Inspirasi Tanpa Batas

Akankah Golkar Bertahan tanpa Kekuasaan? | Catatan untuk Partai Golkar Part – 2

0 3

Konten Sponsor

Akankah Golkar Bertahan tanpa Kekuasaan? Terlalu lama Golkar berkuasa. Itulah kata kuncinya. Sehingga ketika kekuasaan terjadi regulasi, tampak secara kasat mata, banyak petinggi Golkar tidak tahu, apa sesungguhnya yang diperjuangkan mereka. Ini mungkin terlalu subjektif, tetapi itu bacaan banyak orang, termasuk orang awam sekalipun. Jangan tanya saya!

Yang tampak malahan bagaimana mereka masing-masing mempertahankan suatu kekuasaan, sekecil apapun. Akhirnya, Golkar sering tampak kehilangan energi ketika harus tidak berkuasa. Mereka seperti tak sanggup hidup jika tidak berada di lingkar kekuasaan. Tampak kurang sabar dalam memperjuangkan “ideologi” utama partai ini.

Pak Harto yang menjadi pendulum utama Golkar, yang berkuasa selama lebih 32 tahun sekalipun, lupa mendidik kader Golkar dalam ideologi yang digenggamnya. Sebut misalnya, ideologi pak Harto itu adalah pembangunan. Kader-kader yang dibesarkan The Smiling Genderal itu, malah bringsut dan tunggang langgang ketika Orde Baru runtuh. Dalam banyak kasus, tampak juga secara kasat mata, bagaimana Golkar seolah harus menjarakkan dirinya dengan pendiri utamanya, yakni Soeharto.

Golkar Perlu Belajar Tabah

Padahal jika mau jujur, Partai Politik di Indonesia, hampir kebanyakan sipatnya sangat dependen dengan pendulum utama pendiri partai. Sebut misalnya PDIP dengan Megawati, PAN dengan Amien Rais, Partai Demokrat dengan Soesilo Bambang Yudhoyono, Suya Paloh dengan Nasdem, Wiranto dengan Hanura, PKB dengan Abdurachman Wachid dan Perindo dengan Hary Tanoe Sudibjo. Di sisi ini, sekalipun umur Golkar lebih tua sebagai kontestasi politik dibandingkan partai-partai tadi, semestinya mau belajar.

Lebih penting lagi belajar atas konsistensi PDI [tanpa P] yang selama hampir 32 tahun mereka justru berada dalam lumpur-lumpur rakyat kecil. Mereka sedikitpun tidak mengambil bagian penting untuk berada dalam kekuasaan. Karena mereka sadar selama kurang lebih 22 tahun, melalui partai pendahulunya, yakni PNI berada dalam lingkar kekuasaan Soekarno.

Pun ketika mereka secara terpaksa dipinggirkan atau terpinggir karena kepentingan kekuasaan Soehato, mereka tabah menjalani perjuangannya. Tetap berada di luar kekuasaan. Penulis kurang yakin jika Soeharto tidak pernah mengajak kelompok PDI ini untuk masuk dalam lingkar kekuasaan. Tetapi, mereka tetap berada di luar.

Mereka malah terus menerus melakukan perekatan Ideologi. Suatu kerangka ideologi yang dibangun atas nalar gagasan Soekarno tentang bagaimana Indonesia dibentuk dan membentuk dirinya menjadi sebuah bangsa. Inilah kemudian yang diperkenalkan dengan istilah Soekarnoisme. Ia akhirnya bukan saja dianggap sebagai founding father’s partai, tetapi dianggap sebagai pendiri bangsa Indonesia. Padahal kita semua juga sadar bahwa Indonesia tidak mungkin hadir tanpa tokoh lain.

Atau sangat mungkin Indonesia tetap hadir, meski Soekarno tidak pernah lahir. Yang menyebabkan Soekarno tetap dipandang hebat, tentu selain karena dirinya hebat, adalah karena dia memiliki suatu piranti yang tetap meneruskan gagasan kebangsaannya dalam partai-partai yang tetap mencintainya. Salah satunya tentu adalah PDIP.

Sedikit Saja Belajar

Jika Golkar mau sedikit saja belajar kepada mereka dan memiliki kesiapan serta kesanggupan mandiri layaknya sebuah partai, maka, Golkar menurut saya pasti akan berjaya. Ia akan mampu dibaca rakyat apa sesungguhnya yang sedang diperjuangkan partai ini dalam kepentingan kebangsaan.

Kesulitan sikap Golkar untuk dibaca ini, terlihat salah satunya atas sepinya sikap Golkar pada apa yang digagas Jenderal Nurmantyo yang mewajibkan prajuritnya untuk menonton film Gestapu PKI. Golkar seperti malu-malu kucing dalam mengabil sikap. Malah, tampak sangat jelas apa yang disampaikan petinggi PAN yang juga mengharuskan kadernya menonton film ini.

Padahal dalam terminologi kekuasaan, PAN justru lahir atas sikap antiteknya terhadap rezim Soeharto, Salah satu produk Soeharto itu, lepas antara suka atau tidak, adalah film Gestapu PKI. Soeharto kembali Digjaya Prof. Cecep Sumarna bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar