Agama dan Kehidupan | Kritik Terhadap Perilaku Keagamaan

0 697

Agama dan Kehidupan. Sikap yang paling menonjol dalam kehidupan beragama adalah keyakinan terhadap adanya kekuatan gaib, atau supernatural yang berpengaruh terhadap kehidupan. Di samping itu, sikap beragama juga dapat menimbulkan sikap mental tertentu. Sikap dimaksud seperti rasa takut, rasa optimis, pasrah, dan lainnya dari individu dan masyarakat yang memper­cayainya. Karenanya, keinginan, petunjuk, dan ketentuan kekuatan gaib harus dipatuhi.  Kepercayaan dalam beragama yang bertolak dari kekuatan gaib, terkadang juga tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional. Tentu hal ini berlaku dalam pandangan individu dan masyarakat modern. Hal ini karena masyarakat modern terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini ada kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empirik dan ilmiah.

Sikap pasrah dan percaya terhadap sesuatu yang dianggap dan diyakini sebagai yang suci juga ciri khas kehidupan beragama. Adanya aturan terhadap individu dalam kehidupan bermasyarakat, berhubungan dengan alam lingkungannya, atau dalam berhubungan dengan Tuhan juga ditemukan di setiap masyarakat, di mana dan kapan pun. Adanya aturan kehidupan yang dipercayai berasal dari Tuhan juga termasuk ciri kehidupan beragama.

Ekspresi religius ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia, nilai, moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pembe rontakan, perang, dan lain sebagainya. Tidak ada aspek kebudayaan lain dari agama yang lebih lugs pengaruh dan implikasinya dalam kehidupan manusia.   Aspek budaya atau kultural dinilai sangat penting oleh ahli antropologi dan budayawan yang berpandangan agama sebagai yang membentuk dan mewarnai suatu kebudayaan.

Sikap beragama, baik sebagai sistem sosial budaya atau sebagai subsistem yang universal dan berbagai tipe penampilan beserta penghayatannya di kalangan kelompok-kelompok masyarakat, menjadikannya sangat penting dipahami oleh setiap individu dan lembaga yang berurusan dengan masyarakat. Orang tua penting memahami kehidupan beragama anak-anak dan tidak mempercayakan saja kepada lembaga pendidikan yang mereka masuki. Pemahaman itu penting supaya kehidupan beragama mereka tidak tergelincir kepada kecenderungan penghayatan agama yang mengorbankan orang lain.

Realitas kehidupan umat beragama di zaman modern ini,   menjadi menciut dalam aspek kecil dari kehidupan sehari-hari. Aspek dimaksud, yaitu yang berhubungan dengan yang gaib dan ritual saja. Kehidupan beragama umat Islam dewasa ini menjadi sub­sistem sosial budayanya. Fenomena penciutan kehidupan beragama ini karena pengaruh budaya modernism dan sekularisme. Namun demikian, meskipun pengaruh modernisme dan sekularisme demikian kuat, ia juga menimbulkan gerakan dalam rangka melawan dominasi modernisme dan sekularisme, seperti aliran skripturalis dan gerakan teror.

Kritik Terhadap Perilaku Keagamaan

Sigmund Freud dan  Karl Marx bertesis bahwa manusia membutuhkan agama atau agama disapa oleh manusia ketika manusia sedang dalam kondisi yang tak terkendalikan kelemahannya atau ketika manusia sedang mengalami kesusahan, kesulitan yang sudah tidak teratasi oleh kemampuan dan usaha dirinya. Lebih dari itu, Tuhan hanyalah merupakan produk khayalan manusia ketika harapan dan kekuatan dari dirinya tak kunjung datang. Tesis kedua tokoh tersebut tidak berangkat dari dalil dan ajaran kitab yang disucikan oleh agama apapun. Tesis tersebut berangkat dari hasil pengamatan dan penelitian empiri terhadap perilaku kaum agamawan yang secara psikologis merasa tertindas dan dipresi.

Menurut pengalaman Marx, ketika manusia sedang menghadapi problem kehidupan yang harus diselesaikan dan dicarikan solusi, para agamawan datang dan hanya menawarkan problem baru. Yaitu tawaran untuk memikirkan sesuatu yang diluar apa yang sedang dihadapi dan dirasakan, yaitu berpikir dalam dunia ketuhanan. Dalam pandangan Marx yang empiris, realitas ini tidak menjadikan masalah dan problem kemanusiaan teratasi, tetapi justeru menghadirkan problem baru yang sebelumnya tidak diundang.

Dalam realitas tersebut, Marx tidak berpikir terhadap Tuhan yang dipandang sebagai yang ghaib dan di luar realitas empiri. Akan tetapi Marx hanya berpikir yang empiri dan reality. Dalam pandangan filosofi, Marx ingin mengemukakan kritik terhadap praktik keagamaan yang bersifat eskapis. Eskapis dimaksud adalah menjadikan agama sebagai tempat pelarian dari pergulatan sosial yang memerlukan solusi dan tindakan konkret. Praktik keagamaan yang demikian dianggap sebagai opium. Yang hanya diharap untuk melupakan penderitaan secara sesaat, sementara penyakit dan akar masalah beum tertangani secara konkrit.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Bustanuddin Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006)

Anne Marie de Wall Malefijt, Religion and Culture, (New York and London: The Macmillan Company, 1968)

Hendropuspito, Sosiologi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1983)

Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, (Jakarta: Kanisius, 2003)

Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1998, Cet. 1)

Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia, 1999)

Komentar
Memuat...