Inspirasi Tanpa Batas

Akal dalam Nash Al Qur’an

0 25

Konten Sponsor

Akal (al-‘aql) adalah dimensi psikis manusia dari jenis nafsiah. Ia berada di antara dua dimensi lainnya, saling berbeda dan berlawanan. Ia berada di antara al-nafsu dan al-qalb. Akal akan menjadi penengah kepentingan kedua di­mensi yang berbeda yang dimiliki manusia.

Jika al-nafsu memiliki sifat kebi­natangan, al-qalb memiliki sifat dasar kema­nusiaan yang berdaya cita-rasa, akal selalu [seharusnya] menjadi perantara dan penghubung antara kedua dimensi tadi. Ia memiliki peranan penting berupa fungsi pikiran yang merupakan kualitas insaniyah pada psikis manusia.

Al-‘Aql [bahasa Arab], menurut M. Quraish Shihab (1991: 284), dalam bahasa populer sering disebut intelektualitas. Ia memiliki makna tali pengikat atau penghalang. Dalam perpektif ini, akal berarti sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang untuk tidak terjerumus ke dalam kesalahan atau dosa.

Secara etimologi, akal memiliki arti al-imsak (menahan), al-ribath (ikatan), al-hajr (menahan), al-nahy (melarang), dan man’u (mencegah). Orang yang berakal disebut al-’aqil yaitu orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya jika hawa nafsunya terlihat maka jiwa (psikis) rasionalitasnya mampu bereksistensi.

Akal dan Fitrah Manusia

Akal dengan demikian, akan menjadi bagian dari fitrah nafsani manusia yang memiliki dua makna yang berbeda: 1). Akal jasmani yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di kepala, akal ini lazimnya disebut dengan otak (al-dimagh), 2). Akal ruhani yaitu cahaya (al-nur) nurani dan daya nafsani yang dipersiapkan dan mampu memperoleh pengetahuan (al-ma’rifah) dan kognisi (al-mudrikat). Konsep fitrah juga digunakan sebagai konsep intelektual yang digunakan bagi kritik ajaran Islam atas teori-teori sekuler tentang sifat dasar manusia.

Terhadap soal ini, Yasien Mohamed [1997: 193] menyebut bahwa dalam al-Qur’an, terdapat beberapa istilah yang menjelaskan tentang akal. Di antaranya adalah istilah al-allubb (Q.S. Ali Imran [3]: 190-191), al­-Hujjah (Q.S. al-Nisa [4]: 165), al-Hijr (Q.S. al-Fajr [89]: 5), dan al-nuha­(Q.S.Taha [120]: 54).

Disebut dengan al-lubb, karena ia merupakan cerminan kesucian dan kemurnian Allah. Aktivitasnya adalah berdzikir (mengingat Allah) dan berfikir (memikirkan ciptaan Allah). Disebut dengan al-hujjah, karena akal mampu memperoleh bukti-bukti dengan argumentasi logis dan mampu melahirkan konsep-­konsep dengan cara mengaktualisasikan hal-hal yang abstrak. Disebut dengan al-hijr, karena akal mampu menahan diri dari hal-­hal yang dilarang dan menolak hal-hal yang tidak logis. Disebut dengan al-nuha, karena akal, menjadi puncak kemampuan manusia di bidang kecerdasan, pengetahuan, penalaran, dan lain-lain.Baharuddin.

Akal dalam Makna Materil dan Ruhani

Al-Ghazali seperti dikutif dari tulisan Abdul Mudjib [1999: 65] berpendapat bahwa akal memiliki makna yang banyak. Di anataranya adalah: 1). Sebutan yang membedakan antara manusia dan hewan; 2). Ilmu yang lahir di saat anak mencapai usia ‘aqilbaligh sehingga mampu membedakan perbuatan yang baik dan yang buruk; 3). Ilmu yang didapat dari pengalaman sehingga dapat dikatakan siapa yang banyak pengalaman maka dialah orang yang berakal; dan 4). Kekuatan yang dapat menghentikan naluriah untuk menerawang untuk jauh keangkasa, mengekang dan menundukkan syahwat yang selalu menginginkan kenikmatan.

Penelitian V.S. Ramachandran Direktur Center for Brain and Cognition di Universitas California, San Dieago secara teratur menuturkan pengalamannya berikut ini: “Ada cahaya ilahiyah yang menyinari segala sesuatu”.  Teori ini disebutnya sebagai “Titik Tuhan” (God Spot) atau “Modul Tuhan” (God Module) di dalam otak manusia, baik manusia normal maupun yang terserang epilepsi. Dalam ilmu neurologi dan psikologi bahwa otak manusia bisa mengetahui, memahami dan mencapai kebenaran.

Dapat dipahami bahwa kecerdasan al-‘aql atau intelektual merupakan fitrah akal yang berpotensi untuk baik dan buruknya berfikir seseorang, potensi akal juga merupakan kekuatan nalar untuk berfikir dan berbuat serta bertindak, sehingga dibutuhkan peranan qalbu dalam mengambil keputusan dalam mempengaruhi daya fikir seseorang. Kekuatan antara akal dengan qalbu tidak bisa dipisahkan, manusia yang mempunyai akal setiap waktu akan berkembang sesuai dengan kadarnya tapi kalau tidak diiringi dengan pertumbuhan qalbu maka manusia itu tidak akan berprilaku sesuai dengan fitrahnya.

Nama-nama akal sebagaimana disebutkan di atas, dialamatkan kepada akal ruhani atau akal abstrak, yaitu akal yang selalu berhubungan dengan qalb. Jika akal beraktifitas sebagaimana adanya, tanpa melibatkan daya qa1b, maka ia hanya akan berpikir secara rasional belaka tanpa disertai dengan berzikir atau perbuatan spiritual lainnya. Pemahaman seperti itu diperoleh berdasarkan kepada ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal itu. Di antaranya adalah QS. Ali Imran [3]: 190-191 berikut ini:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang, yang berakal. Yaitu orang, yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”

 Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa istilah ulu al-albab adalah orang yang berpikir. Dalam proses berdzikir tersedia ruang berpikir. Dalam ayat tersebut, diungkapkan bahwa objek telaahan pikir dan dzikir orang yang disebut ul al-albab tersebut adalah proses penciptaan langit dan bumi dan proses pertukaran malam dan siang. Proses penciptaan langit dan bumi adalah proses spiritual-transendental, sebab tidak pernah dialami manusia. Jelasnya bukan wilayah empiris. Berbeda dengan itu, proses pertukaran malam dan siang adalah proses empiris. Mengapa? Karena semua manusia meng­enali proses pergantian itu.

Objek Kajian Akal

Perbedaan objek telaahan itu menyebabkan kemampuan akal untuk menelaahnya juga dapat dibedakan. Berdasarkan itu, dapat dijelaskan bahwa akal memiliki dua bentuk, yaitu: Pertama, akal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di kepala. Akal ini menggunakan daya kognisi (al-mudrikah) dalam otak (al-dimag) untuk proses berpikir. Objek pemikirannya adalah hal-hal yang bersifat sensoris dan empiris. Kedua, akal ruhani, yaitu akal abstrak yang mampu memperoleh pengetahuan abstrak,metafisika, seperti memahami proses penciptaan langit dan bumi.

Kemampuan akal juga dapat dipahami sebagai lawan dari tabiat (al-tab’u) dan kalbu (al-qalb). Akal mampu memperoleh pengetahuan nalar (al-nazar), tabiat mampu memperoleh pengetahuan melalui daya naluriah atau daya alamiah (al-arriyah). Akal mampu memperoleh ilmu pengetahuan melalui daya argumentatif (istidlaliyah). Sedangkan kalbu memperoleh pengetahuan melaluidaya cita-rasa (al-zawqiyyah). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sifat dasar akal adalah rasional yang merupakan sifat khas kemanusiaan sehingga ia disebut juga dengan al-nafs al-insaniyah.

Di sisi lain, dapat pula dijelaskan bahwa Al-Qur’an meng­gambarkan  akal memiliki banyak aktivitas, di antaranya adalah: al‑nazhar (melihat dengan memperhatikan); al-tadabbur (memperhatikan secara seksama), al-ta’ammul (merenungkan), al-istibdar (melihat dengan mata batin), al-i’tibar (menginterpretasikan), al-tafkir (memikirkan), dan al-tafakkur (mengingat).

 Semua itu merupakan aktivitas akal. Akal dapat memperoleh pengetahuan melalui bantuan indra seperti mata untuk melihat dan memperhatikan. Jika telah mencapai. puncaknya akal tidak lagi membutuhkan indera, sebab indera malah membatasi ruang lingkup pengetahuan akal. Ini sebagai akibat posisi akal sebagai penengah antara dua bagian dimensi psikis manusia yaitu al-nafsu dan al-qalb.

Posisi akal yang lebih dekat dengan al-nafsu menyebabkan ia membutuhkan indra, sementara posisinya yang lebih dekat dengan qalb akan menyebabkan indra sebagai pengha­lang baginya dalam memperoleh pengetahuan.

Karena itu, penge­tahuan yang dihasilkan oleh akal dibagi menjadi dua bagian; Per­tama, pengetahuan rasional-empiris, yaitu pengetahuan yang dipe­roleh melalui pemikiran akal dan hasilnya dapat diverifikasi secara indrawi, sebab perolehannya juga melalui bantuan inderawi; Kedua pengetahuan rasional idealis, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran akal, namun hasilnya tidak dapat diverifikasi dengan indra, tetapi dapat dibuktikan dengan argumentasi logis. Jelasnya, bahwa fungsi utama akal sebagai dimensi psikis manusia adalah fungsi pikiran. Dr. Hj. Ety Tismayati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar