Agama dan Etos Perubahan

0 11

Penelitian penelitian ilmiah yang objeknya mengambil wilayah keagamaan,  akan dihadapkan pada dilema sikap objektivitas penelitinya. Akan tetapi, “penelitian” yang menjadi konteks utama dalam kegiatan, akan memberikan penekanan kepada peneliti  se-objektif mungkin. Salah satu bentuk objektivitas yang harus ditampilkan oleh peneliti adalah, mensupremasikan pendekatan ilmiah secara objektif dengan tidak melibatkan keyakinan dan praduga pribadi kepada objek yang akan diteliti. Hal ini karena yang ingin didapat oleh peneliti adalah pengetahuan yang benar tentang realitas, bukan pembenaran dari sebuah keyakinan.[1]

Secara filosofis, agama-agama samawi banyak yang berpandangan bahwa tidak ada dikotomi antara yang suci dan yang profan. Pemisahan antara agama dan berbagai bentuk aktivitas manusia, mulai dari berpolitik, berekonomi, berbirokrasi dan berbagai aktivitas kemanusiaan, sulit dirumuskan. Hal ini karena agama bukan sekadar teknik yang dapat disiasati dan diantisipasi. Agama sebagai nilai suci yang kesuciannya telah berunsur dengan jiwa manusia. Tidak ada batas antara politik dan agama, ekonomi dan agama dan lain-lain dalam pengertian yang sempit. Islam mengajarkan sekaligus mendoktrinkan bahwa apa yang dilakukan oleh manusia hendaknya dimuarakan kepada keridla’an ilâbi. (Baca: Q.S. Al-An’âm/6: 162-163).

[1] Taufi Abdullah, (ed), Metodologi Penelitian Agama, (Yogyakarta: Tiara wacana, 1989), h. 38.

 

Dimensi Empiris Agama

Istilah “empiris” dalam ungkapan sub ini, hanya dikehendaki untuk menunjukkan hubungan metodologis antara si peneliti dan objek yang diteliti (agama) sebagai sasaran penelitian. Jadi yang dikehendaki dengan dimensi empiris agama adalah segi-segi agama yang dapat dialami oleh seorang peneliti ilmiah untuk mendapatkan keterangan ilmiah.

Dimensi empiris agama dapat dijelaskan bukan hanya karena agama merupakan kategori sosial. Akan tetapi karena agama menampilkan diri sebagai peristiwa yang sedang berjalan yang didukung oleh kelompok-kelompok manusia, suku bangsa yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Secara defakto, agama lahir dan berkembang di tempat geografis tertentu yang sulit dipisahkan dengan kultur  masyarakat yang memeluknya. Oleh karenanya, agama-agama besar tertenu memiliki konotasi tempat sebagai sapaannya. Arab atau Timur Tengah, adalah identik dengan Islam, Barat identik dengan Kristen, negara-negara Asia sebagian besar identik dengan Hindu dan Budha dan lain-lain.

Dalam dunia perlambangan, ada dua hal yang perlu dicermati; pertama, sesuatu rohaniah (sakral) yang ingin dijelaskan. Kedua, benda, lambang yang dipakai untuk menjelaskan. Hakikat rohaniah yang hendak dijelaskan tidak dapat dilihat, didengan dan diraba. Oleh karenanya, benda-benda yang dipakai untuk menjelaskan harus dapat dilihat, didengar, dicium, diraba dan lain-lain. Benda-benda tersebut berfungsi tidak sekadar untuk mengartikan yang sakral, tetapi juga untuk membantu menghadirkan yang sakral.

Dalam dunia perlambangan (simbol), “air”  tidak sekadar dijadikan simbol sebagai sarana untuk meredakan kehausan maupun kepanasan, tetapi juga sebagai simbol pembersihan kotoran, atau tempat hadirnya sang Suci yang akan membersihkan rohani. Perlu dicermati bahwa, dalam perlambangan ini, akan terjadi dualisme visual dalam artian bahwa suatu benda-lambang yang secara visual sama, tetapi diberi arti yang berbeda bahkan bertolak belakang antara satu benda-lambang dengan benda-lambang yang lain. Babi bagi ummat muslim adalah lambang kekotoran, berbeda dengan ummat Kristen Batak yang menganggapnya sebagai lambang perdamaian.[1] Secara umum, agama minimalnya memiliki lima dimensi yaitu:

  1. Dimensi ritual, dimensi ini berkenaan dengan upacara-upacara keagamaan, ritus-ritus religius, seperti shalat, misa dan lain-lain.
  2. Dimensi mistikal, yang menunjukkan pengalaman keagamaan yang meliputi beberapa aspek, sperti concern, cognition, tras dan fear. Keinginan untuk mencari makna hidup, kesadaran akan kehadiran Sang Maha Kuasa, tawakkal dan takwa adalah representasi dari diemnsi mistikal.
  3. Dimensi ideologikal, yaitu dimensi yang mengacu pada serangkaian kepercayaan yang menjelaskan eksistensi manusia vis-à-vis Tuhan dan makhluk Tuhan yang lain. Pada dimensi inilah orang Islam memandang manusia sebagai khalifatullâh fî al-Ardl.
  4. Dimensi intelektual, yaitu dimensi yang menunjukkan tingkat pemahaman orang terhadap dokrtin agamanya.
  5. Dimensi sosial, adalah manifestasi dari ajaran agama dalam berkehidupan bermasyarakat.[2]

[1] D. Hendropuspito, O.C. Sosiologi Agama, (Jakarta: Knisius, 1983), h. 112.

[2] Jalaluddin Rahma, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1991), h. 38.

 

Selanjutnya Baca Agama dan Perubahan Sosial

Oleh: Dr. Ahmad Munir, M.Ag

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.