AHY dan Mengapa dengan HMI

0 12

Agus Harimurti Yudhoyono, dikabarkan telah melakukan pertemuan dengan sejumlah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jakarta dalam beberapa waktu lalu. Inilah langkah berani dan pasti memiliki dampak positif cukup tinggi, setelah beberapa ketegangan yang terjadi antara pemerintah dengan mereka yang tergabung dalam organisasi ini. Agus sendiri menyatakan bahwa pertemuan dimaksud, harus dipandang baik Karena dirinya meminta masukan dan aspirasi dari pemuda dan intelektual Muslim untuk kemajuan Jakarta. Ini diskusi intelektual yang disebut Agus tidak memiliki relasi dengan Pilgub DKI Jakarta.

Dalam konteks ke HMI-an, apa yang dilakukan Agus ini, sejatinya memberi angin sejuk setelah dalam beberapa tahun terakhir, organisasi seolah sedang mengambil jarak dengan kekuasaan.  Padahal, banyak alumni HMI sejatinya telah menjadi arsitek Orde Lama, Orde Baru dan bahkan Orde reformasi. Jadi, agak ganjil memang, jika dalam perhelatan Jakarta, HMI tidak tersentuh dalam sentuhan psikologis yang sangat hangat.

Mengapa Dengan HMI

Jogjakarta, Rabu 14 Rabi’ul awal tahun 1366 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 5 Febuari 1947, adalah hari paling bersejarah bagi mereka yang mengikuti kegiatan kader di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Inilah organisasi kader kemahasiswaan Muslim tertua di Indonesia, tentu sejak Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara bangsa yang merdeka.

Organisasi ini berdiri di suatu ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam (STI) yang berada di Jalan Setiodiningrat saat ini lebih dikenal dengan nama Panembahan Senopati, Jogjakarta, yang diprakarsai oleh salah seorang mahasiswa bernama Lafran Pane. Saat organisasi ini akan didirikan, banyak sekali tantangan yang dihadapi, termasuk dari mereka yang menyatakan diri sebagai Muslim. Namun dengan tegas, Pane menyatakan bahwa siapa yang setuju, ayo ikut kaderisasi, yang tidak setuju nggak apa-apa. Tokh organisasi ini akan tetap dibentuk.

Cita-cita pendirian HMI patut dianggap mulia. Setidaknya, tujuan dari didirikannya organisasi ini dimaksudkan dan bertujuan untuk: 1). Mempertahankan NKRI dan mempertinggikan derajat rakyat Indonesia, dan; 2). Menegakkan dan megembangkan ajaran agama Islam. Dua sipat inilah yang melekat dengan missi organisasi ini dan terus ditransformasi ke ranah hati masing-masing mereka yang mengikuti kaderisasi di organ ekstra kampus ini.

HMI Organisasi Independen Penjaga NKRI

Inilah organisasi yang lahir tanpa ayah dan tanpa ibu. Karena itu, wajar jika dalam sipatnya, organisasi ini selalu independen, bukan hanya dalam konteks politik, tetapi, bahkan dalam konteks madzhab keislaman. Organisasi ini bukan milik NU, bukan milik Muhamadiyah, bukan milik PUI dan ormas Islam mapan lainnya. Ia berdiri dengan keajegannya sendiri yang berhasyrat untuk hanya menjadi semacam hogyreoptracking  (mimbar bersama) bagi seluruh ormas Islam dalam kerangka menjaga dan mempertahankan NKRI dengan pola kajian Islam yang kalimah al syamhah dan penuh toleransi. Jadi agak aneh memang, jika disebut kalau HMI hanya melahirkan kader parsial. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.