Agama dan Dinamika Masyarakat

0 84

Penyebutan “agama” yang dikaitkan dengan “masyarakat” tidak lain adalah bidikan masyarakat terhadap fungsi dan manfaat agama. Fungsi agama bagi masyarakat tertentu, tidak lepas dari historis tantangan yang meliliti problem kehidupan masyarakat yang akan menerima ajaran agama tersebut. Problem masyarakat ketika dikaitkan dengan kehadiran sebuah ajaran agama dapat dikembalikan kepada tiga hal, yaitu:

  1. Problem ketidak-pastian

Ketidak pastian adanya sebuah aturan yang jelas dan konkret, akan menghambat adanya keputusan, dan ketiadaan keputusan akan memberi peluang manusia bertindak sesuai dengan egonya masing-masing. Ketika ego masing-masing tidak terkendalikan, maka gesekan antara satu dengan yang lain tidak dapat dielakkan. Gesekan ini ketika datang putusan,  disebut sebagai kejahatan atau kedlaliman. Dalam hal ini, agama menampilkan kesannya sebagai sesuatu yang tegas, lugas, tidak kenal kompromi serta diktator. Kesan-kesan ini sebagai bias kondisi yang ada dalam masyarakat agar dapat terimbangi dengan ajaran yang datang kemudian.

  1. Problem ketidak-mampuan

Ketika aturan tidak ada, akan muncul ketidak pastian, dan ketika ketidak-pastian hadir dalam kehidupan, kejahatan akan menjadi rajanya, dan ketika kejahatan menjadi raja, maka suasana kehidupan terbelah menjadi dua, yaitu; kelompok kuat dan menang di satu sisi, dan kelompok lemah, tertindas di sisi lain. Dalam kondisi ini, agama lebih dekat dan seolah-olah menjadi hak paten bagi kelompok lemah dan tertindas. Dalam kondisi ini, agama tidak bertindak sebagaimana seorang pembelah bambu, menginjak satu pihak dan mengangkat pihak lain. Agama  selalu berada di tengah sebagaimana problem yang menengai antara kedua kelompok tersebut dengan memberikan terapi masing-masing. Terhadap kelompok penindas, agama mengingatkan bahwa dalam tindakan yang dilakukan itu merugikan orang lain yang harus segera diakhiri. Terhadap kelompok tertindas agama membangkitkan semangat untuk keluar dari keterpurukan yang melilitinya. Dengan demikian, terhentinya penindasan adalah ditentukan oleh action manusianya. Agama hanya memberikat spirit dan dorongan kepada kedua belah kelompk agar dapat bersanding kembali secara harmonis. (Baca:  Al-Rûm:14)

  1. Problem kelangkaan

Akibat dari kekuasan terhadap alam yang terlalu didominasi oleh sebagian kelompok, menyebabkan kelangkaan bagi kelompok lain. Dominasi tersebut bisa berupa penguasaan materi maupun penguasaan hak dan kewenangan sehingga tidak ada kontrol yang mampu menghentikan ketika terjadi ketidakseimbangan. Berbagai kekurangan yang melanda sebuah kelompok masyarakat adalah sebagai bias dan side effect dari tindakan kelompok lain. Untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat biasanya lebih mengedepankan emosinya dengan lari kepada agama. Padahal secara rasional sebenarnya harus lebih dahulu dicari biang penyebabnya. Dengan pengedepanan emosi secara cepat dan menaruh kepercayaan yang kurang proporsional, agama dipeluk secara kuat oleh masyarakat di satu sisi, tetapi problem kadang-kadang nyaris tidak dapat dikendalikan. Hal ini karena refleksi masyarakat yang kurang kritis terhadap problem yang dihadapi. Mereka hanya mengandalkan persepsi keyakinannya yang kuat bahwa agama memiliki kesanggupan yang definitif dan operatif  dalam memberikan jaminan keselamatan bagi manusia. Dalam hal ini, secara jujur harus dikatakan bahwa dalam kasus ini bukan agama yang berfungsi, tetapi manusia yang menaruh label fungsi terhadap agama.[1]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.