Akankah Selamanya Menjadi Inlander | Di Mana Kaum Pribumi Berpijak Part 2

0 107

Akankah Selamanya Menjadi Inlander. Diskusi pagi yang hangat dan penuh romantika itu, akhirnya mengingatkan saya akan perjalanan masa lalu. Masa di mana saya, dan mungkin teman lain merasa kurang percaya diri ketika berhadapan dengan mereka yang disebut non pribumi. Khususnya ketika berhadapan dengan mereka yang disebut Cina atau Arab. Kami yang masih sangat remaja itu, merasa menjadi orang yang dalam tanda baca tertentu, tidak sejajar dengan mereka.

Ketidak sejajaran itu, terasa ketika berhadapan dengan bangsa Arab, yang di kampung kami sering disebut dengan sayyid. Mereka dianggap memiliki keunggulan pemahaman keagamaan [Islam] yang luar biasa. Mereka dianggap faqih karena kemampuan bahasa mereka [Arab] yang jauh lebih fasih dibandingkan kami, tentu saja.

Arab dan Islam

Islam dalam segenap keyakinan kami, bukan saja dianggap genuin khas Arab, tetapi, yang jauh lebih substantif, adalah keyakinan kami bahwa mereka memiliki sejumlah kelebihan keagamaan yang tidak mungkin, jangankan oleh kami, oleh mereka yang disebut tokoh agama kami juga, ditakdzimi. Karena itu, bicara tentang Islam adalah bicara tentang Arab. Bangsa yang bahasanya dianggap akan menjadi bahasa Syurga. Tempat terakhir di mana kami berharap ada di dalamnya kelak secara abadi.

Kami mengabaikan sekuat tenaga pikiran pejoratif terhadap mereka. Terlebih ketika mereka “menjajakan” sesuatu yang berbau agama. Umumnya, masyarakat Arab Indonesia dikenal memiliki toko yang “menjual” mashaf al Qur’an, kitab-kitab Kuning yang kami kaji di Pesantren, Tasbih, dan paling jauh jualan serban, tasbih,baju koko, minyak wangi dan Madu.

Mereka yang jualan di toko-tokonya itu, nyaris memang tanpa pembantu. Dua atau tiga orang yang menjaga toko mereka, wajahnya sama. Warna kulit agak cokelat dengan kumis tebal [laki-laki] dan bulu alis tebal “bercela” hitam kelam bagi wanita. Matanya tajam yang membuat kami, kadang merasa ketakutan dibuatnya. Tentu saja kami yang remaja, tidak mungkin berharap dapat menggoda anak-anak gadis mereka, sekalipun mungkin kita termasuk orang ganteng.

Semua yang mereka jual, berpretensi agama. Hebatnya, kami meyakini mereka menjualnya secara tulus. Meski kadang kami bergumam kesel. Mengapa? Sebab kitab-kitab yang kami beli, tidak bisa ditawar sedikitpun. Bahkan jika terpaksa kami kekurangan membayar hanya sekedar lima puluh rupiah [masa lalu], uang itu tetap harus kami berikan.

Dalam sessi lain, kami juga sering mengkel. Misalnya ketika kami minta sumbangan ala kadarnya untuk pembangunan Masjid atau Madrasah di kampung, sulitnya minta ampun. Mereka dalam konteks itu, layak disebut orang pelit. Untuk menyebut mereka sebagai komunitas pelitpun, kami tak sanggup melapalkannya. Mengapa? Karena mereka dianggap menjadi wakil dari sikap mainstream keagamaan [Islam] yang kami anut.

Masjid dan Madrasah yang kami bangun, tetaplah merupakan hasil dari perjuangan penduduk setempat. Uang yang dihasilkan selain merupakan hasil kerja gotong royong, paling ya menjual singkong, kayu bakar dari perhutani atau menjual padi uyuran dari masing-masing petani. Tetapi, mereka tetap ikhlash dan tetap memberi reaksi positif kepada bangsa Arab ini, dengan satu nalar, Islam.

Lain Arab lain Cina

Berbeda dengan sikap kami terhadap bangsa Arab, terhadap warga Cina tentu saja agak berbeda. Saat kami masih kecil, misalnya sering kami menyebut bahwa Kecap adalah darah orang Cina. Supermarket seperti Matahari Group adalah Cina. Toko meubeul besar adalah Cina. Semua yang besar-besar adalah selalu identik dengan Cina. Termasuk Pabrik Tapioka Besar, selalu bernama dan identik dengan Cina.

Orang pribumi mengantre di hadapan para engko dan enchi. Para pribumi mengantre setiap hari memikul barang-barang jualan bangsa Cina. Mulai dari memikul singkong, “oyek”, tapioka, minyak, solar, bensin, kayu dan barang-barang yang dibeli dari para pribumi seperti cengkih, kapol, kopera dan lain-lain. Mereka dengan penuh kekuatan memikul barang dari dan ke mobil menuju atau mengangkutnya ke Gudang mereka yang besar.

Pada hari Sabtu sore kaum pribumi kembali mengantre. Menunggu bagian kepingan uang receh selama enam hari bekerja. Hari minggu mereka libur karena engko dan enchi pergi ke Gereja atau ke Pura. Jangan tanya hari Jum’at. Semua masyarakat pribumi yang KTP-nya Muslim, beramai-ramai meninggalkan shalat Jum’at. Nyaris tidak ada Masjid yang dapat digunakan mereka untuk melaksanakan shalat Jum’at. Jangan tanya juga soal shlat dhuhur dan ashar setiap hari ketika mereka bekerja.

Sama seperti orang Arab, Cina juga disebut pelit bahkan lebih pelit dari orang Arab. Upah mikul karyawan mereka benar-benar dihitung dengan teliti. Jam kerja mereka diawasi. Bahkan seseran rupiah yang hanya berguna untuk membeli Cingcau atau kopi pahit yang dikeluarkan bangsa Cina kepada para pekerja itu, dihitung mingguan. Hebatnya, orang-orang pribumi itu, tetap ikhlas dan menerimanya dengan segenap ketulusan.

Muncul suatu adagium di kalangan kami, bahwa kalau ada orang pribumi yang pelit dan itung-itungan, sering pula menjadi guyonan, dasar cina hideung. Atau dalam bahasa lain sering pula disebut dasar Cina Ireng. Penyebutan ini, tentu agak sulit untuk diberikan kepada orang Arab yang sama-sama pelit. Misalnya, kami sulit menyebut dasar Arab Cokelat untuk orang pribumi yang pelit atau itung-itungan.

Memoar dengan Orang Cina

Pengalaman saya sendiri saat menjadi seorang santri di Pondok Pesantren al Hasan Ciamis, bergaul dengan orang Cina memang sangat unik. Kebetulan di depan tempat ngaji dimaksud, tersedia toko sewa buku, khususnya Novel-novel Cinta dan Kungfu gaya orang Cina. Penunggu peminjaman buku itu seorang anak remaja, bernama Yinyin. Ia tidak sekolah tinggi. Hanya tamatan SMA. Mereka umumnya mengatakan, sekolah yang diperlukan hanya sekedar bagaimana agar bisa menulis dan menghitung. Buat apa tinggi-tinggi. Tidak ada gunanya. Toch yang diperlukan adalah menghitung keuntungan.

Uang sewa pinjaman buku itu, umumnya sebesar 25 rupiah sehari semalam untuk satu buku. Kami menyewa buku mereka hampir setiap hari. Dan tidak ada satu senpun yang dapat kami tunda, untuk menyewa buku dimaksud. Sekalipun, kami menjadi pelanggan penting di toko mereka. Jangan tanya bagaimana kami, jika meminjam buku terlambat bayar, atau buku hilang karena usilnya teman sekamar di kamar.

Ketika kami mulai dewasa, dan kebetulan melewati tempat di mana kami biasa menyewa buku itu, ternyata telah berubah. Perubahan kultur masyarakat Indonesia dari dunia baca menjadi dunia tonton, mengubahnya menjadi toko yang menyewakan VCD. Penyediaan sewa VCD di toko itu, mulai dari yang mendidik sampai kepada yang porno, sekalipun untuk yang terakhir itu, harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Mereka sangat hebat dan jeli melihat pasar. Itulah Cina. Kelompok masyarakat urban Indonesia yang berhasil memanjakan bangsa pribumi dalam kebutuhan-kebutuhan instan masyarakat.Lalu di mana kaum pribumi? Mereka rupanya tetaplah pribumi yang inlander. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.