Ahok Gagal Mengartikulasi bahasa Agama ke dalam Bahasa Politik

1 16

Tidak ada disparitas (jarak) antara keimanan seseorang dengan kejujuran atau keadilan yang ditampilkan seseorang. Kalimat ini, penting saya sampaikan untuk menunjukkan bahwa apa yang selama ini ditangkap penulis, ada kesan yang sengaja di publish secara luar biasa massif yang mengesankan adanya watak disparitas  keimanan dengan kejujuran dan bahkan dengan keadilan seseorang. Bagi saya, keimanan adalah covert behavior sedangkan kejujuran dan keadilan adalah overt behavior. Sipat jujur dan adil adalah wujud dari keimanan. Dengan bahasa lain, tidak mungkin seseorang disebut beriman, jika ia tidak jujur dan tidak adil. Sekalipun orang dimaksud, dikenal sebagai sosok yang telah beriman. Watak dasar manusia beriman adalah jujur dan adil.

Banyak mahasiswa di jenjang S1, S2 dan S3 yang bertanya kepada saya, apakah kita harus tidak memilih seseorang yang katakan ia bukan orang yang pantas disebut beriman untuk menjadi pemimpin, padahal ia memiliki sipat yang jujur dan adil? Saya katakan, jika ada sosok yang benar-benar jujur dan adil, maka, ia pantas untuk disebut sebagai manusia yang beriman. Hanya saja, kita mesti jelas mengukur kejujuran dan keadilannya. Jika ukurannya tidak jelas, maka, rumus keimanannya juga tidak jelas. Karena itu, pilihannya juga pasti tidak jelas. Bagi saya secara pribadi, jika ada pemimpin yang jujur dan adil atau amanah, maka, sesungguhnya dia adalah manusia yang beriman.

Jujur dan Adil Telah Menjadi Komoditas

Jujur itu apa, dan adil itu apa? Ini juga penting diulas. Sebab, kata dan kalimat ini, belakangan telah menjadi suatu komoditas baik dalam konteks politik maupun dalam konteks ekonomi. Karena ia menjadi komoditi, maka, kata Jujur dan kata adil, seringkali hanya menjadi pengisi acara panggung dalam suatu perhelatan politik dan ekonomi tadi.

Tetapi, jika yang dimaksud dengan kata jujur dan kata adil itu, ditujukan kepada petahana Ahok, maka, analisanya menjadi demikian panjang. Misalnya, Ahok kan sudah menjadi Gubernur selama dua tahun di Jakarta. Fakta, tidak ada umat Islam di  seantero Nusantara yang mendemonstrasi dia gara-gara menjadi Gubernur DKI Jakarta. Padahal, ia non Muslim.

Berarti, dengan logika semacam ini, demonstrasi 04-11-16 itu, bukan menggugat dia karena ia non Muslim lalu mencalonkan atau dicalonkan menjadi gubernur, tetapi, mungkin karena ungkapannya yang tanpa disengaja, telah melukai banyak pihak di kalangan masyarakat Muslim.

Dalam termonilogi ini, secara sosio-antropologi, ada dua soal keagamaan yang selalu sensitif di mata publik jika kehormatannya terganggu. Agama apapun itu! Kedua soal itu adalah desakralisasi pembawa agama (Nabi dan Rasul) dan yang kedua berkaitan dengan desakraliasi  kitab suci (Jabur, taurat, Injil dan al Qur’an), atau kitab-kitab suci lain dalam agama non Ibrahim. Di ranah inilah, sebenarnya, Ahok gagal mengartikulasi bahasa agama ke dalam bahasa politik. Prof. Cecep Sumarna

  1. suhadi berkata

    Apakah ketidak sengajaan berbahasa merupakan kesalahan …. kalo begitu lebih baik diam. bagaimana jika mahasiswa dalam belajarnya selalu diam, karena takut salah ucap yang menunjukan kebodohan dirinya apa itu juga salah….. jadi apa solusinya supaya dalam berbahasa sesuai dengan kaidah yang diharapkan disetiap momen…

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.