Take a fresh look at your lifestyle.

Puisi Terbaper Di Bulan Desember: Akhir Dari Awal Desember Ketigaku

0 594

Hai teman-teman, kali ini penulis mau ngasih contoh puisi terbaper yang mungkin cocok untuk melengkapi bulan Desember kalian di tahun ini. Apalagi, jika secara kebetulan di bulan Desember ini, kalian lagi galau. Entah itu karena si doi yang udah mulai berubah sikapnya, ataupun karena hubungan kalian dengan si doi yang udah gak bisa dipertahankan lagi.

Pesan dari Penulis

Semoga puisi ini bisa sedikitnya menjadi inspirasi kalian, bahwa ternyata sesuatu yang tumbuh dari perasaan kalian bisa dijadikan sebuah karya yang akan mengantarkan kalian menuju keabadian. Sekaligus itu tentang “kepahitan” hidup kalian yang selalu di teguk setiap waktu. Tapi percayalah, setidaknya perasaan kalian akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Akhir dari Awal desember ketigaku”

Karya : Rosa Nurtina

 

Hujan semakin deras menjatuhkan awal desember ketigaku

Tak tersadarkan genangan air memenuhi halamannya

Dan aku masih di muka Jendela dengan hembusan nafas yang rapuh

Bersama tegukkan pahit dari secangkir kopi

 

Kau Tenggelamkan acuh

Di lautan cinta tak berantah

Dan di Ketepian aku menunggu

Menunggumu untuk menungguku

 

Tersudutkan pilu

Terabaikan luluh

Tergoyahkan semu

Terbantahkan ragu

 

Cirebon, 1 Desember 2017

 

Sinopsis Puisi

Dalam puisi ini, penulis mengibaratkan tentang seseorang yang selalu terbayang dengan kenangan-kenangan terindahnya bersama sang kekasih. Dia bertemu dengan kekasihnya di bulan Desember dan berakhir dengan kekasihnya juga di bulan Desember. Tepatnya, di Desember yang ketiga kalinya.

Di awal desember yang ketiganya ini, dia menerima beberapa kejanggalan dari sebuah hubungan yang sebelumnya memberikan segudang kebahagiaan baginya. Kejanggalan tersebut ia temui dari sikap kekasihnya yang mulai acuh, dan sering meninggalkan dia dengan waktu yang cukup lama tanpa kabar apapun.

Setiap hari Perempuan itu pilu, dan keraguan akan ketulusan cinta sang kekasih yang telah diterimanya semakin memuncak dan melengkapi kepiluannya. Saat ia menyaksikan hujan di Bulan Desember ini, seolah ia membayangkan air hujan yang memenuhi bulan Desembernya adalah air dari mata yang akhirnya mengalir, setelah ribuan kali ditahan pelupuk matanya. Kopi yang menemaninya ketika menyaksikan hujanpun terasa begitu pahit dari biasanya.

Kesimpulan

Mari menulis. Jangan pernah takut tulisan kalian jelek, tidak populer, tidak laku dan sebagainya. Karena untuk mencapai sebuah keidealisan itu memerlukan proses.

Menulislah, menulislah, menulislah !!!.

“Menulislah, tentang apapun yang ingin kalian tulis atau yang sulit kalian bicarakan.”

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar