Agama dan Kebahagiaan Hidup

Agama dan Kebahagiaan Hidup
0 83

Jika ada agama yang mengajarkan hidup susah, maka, dapat dipastikan, ajaran itu bukan bersumber dari Tuhan yang benar. Bagaimana mungkin disebut bersumber dari Tuhan yang benar, lha ya Allah menyuruh setiap hamba-Nya untuk berada dalam segenap kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Tuhan yang mengajarkan keharusan hidup susah, adalah Tuhan yang diproduk oleh imaginasi manusia lemah tanpa kreativitas sedikitpun untuk membangun bumi. Tuhan yang sesungguhnya Tuhan, adalah Dia yang selalu memberi spirit akan pentingnya menikmati perjalanan kehidupan di muka bumi agar ia mampu bersyukur bahwa apa yang diciptakan Tuhan itu luar biasa indahnya.

Jika dalam realitasnya, banyak di antara manusia gagal mencapai impian kebahagiaannya. Maka, Tuhan hanya mengajarkan pentingnya melakukan adaftasi, agar setiap jalan yang kita lalui tetap didasari rasa optimisme yang tinggi. Inilah yang dalam teori Islam disebut dengan konsep raja’ atau berharap akan datangnya pertolongan Allah. Kita tetap dituntut untuk terus melakukan langkah dan upaya perbaikan diri, karena kita yakin bahwa dalam segenap langkah yang dilakukan, Tuhan akan menyertai kita semua.

Tuhan justru akan marah kepada mereka yang berkeluh kesan dan berputus asa dalam menjalani hidup. Tuhan bukan hanya sekedar tidak suka terhadap tipikal manusia berjenis perilaku seperti ini, tetapi, bahkan Tuhan akan melaknat mereka yang berputus asa terhadap anugerah Tuhan. Jangankan soal anugerah Tuhan, wujud yang Maha Pemurah ini bahkan menjanjikan dirinya sendiri, bahwa sebesar apapun dosa manusia, ampunan Tuhan akan selalu lebih besar dari dosa yang mampu kita buat.

Tuhan Hanya Menciptakan Kebaikan

Jika ini menjadi nalar aktivitas kita, lalu, pantaskah kita menyatakan bahwa segenap kebaikan telah dicipta Tuhan secara permanen. Bukankah agama benar justru menyatakan bahwa Allah hanya memberi segenap kebaikan dan manusialah yang selalu mengambil segenap keburukan. Karena itu, tidak pantas jika segenap keburukan atau kehinaan ditujukan seolah merupakan produk Allah. Semoga pergantian detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun yang kita lalu dalam pengembaraan di dunia. Akan selalu menjadi jalan penting untuk membangun kebahagiaan kita di muka bumi … Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...