Air Mata Ketuhanan

Air Mata Ketuhanan
0 12

Air Mata Ketuhanan. Meneteskan air mata bisa memiliki dua arti. Bisa menjadi tanda bahagia, bisa juga menjadi tanda duka. Puncak kebahagian hidup seseorang, sangat mungkin malah meneteskan air mata. Bahkan itulah air bahagia yang jatuh dari kelopak mata dengan sejumlah keindahan didalamnya.

Hûdan atau petunjuk ternyata tidak hanya berlaku sepanjang empiris dan sepajang rasional. Dalam kasus-kasus tertentu, hûdan muncul dalam suasana kebathinan yang jauh dari dimensi rasionalitas dan berjarak dengan dunia empiris. Hûdan sering mucul dalam naluri abstrak manusia dan tidak ada sedikitpun ruang untuk melakukan uji empiris dan uji rasionalitas. Hûdan muncul dengan tiba-tiba dan memberi dampak yang luar biasa dalam tatanan kehidupan manusia.

Inilah satu bagian dari episod hidup, di mana saya merasa telah memperoleh salah satu hûdan. Hûdan yang tidak mungkin dapat dibuktikan secara empiris dan dianalisis dengan pendekatan rasional. Liukan tirai Ka’bah di pagi hari buta, saat di mana saya dan keluarga memasuki tempat yang diagungkan Tuhan itu, sedikitpun tidak membuat saya meneteskan air mata apalagi menangis dengan cara yang berlebihan.

Tangisan Mereka di Sekitar

Istriku menangis. Ibuku sesenggukan sambil memeluk suaminya –bapak kami–. Sementara bapak kami dengan mata yang lembab akibat sakit yang cukup keras, meneteskan air mata menutupi seluruh kelompak matanya yang sembab. Dengan tubuh yang hanya dibalut kulit, bapak merayap dengan terus berkata seperti sedang menyenandungkan mantra suci penuh misteri. Saya sendiri diam dan membisu.

Tujuh putaran thawaf ifadhah, tidak sedikit berangsur meneteskan air mataku. Entah hati saya yang terlalu kokoh, terlalu kuat untuk digoyahkan karena keegoan, atau keyakinan yang terlalu kuat akan keesaan Tuhan, tetapi yang pasti, Ka’bah bukan Tuhan Kami. Ka’bah adalah lempengan batu yang tidak memiliki harga, kecuali harga penghambaan mereka yang datang kepadanya untuk menyembah Tuhan yang menciptakan kami dan kamu juga.
Terbersit di hati rasa geli bahkan terekspresi dengan tawa kecil, ketika mata menyaksikan jutaan jema’ah begitu kuat berlomba mencium hajar aswad. Saya merasa itu bukan perintah Tuhan. Tuhan tidak menyuruh kami untuk melakukan hal demikian. Aku justru merasa takut, imanku tergoyah seolah Ka’bah adalah Tuhan kami.

Selesai thawaf ifadhah dan sa’i, kami pulang ke hotel sejenis asrama. Tampak sumringah semua jema’ah karena mereka merasa telah melihat Ka’bah dan menciumi dan minimal memegangnya dengan erat. Tidak sedikit cerita eksentrik penuh dimensi spiritual dengan menceritakan kekaguman jema’ah melihat Ka’bah. Cerita tentang nikmatnya menangis melihat Ka’bah yang puluhan tahun mereka menghadap kiblat –berarti menghadap Ka’bah– waktu shalat lima waktu, dan baru saat itu mereka melihat wujud fisiknya.

Akhirnya Aku Ingin Menangis

Cerita jema’ah di asrama, mulai menggoyahkan imanku. Saya meminta istri untuk kembali ke ka’bah dan berencana melaksanakan sunnah thawaf sebagai pengganti tahiyyat al Masjid. Jelang waktu dhuhur, kami berdua berangkat dan sampai ke Ka’bah tanpa rintangan berarti. Kami melakukan thawwaf sunnah dan terus menerus menyaksikan keagungan Ka’bah. Mata dan hati terus dipusatkan kepada Tuhan Sang Maha Suci. Tuhan yang menjadi wujud pemberi atas segala sesuatu yang dimintakan umatnya.

Hasilnya? Tetap sama. Aku bahkan semakin yakin bahwa banyak Jama’ah malah terdorong pada perbuatan musyrik. Perbuatan yang mendorong manusia untuk menyekutukan Tuhan dan menganggap bahwa seolah Ka’bah adalah Tuhan. Hanya sedikit Jama’ah yang memandang bahwa Ka’bah adalah simbol, isyarat dan tanda kebesaran Tuhan, namun bukan Tuhan itu sendiri.

Pulang selepas isya dan ternyata tidak ada satu tetes air matapun yang mampu saya keluarkan. Malam itu, saya mulai gelisah. Mulai meragukan tentang segala hal yang kubawa ke tempat suci ini. Mulai mempertanyakan halal-haramnya rizki yang kubawa ke Mekkah baik dengan sengaja atau tidak sengaja. Aku terus berdialog dengan Tuhan sambil kuucapkan dengan lembut lantunan istighfar.

Hasilnya aku yakin tidak. Hartaku halal, diperoleh dengan cara halal dan dipergunakan untuk sesuatu yang dihalalkan. Besoknya, saya meminta istri untuk kembali melakukan thawaf. Sampailah ke Ka’bah hampir menjelang shalat isya. Kami kembali thawaf. Kulafalkan berbagai do’a dan sejumlah permohonan ampunan kepada Tuhan.

Sampai tiga putaran hampir selesai, mataku tidak juga mengeluarkan air mata. Sampai pada suatu waktu di mana Adzan Isya dikumandangkan, jama’ah seperti terkunci rapih, berdiri untuk melaksanakan shalat isya. Sedikitpun tidak dapat bergeser.

Imam Shalat yang Mengajakku Menangis

Imam shalat isya itulah yang menasehatiku. Ia membaca surat al Baqarah [2]: 124-129 yang menggambarkan bagaimana Ibrahim dan Ismail membangun Masjid ini. Masjid bersejarah yang meletakkan prinsip-prinsip dasar ketauhidan yang meletakkan Tuhan sebagai pusat segala ciptaan. Di sinilah untuk pertama kali manusia ruku’ dan sujud kepada Alllah.

Entah mengapa, rantaian ayat tadi telah mendorong kelopak mata meneteskan air mata. Air mata syahdu yang membisikkan rasa percaya ke dalam kalbu bahwa Tuhan mengisi celah-celah hidup yang selama ini mungkin kosong dan gersang. Tetesan air mata yang menghembuskan aroma keindahan spiritual yang menjadi landasan dalam berperilaku dan berpijak.

Sejak saat itulah, mataku setia dengan ratusan cendawan air mata tanpa pernah dapat dikeringkan. Setiap kaki diinjakkan di seputar sayap burung merpati yang mengisi altar Ka’bah, atau setiap retakkan botol kosong diisikan air zamzam, mataku megucurkan air. Air mata indah yang menghiasi sempurnanya rembulan dzulhijjah. *** Ali Alamsyah. Tulisan ini diambil dari salah satu cuplikan buku “Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah” Karangan Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...