Agama dan Perubahan Sosial

0 547

Dalam pandangan sosiolog, agama kadang-kadang hanya didefinisikan sebagai kepercayaan adanya wujud-wujud spiritual.[1] Definisi ini dirasa hanya bercorak intelektualis, tidak mengacu kepada emosi-emosi khidmat yang menjadi ciri khusus dari sistem kepercayaan dari suatu agama. Definisi tersebut memberikan kesan bahwa sasaran agama hanya berpengaruh pada wujud personal. Padahal dalam waktu yang bersamaan, antropolog sering memberikan data bahwa spiritual suatu agama selalu memberikan kekuatan impersonal.

Akhirnya dalam era belakangan, sebagian antropolog ada yang mendifinisikan agama sebagai ekspresi suatu bentuk ketergantungan pada kekuatan di luar kekuatan manusia, yaitu kekuatan yang dapat dikatakan sebagai kekuatan spiritual atau kekuatan moral. Ekspresi penting dari ketergantungan manusia kepada kekuatan tersebut  tercermin dalam sistem peribadatan dan sistem sosial yang digagas oleh sistem kepercayaan tersebut. [2] Pemahanan agama dalam konteks ini, mendekati konsep yang diungkapkan oleh Durkheim, yang menekankan ciri kolektif atau sosial dalam agama. Menurutnya agama adalah pantulan dari solidaritas sosial.[3]

Sementara itu, Geertz  mendefinisikan agama sebagai  sistem lambang yang berfungsi menegakkan berbagai perasaan dan motivasi yang kuat, berjangkauan yang luas dan abadi pada diri manusia dengan merumuskan berbagai konsep mengenai keteraturan umum eksistensi, dan dengan menyelubungi konsepsi-konsepsi dengan sejenis faktualitas, sehingga perasaan dan motivasi secara unik tampak realistik.[4] Tidak jauh dengan Durkheim, Geertz ketika membahas bagaimana lambang-lambang konsep itu diselubungi dengan tuangan jenis faktualitas, dia menekankan pada peribadatan kolektif. Dengan definisi tersebut, Geertz dapat menampilkan secara jelas berbagai kegiatan politik atau moral ke dalam cakupan gejala keagamaan di mana peribadatan-peribadatan kolektip memainkan peran.[5]

Weber yang digelari sebagai pelopor sosiologi motif, di dalam tulisannya ia telah memerankan agama sebagai sumber motif  bagi perilaku manusia. Karya Weber  yang monumental “The Protestan Ethik and the Spirit of Capitalism”, ia menuai protes dan dituduh sebagai uraian mengenai agama secara sempit, atau sebagai metanarasi mengenai ideology serta pentingnya ide-ide dalam kehidupan sosial.[6] Oleh karena itu, Weber menentang konsep utilitarianisme yang mengkultuskan pada manfaat yang hendak menggantikan segala pertimbangan mengenai kualitas dengan kuantitas. Dalam hal ini, Weber berpandangan bahwa dalam perubahan sosial, rasionalisasi sebagai proses yang tidak dapat ditawar, tetapi sifatnya ambivalen.

Pemikiran Weber yang berkaitan dengan perubahan sosial didasarkan pada bentuk rasionalisme yang di miliki. Dengan essai singkatnya, bahwa bersamaan dengan kapitalisme, akan muncul cara hidup baru, atau kapitalisme lahir bersama dengan cara hidup yang baru, rasional dan kalkulatif.  Weber mengkritik bahwa Calvinisme mendorong asketisisme. Pengumpulan modal yang didasarkan pada perolehan perkenan Tuhan yang lebih besar, dan bukan ditujukan untuk kepentingan kebutuhan kehidupan yang riel, memungkinkan akan terjadinya transisi dari feodalisme menuju kepada kapitalisme. Maka logika pengejaran kekayaan duniawi demi Tuhan, akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Jika agama dipersepsikan akan membantu lahirnya kapitalisme, dalam waktu yang bersamaan, kapitalisme akan menghancurkan agama itu sendiri.

Weber melanjutkan kritiknya bahwa, asketisisme sebenarnya hendak mengupayakan kebaikan, tetapi akhirnya menciptakan kejahatan. Jika Marx merisaukan bahwa problem modernitas adalah kapitalisme, bagi Weber kapitalisme adalah bagian fundamental dari problem tersebut, dan hanya sebagai bagian saja. Bagi Weber, kelas-kelas tidak dan tak dapat melakukan aksi, yang dapat adalah kelompok, termasuk kelompok yang berpihak pada suatu kelas.[7] Bagi Weber, pengelompokan dalam masyarakat didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu, berdasarkan class (pengelompokan berdasarkan ekonomi), status (pengelompokan berdasarkan kondisi dan kepentingan sosial) dan party (pengelompokan berdasarkan kepentingan politik). Dasar dari pengelompokan itu adalah kesadaran kelas yang pada awalnya ada pada kesadaran individu untuk kepentingan bersama. Kelas sosial tidak pernah berbentuk asosiasi, kecuali jika ada kepentingan kuat untuk memperjuangkan nasib bersama atau social action. Kelas sosial bukan muncul dari kekuasaan ekonomi itu sendiri, melainkan munculnya kekuasaan ekonomi yang dihembuskan oleh kekuatan bidang lain.[8]

Kemajuan sebuah masyarakat, rata-rata diwarnai oleh rasionalisme dalam kehidupannya. Kemajuan masyarakat barat didasarkan pada kehidupan yang bersifat operational-teknis, sehingga perilakunya mudah diperbaiki dan ditingkatkan secara terus menerus. Menurut Weber, bentuk rationalisme meliputi “mean” (alat) yang menjadi sasaran utama serta “ends” yang meliputi aspek kultural. Dengan demikian, kemajuan kehidupan sebuah masyarakat didasarkan pada pola pikir yang rasional yang ditunjang oleh perangkat teknologi yang dimiliki serta kultur dan budaya yang mendukung.

 

  1. Tradisional Rationality

Model ini yang menjadi tujuan adalah perjuangan nilai yang berasal dari tradisi kehidupan masyarakat, sehingga model ini ada juga yang menyebut sebagai tindakan yang non rasional. Dalam masyarakat dikenal adanya aplikasi nilai, di mana setiap kegiatan selalu berhubungan dengan orientasi nilai. Dalam hal ini, norma hidup bersama tampak lebih kokoh dan berkembang.

  1. Value Oriented Rationality

Suatu kondisi dimana masyarakat melihat nilai sebagai potensi hidup, sekalipun tidak aktual dalam kehidupan keseharian. Kebiasaan ini biasanya didukung oleh perilaku hidup beragama serta budaya masyarakat yang telah mengakar dalam kehidupan.

  1. Affective Rationality

Rasional ini bermuara dalam hubungan emosi yang sangat mendalam, di mana ada relasi khusus yang tidak bisa diterangkan di luar lingkaran tersebut. Seperti hubungan suami-isteri, orang tua-anak dan lain-lain.

  1. Purposive Rationality

Rasional ini lebih dikenal dengan rationalitas instrumental, yaitu bentuk rasional yang paling tinggi dengan menyertakan unsur pertimbangan pilihan yang rasional  sesuai dengan tujuan tindakan dan alat yang dipilihnya. Dalam hal ini, rasionalitas ekonomi sering mendominasi sebagai pilihan utama yang mampu menggerakkan menuju perubahan sosial. Rasional ini berkembang di Barat. Bagi mereka model rasional ini tepat guna, efissien serta tepat hasil untuk mencapai tujuan kehidupan keseharian. Model ini ahirnya menghadirkan pemikiran kapitalisme yang dituangkan dalam protestan ethic. [9]

 

Model rasional ini memang telah dihak-patenkan terhadap ajaran Protestan. Akan tetapi, konsep rasional tersebut biasnya juga dapat dilihat dalam ajaran dan agama lain (baca: Islam). Perubahan sosial yang terjadi pada kasus Indonesia, semenjak awal abad ke 19 di daerah pantai utara Jawa keberadaan ekonominya ternyata semakin kuat. Poses perubahan tersebut variannya hanya dapat dijelaskan melalui varian agama. Dalam hal ini, Islam sebagai agama telah memberikan penghargaan yang cukup tinggi terhadap prestasi dan kerja. Menurut Islam, seluruh aktivitas yang ditujuak untuk mencari keridlaan Tuhan, dipandang sebagai ibadah.[10]

[1] E.B. Tylor, Primitive Culture, (London: tp, 1871), h. 367.

[2] Betty. R. Schart, Kajian Sosiologi Agama, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1995), h. 30.

[3] Taufik Abdullah, Metodologi,.. h. 31.

[4] C. Geertz, Abangan:  Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981), h. 124.

[5] Betty. R. Schart, Kajian,…h. 32.

[6] Ronald Robertson (ed.), Agama: Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 5.

[7]Peter Beilharz, Teori-Teori Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h.  365.

[8] Agus Salim, Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), h. 38.

[9] Agus Salim, Perubahan Sosial,  h. 40.

[10] Taufik Abdullah, Mmetodologi,..h. 40.

 

Selanjutnya Baca Agama dan Dinamika Masyarakat

Oleh: Dr. Ahmad Munir, M.Ag

Komentar
Memuat...