Aksi 212 : Sebuah Ikhtiar Merawat Kebhinekaan

0 34

AKSI 212 – Keberagaman di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Beragam suku, ras, dan agama hidup berdampingan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga, filosofi “Bhineka Tunggal Ika” menjadi perekat yang kuat untuk menjaga integrasi dan kesatuan bangsa Indonesia .

Jum’at 2 Desember 2016  menjadi momentum bersejarah bagi umat islam di Indonesia. Jutaan umat Islam dari berbagai provinsi Tanah Air berkumpul di Monumen Nasional (Monas) untuk menggelar Aksi Super Damai. Aksi Bela Islam jilid III merupakan wujud cinta umat Islam terhadap NKRI dalam merawat Kebhinekaan, tak seorangpun menginginkan perpecahan di negeri ini.

Aksi ini juga  terasa begitu istimewa, karena di isi dengan berbagai kegiatan ritual ibadah. Seperti istigosah, tausiyah, doa bersama untuk kebaikan bangsa dan shalat jum’at.

Aksi Super Damai

Aksi 212  dengan tagline “Super Damai” bukanlah aksi biasa, sebuah gerakan sosial pertama dalam sejarah republik ini yang bersifat massif dan berskala nasional. Warna putih begitu kontras di sepanjang jalan, mengitari bundaran HI hingga monas yang menjadi titik aksi. Mereka bak keluar dari lubang-lubang  semut  menyembul  sejak shubuh hingga siang hari. Mereka hadir dengan latar belakang yang berbeda.

Mereka adalah kaum professional, Ibu-ibu majlis taklim, mahasiswa, bahkan mereka adalah orang-orang tua, semua melebur dalam lautan manusia. Muncul ukuwah ditengah-tengah Aksi, ada relawan yang siap siaga di posko kesehatan, ada pula yang berbagi makanan dan minuman, ada yang saling mengingatkan untuk tidak menginjak taman, ada yang berbagi sejadah, Ada Petugas yang saling bahu membahu dengan Aparat kepolisian dan TNI  yang mengawal dan menjaga Aksi Super Damai agar berlangsung dengan tertib dan Aman. Bahkan hingga Aksi ini berakhir tak ada sampah yang tercecer disepanjang lokasi aksi. Sebab, sejumlah peserta sengaja menyediakan kantong sampah dan sapu lidi.

Mereka secara sadar memunguti sampah dan menampungnya agar tak ada sampah yang terserak. Semua berjalan dengan tertib, dan damai. Inilah pesan yang ingin disampaikan umat islam di Indonesia kepada dunia, bahwa  umat Islam cinta damai. Aksi super Damai ini juga menepis semua tuduhan media-media mainstream menjelang aksi. Umat Islam mencintai negerinya, sangat tidak mungkin berbuat ricuh ditanah kelahirannya sendiri.

Aksi 212 - Sebuah Ikhtiar Merawat Kebhinekaan, Wujud Kerinduan Umat Islam, Aksi Bela Islam Jilid III, Aksi Super Damai
Photo: Jutaan Umat Islam saat mengikuti Aksi Super Damai dan Shalat Jum’at di Lapangan Monas, Jakarta. (02/12) Sumber: Facebook.com

Wujud Kerinduan Umat Islam

Aksi Bela Islam Jilid III yang di prakarsai oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa  MUI (GNPF-MUI) adalah murni wujud kerinduan umat Islam akan tegaknya keadilan di negeri ini. Rindu itulah yang juga disampaikan oleh Aa Gym dalam sebuah acara televisi, tepatnya pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC), umat islam hanya minta keadilan, itu saja esensinya. Simpel, jujur dan bernas.

Sebagai negara hukum Indonesia menganut kesetaraan warga negaranya di mata hukum. Artinya tidak ada satupun warga negara yang memiliki keistimewaan di mata hukum.  Karena hukum tidak akan mungkin tegak, jika hukum itu sendiri tidak atau belum mencerminkan perasaan atau nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakatnya.

Cita-cita keadilan dan kemanusiaan yang adil dan beradab ini terukir apik dan manis dalam sila kedua pancasila. Menjadi manusia yang beradab dan menegakan keadilan itu menjadi poin penting dalam sila kedua yang merupakan fondasi kebhinekaan kita.

Merawat Kebhinekaan

Menerima dan menghargai perbedaan menjadi sebuah kewajiban bagi setiap warga negara. Kehidupan yang majemuk bukan persoalan mayoritas dan minoritas, tetapi hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lain. Sentimen-sentimen mayoritas dan minoritas harus dihilangkan, dan mengubah mindset dengan sinergitas semua elemen.

Pengintegrasian fungsi-fungsi stakeholder dibutuhkan dalam upaya pembangunan nasional. Akan menjadi lucu ketika pembangunan nasional tersendat karena perbedaan tadi, apakah itu budaya, agama, ras, suku dan bangsa, sementara kita masih dalam bingkai NKRI. Artinya transformasi cara berfikir menjadi penting, dari primordial, chauvinisme menjadi keindonesiaan dan Nusantara. ** (AM)


Penulis         : Abdul Mukti
Penyunting  : Acep M Lutvi

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.