Aku adalah kita dalam Dia atau Dia dalam kita | Novel Filsafat Part – 2

Aku adalah kita dalam Dia atau Dia dalam kita | Novel Filsafat Part – 2
0 85

Aku adalah kita dalam Dia atau Dia dalam kita. Jika aku adalah Dia dan Dia adalah aku, maka, pastilah aku dan Dia sama dengan kita. Jika bukan begitu, maka, aku pasti hanya sendiri yang mewakili diri-Nya. Padahal kata Leuxiphos, kita semua adalah wakil-Nya. Pengganti diri-Nya dalam menjaga kesemestaan agar tetap mengakui diri-Nya. Fungsi utama mengapa aku dan seluruh makhluk lain diciptakan, seungguhnya agar sadar bahwa kita tercipta. Karena tercipta, pasti ada yang Mencipta.

Adakah yang tercipta tanpa pencipta? Itu tidak mungkin! Masih mungkin ada Pencipta meski tanpa ada sedikitpun yang diciptakan. Kita boleh tidak ada, tetapi Dia pasti tetap ada. Dalam banyak kasus, sesungguhnya kita yang ada saja, sejatinya tidak ada. Mengapa? Karena yang benar-benar ada hanya Dia Sang Pengada.

Tak terbayangkan oleh Leuxiphos bagaimana Tuhan marah besar saat manusia tidak mengakui ketunggalan-Nya. Karena itu, ketunggalan selalu menjadi ekspresi sipat tertinggi-Nya. Yang mengakui Dia dalam posisi tidak tunggal saja Dia marah, bagaimana jika Dia malah tidak diakui keberadaannya sama sekali. Aku tak mengerti, Leuxiphos terus menggerutu. Bagaimana mungkin ada wujud manusia yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Dunia memang aneh.

Bagiku, kata Leuxiphos mengulang pemberontakan bathinnya. Kita adalah Dia dari segenap kesejatian dalam kesementaraannya. Ia takut jika aku menjadi Dia atau Dia menjadi aku, maka, pastilah aku akan menjadi sosok sebagaimana  diperankan Wealthy ketika berkuasa di negeri yang juga dicintai dirinya, Saba’.

Wealthy dalam anggapan Leuxiphos terlalu ceroboh mengambil posisinya sebagai penjaga Tuhan. Ia selalu menendang keras siapapun yang menolak mengakui keberadaanNya. Termasuk bagaimana dia dengan cara “bengis”. Misalnya, Wealthy menutup rapat seluruh lubang yang memungkinkan para gerombolan itu masuk kesinggasananya atau ke wilayah kekuasaannya.

Selama berkuasa, Wealthy juga yang mempersiapkan Timah Panas untuk mereka yang menjadi para gerombolan. Ia membakar timah agar meleleh. Lelehan tamah panas yang meleleh dibiarkan Wealthy agar kembali membeku dan membuat semua gerombolan anti Tuhan menjadi katupan timah yang keras.

Yang kutahu kata Leuxiphos, Wealthy sangat jujur dalam soal Tuhan. Ia menjadi manusia pemuja Tuhan yang sangat taat. Karena ekstremitas yang dibangun Wealthy  atas keinginannya untuk menjagaNya, akhirnya ia dituduh memanfaatkan psikologi umat manusia yang kebanyakan memang menyembah-Nya. Ia terkesan memanfaatkan isu ketuhanan untuk mempertahankan kekuasaan pada singgasananya.

Leuxiphos tak Mau Menjadi Wealthy

Aku sekali lagi, tak mau menjadi Wealthy. Meski harus diakui kalau Wealthy-lah sebenarnya Ksatria. Ia bahkan layak disebut pahlawan. Pahlawan ketuhanan untuk negeri Saba’. Dia adalah sosok yang mampu membangunkan mereka yang menyembah-Nya dalam mimbar yang dia susun. Bahkan dalam shaf-shaf yang sengaja dia persembahkan untuk Tuhan yang dia sembah. Untuk menjaga Tuhan yang Tunggal, Wealthy tetap pendiriannya, sekaipun ia akhirnya harus terasing.

Dalam keadaan kalut sendiri, Leuxiphos kemudian menyusun angannya sendiri dalam bentuk pertanyaan. Sambil mengeluarkan nafas panjangnya, ia bergumam: Masalahnya sekarang, mengapa di negeri Saba’ ini sulit sekali menemukan sosok seperti Wealthy? Mengapa Wealty tak mampu meahirkan anak; biologis dan Sosiologis yang sekelas atau minimal setara dengan dirinya. Jika ada, mungkin Negeri Saba tak akan menjadi negeri olok-olokan lagi.

Jangankan lahir sosok seperti Wealthy. Dalam banyak hal, mereka malah tampak sangat takut hanya untuk menyebut diri sebagai pencinta Wealthy. Termasuk dari mereka yang dulu kala, Dewanya diselematkan dalam nalar kekuasaannya dan mereka memujanya sebagai sosok ideal. Mereka yang dulu menikmati hasil jerih payah Wealthy sendiri, mereka kini beralari seolah takut disebut pengikutnya.

Berjam-jam Wealthy terus melakukan dialektika personal. Ia yang memang dikenal imaginer, semakin tampak imaginasinya dalam lurukan bathin yang sulit ditembus dan dimengerti banyak orang.

Dalam ketidak mengertiannya, Wealthy merumuskan konsep spiritual dalam apa yang disebut dengan pengenalan diri. Ia menyebut bahwa Dewa hanya akan dapat ditemukan oleh mereka yang mengenal dirinya sebagai manusia. Manusia yang tidak mengenal dirinya, kupastikan kata Leuxiphos, tak kan pernah mengenal Tuhan. Karena itu, kata Leuxiphos, mereka yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, semakna dengan diri manusia yang tak mengenal manusia.

Bagaimana mungkin, manusia tidak mengenal dirinya, akan mengenal kemanusiaan. Dan mereka yang tidak mengenal kemanusiaan, lalu bagaima ia memerankan diri sebagai penjaga dan pelindung manusia. Aku makin kacau, kata Leuxiphos.

Tetapi apa mungkin … ? Bukankah mereka yang menyebut diri sebagai kumpulan para anti Tuhan itu, justru tampak sangat humanis. Yang mungkin malah kemungkinan aku yang salah. … By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung.

Komentar
Memuat...