Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Agustus 1997 Soeharto Membaca Teks Proklamasi Terakhir

0 12

Konten Sponsor

Jika Soekarno membaca teks proklamasi terakhir pada 17 Agustus 1966, maka, Presiden Soeharto membaca teks proklamasi terakhir pada 17 Agustus 1997. Pembacaan teks proklamasi yang setidaknya menyisakan 4 kali lagi jika mengukur dari keharusan konstitusionalnya sebagai Presiden, harus ia akhiri di 4 tahun berikutnya, tanpa diduga ternyata Agustus 1997. Tanggal 17 di bulan dan tahun dimaksud, menjadi hari terakhir pembacaan teks proklamasi bagi Soeharto.

Meski Golkar memenangkan Pemilu secara mutlak, namun kehendak alam bicara lain. Pemilu yang dimenangkan Golkar, yang didirikannya untuk menopang kebijakannya sebagai Presiden, tidak mampu menahan kehendak alam. Jika Soekarno jatuh karena krisis politik, tentu termasuk karena isu soal kudeta PKI yang gagal, maka, Soeharto jatuh karena krisis moneter yang merambat kepada krisis kepercayaan dan krisis politik. Balutan yang diusung untuk menjatuhkan Soeharto adalah suatu istilah yang sangat populer yang disebut dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme [KKN].

Kemenangan Mutlak dan Kejatuhan Total

Kemenangan mutlak Golkar di Pemilu 1997, membuat Soeharto berkesempatan untuk kembali memimpin Republik Indonesia. Dugaan itu ternyata benar. Sebab Sidang Umum MPR Maret 1998, menetapkan dirinya menjadi presiden Indonesia yang ke VII kali. Komposisi anggota DPR/MPR yang syarat nepotisme, dengan menampilkan semua putra-putrinya dalam lembaga tinggi dan tertinggi negara ini, membuat dia sulit untuk tidak disebut melakukan KKN.

Tanda-tanda kejatuhan Soeharto semakin nyata, ketika krisis moneter menimpa negara-negara di Asia tenggara. Hal ini berdampak salah satunya pada turunnya harga rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kejatuhan rupiah terhadap dolar ini, diawali dengan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Krisis ini, diawali pada 1 Agustus 1997. Sejak tanggal dimaksud, harga rupiah yang semula 2.575 per dolar, turun menjadi 5000 rupiah per dolar.

Krisis terus menimpa Soeharto. Misalnya, pada bulan dimaksud, terdapat 16 bank yang kemudian dilikuaidasi pemerintah. Pemerintah juga menetapkan 40 bank bermasalah dalam perawatan khusus pemerintah melalui suatu lembaga yang dibentuk Soeharto. Badan Penyehatan Perbankan Nasional [BPPN] ditunjuk untuk melakukan perbaikan perbankan.

Kondisi ini, kepercayaan dunia terhadap Soeharto terus menurun. Perlu dicatatkan bahwa sampai menjelang kejatuhannya sebagai Presiden yang telah digenggamnya selama kurang lebih 32 tahun, harga rupiah bahkan sempat menyentuh di angka 18.000 per dolar Amerika Serikat. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar