dan kembali kepada Tuhan (agama) di saat jiwa manusia sedang mengalami dan menghadapi probem? Secara logika tentu saja tidak. Karena Tuhan tidak pernah membuat suatu aturan dan birokrasi, baik yang menyangkut ruang, waktu status dan kondisi psikologi manusia. Siapa pun, apa pun, di mana pun dan dalam kondisi apa pun, manusia dapat menjumpai Tuhan untuk mengadukan segala persoalan yang sedang dihadapinya. Manusia bebas untuk berkomunikasi dan mendekati Tuhan. Hal ini berlaku dalam situasi dan kondisi apapun, sebagaimana manusia bebas untuk berpaling dan mengubur esensi dan eksistensi Tuhan dari diri manusia dalam kehidupan.

Ketika manusia sedang menjatuhkan pilihan jiwanya terhadap salah satu dari sistem keyakinan, berarti manusia telah menjalankan hak kebebasannya untuk menerima konsep dari suatu keyakinan. Meskipun dalam waktu yang sama ketika manusia menolak konsep kehadiran Tuhan yang ditawarkan oleh sebuah konsep keyakinan, juga bagian dari ekspresi aktualisasi kebebasan asasinya. Dalam hal ini, orang yang sedang mencari dan menerima suatu konsep keyakinan, berarti dia telah mengaktualisasikan kemerdekaannya yang paling tinggi, dan tengah membebaskan dari dominasi egonya untuk bercitra ilahi.

Peneguhan dan penghayatan iman bagian dari pembebasan diri. Karena pilihan untuk mencintai dan pasrah kepada Tuhan sebagai sumber kebaikan dan pilihan bebas dari sebuah perjalanan dan pengembaraan spiritual jiwa. Kebebasan ini tidak ada seorang pun yang melarang dan  menghalangi. Ketika manusia berdialog dengan Tuhan, pada hakekatnya manusia berdialog dengan dirinya sendiri sesuai dengan kondisi jiwa masing- masing.

Karya dan kehendak Tuhan hanya akan berlabuh pada manusia yang mau dan sedang membuka pintu jiwanya. Oleh karenanya, ketika manusia sedang dan dalam bergelimang dengan dosa, semestinya manusia diikuti dengan rasa ingin menghapuskannya. Dalam konteks demikian, agama idealnya tidak dipahami hanya sebagai himpunan dogma tentang surga dan neraka.   Jika hal itu terjadi, maka ritual agama akan bergeser menjadi magis, yaitu upaya untuk memperoleh tambahan kekuatan supra natural untuk memuaskan ego duniawinya. Bukan sikap kepasrahan kepada Tuhan dan alam lingkungannya.

Kesadaran Baru dalam Beragama

Perkembangan dunia teknologi dan informasi, agama akan terjebak dalam lingkaran komoditas bisnis, yang sering dipandang dengan menggunakan logika bisnis, yaitu laba rugi. Dalam hal ini, setidaknya agama harus menyesuaikan dengan hukum alam marketing. Kalau tidak, bias  jadi agama tidak sekadar ditinggalkan, tetapi tak terketahui rimbanya oleh manusia.

Di zaman modern ini, banyak masa media yang menyampaikan informasi agama dengan berbagai model secara kompetitif. Ini belum ditambah dengan pusat pusat kajian agama, baik formal akademikal maupun non formal. Ini menunjukkan bahwa tawaran moral agama dan informasi tentang agama tidak lagi bersifat eksklusif yang hanya dimiliki dan disodorkan pada kelompok dan status status tertentu. Dalam hal ini, seseorang mungkin dapat mempertahankan bangun teologi yang dianutnya pada masa lalu. Tetapi juga terbuaka peluang untuk menerima perubahan konsep keyakinan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor dimaksud, baik secara internal jiwa dan kondisi sikologis yang bersangkutan, maupun secara eksternal, yaitu alam dan lingkungan kehidupannya. Dalam konteks ini, konversi agama dan keyakinan menjadi sesuatu yang lazim.

Sebelum manusia bersentuhan dengan konsep keyakinan, terlebih dahulu manusia telah dibekali dengan daya dan kemampuan nalar. Salah satu fungsi nalar adalah untuk merombak segala hal yang menghalangi kerja nalarnya. Perubahan dan perombakan nalar manusia tidak pernah mencapai garis limit. Sehubungan dengan realitas di atas, maka akan tidak terlalu heran terhadap peristiva konversi agama.

Agama yang dipromosikan dengan sikap ego, eksklusif dan cenderung hanya menonjolkan perbedaannya dengan institusi agama lain secara teologis, kurang diterima oleh ummat. Karena penonjolan aspek justivikasi kebenaran  teologis rawan dengan muatan politis, dan rawan dengan benturan kepentingan. Dan pada gilirannya pada masa yang akan datang agama akan menghindarkan doktrinnya terhadap faham absolutism. Hossein Nasr menyebutnya dengan relatively absolute. Hal ini karena setiap agama mesti memiliki konsep keilahiyatan. Jika aspek ini yang ditonjolkan akan riskan terhadap benturan sesama institusi agama yang sama sama memiliki misi suci.

Oleh Ahmad Munir


Bahan Bacaan

Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: Remaja Rosda Karya, Cet. 2002)

Hendropuspito, D, Sosiologi Agama,  Yogyakarta: Kanisius, 1983

Komaruddin Hidayat, Wahyu Di Langit Wahyu Di Bumi, (Jakarta: Paramadina, 2003)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.