Aku adalah kita dalam Dia atau Dia dalam kita | Novel Filsafat Part – 2

23 77

Aku adalah kita dalam Dia atau Dia dalam kita. Jika aku adalah Dia dan Dia adalah aku, maka, pastilah aku dan Dia sama dengan kita. Jika bukan begitu, maka, aku pasti hanya sendiri yang mewakili diri-Nya. Padahal kata Leuxiphos, kita semua adalah wakil-Nya. Pengganti diri-Nya dalam menjaga kesemestaan agar tetap mengakui diri-Nya. Fungsi utama mengapa aku dan seluruh makhluk lain diciptakan, seungguhnya agar sadar bahwa kita tercipta. Karena tercipta, pasti ada yang Mencipta.

Adakah yang tercipta tanpa pencipta? Itu tidak mungkin! Masih mungkin ada Pencipta meski tanpa ada sedikitpun yang diciptakan. Kita boleh tidak ada, tetapi Dia pasti tetap ada. Dalam banyak kasus, sesungguhnya kita yang ada saja, sejatinya tidak ada. Mengapa? Karena yang benar-benar ada hanya Dia Sang Pengada.

Tak terbayangkan oleh Leuxiphos bagaimana Tuhan marah besar saat manusia tidak mengakui ketunggalan-Nya. Karena itu, ketunggalan selalu menjadi ekspresi sipat tertinggi-Nya. Yang mengakui Dia dalam posisi tidak tunggal saja Dia marah, bagaimana jika Dia malah tidak diakui keberadaannya sama sekali. Aku tak mengerti, Leuxiphos terus menggerutu. Bagaimana mungkin ada wujud manusia yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Dunia memang aneh.

Bagiku, kata Leuxiphos mengulang pemberontakan bathinnya. Kita adalah Dia dari segenap kesejatian dalam kesementaraannya. Ia takut jika aku menjadi Dia atau Dia menjadi aku, maka, pastilah aku akan menjadi sosok sebagaimana  diperankan Wealthy ketika berkuasa di negeri yang juga dicintai dirinya, Saba’.

Wealthy dalam anggapan Leuxiphos terlalu ceroboh mengambil posisinya sebagai penjaga Tuhan. Ia selalu menendang keras siapapun yang menolak mengakui keberadaanNya. Termasuk bagaimana dia dengan cara “bengis”. Misalnya, Wealthy menutup rapat seluruh lubang yang memungkinkan para gerombolan itu masuk kesinggasananya atau ke wilayah kekuasaannya.

Selama berkuasa, Wealthy juga yang mempersiapkan Timah Panas untuk mereka yang menjadi para gerombolan. Ia membakar timah agar meleleh. Lelehan tamah panas yang meleleh dibiarkan Wealthy agar kembali membeku dan membuat semua gerombolan anti Tuhan menjadi katupan timah yang keras.

Yang kutahu kata Leuxiphos, Wealthy sangat jujur dalam soal Tuhan. Ia menjadi manusia pemuja Tuhan yang sangat taat. Karena ekstremitas yang dibangun Wealthy  atas keinginannya untuk menjagaNya, akhirnya ia dituduh memanfaatkan psikologi umat manusia yang kebanyakan memang menyembah-Nya. Ia terkesan memanfaatkan isu ketuhanan untuk mempertahankan kekuasaan pada singgasananya.

Leuxiphos tak Mau Menjadi Wealthy

Aku sekali lagi, tak mau menjadi Wealthy. Meski harus diakui kalau Wealthy-lah sebenarnya Ksatria. Ia bahkan layak disebut pahlawan. Pahlawan ketuhanan untuk negeri Saba’. Dia adalah sosok yang mampu membangunkan mereka yang menyembah-Nya dalam mimbar yang dia susun. Bahkan dalam shaf-shaf yang sengaja dia persembahkan untuk Tuhan yang dia sembah. Untuk menjaga Tuhan yang Tunggal, Wealthy tetap pendiriannya, sekaipun ia akhirnya harus terasing.

Dalam keadaan kalut sendiri, Leuxiphos kemudian menyusun angannya sendiri dalam bentuk pertanyaan. Sambil mengeluarkan nafas panjangnya, ia bergumam: Masalahnya sekarang, mengapa di negeri Saba’ ini sulit sekali menemukan sosok seperti Wealthy? Mengapa Wealty tak mampu meahirkan anak; biologis dan Sosiologis yang sekelas atau minimal setara dengan dirinya. Jika ada, mungkin Negeri Saba tak akan menjadi negeri olok-olokan lagi.

Jangankan lahir sosok seperti Wealthy. Dalam banyak hal, mereka malah tampak sangat takut hanya untuk menyebut diri sebagai pencinta Wealthy. Termasuk dari mereka yang dulu kala, Dewanya diselematkan dalam nalar kekuasaannya dan mereka memujanya sebagai sosok ideal. Mereka yang dulu menikmati hasil jerih payah Wealthy sendiri, mereka kini beralari seolah takut disebut pengikutnya.

Berjam-jam Wealthy terus melakukan dialektika personal. Ia yang memang dikenal imaginer, semakin tampak imaginasinya dalam lurukan bathin yang sulit ditembus dan dimengerti banyak orang.

Dalam ketidak mengertiannya, Wealthy merumuskan konsep spiritual dalam apa yang disebut dengan pengenalan diri. Ia menyebut bahwa Dewa hanya akan dapat ditemukan oleh mereka yang mengenal dirinya sebagai manusia. Manusia yang tidak mengenal dirinya, kupastikan kata Leuxiphos, tak kan pernah mengenal Tuhan. Karena itu, kata Leuxiphos, mereka yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, semakna dengan diri manusia yang tak mengenal manusia.

Bagaimana mungkin, manusia tidak mengenal dirinya, akan mengenal kemanusiaan. Dan mereka yang tidak mengenal kemanusiaan, lalu bagaima ia memerankan diri sebagai penjaga dan pelindung manusia. Aku makin kacau, kata Leuxiphos.

Tetapi apa mungkin … ? Bukankah mereka yang menyebut diri sebagai kumpulan para anti Tuhan itu, justru tampak sangat humanis. Yang mungkin malah kemungkinan aku yang salah. … By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Cecep Sumarna berkata

    Betapa aku merasa sangat senang membaca berbagai komentar dan nalar yang masuk ke dalam akun khususnya di Novel bagian ini. Aku merasa anda semua sudah mulai belajar akan pentingnya literasi dalam pendidikan. Pendidikan yang baik adalah membentuk suatu kesadaran bahwa berpikir dan berbicara haruslah menggunakan nalar akademik. Ciri akademik, salah satunya diwujudkan dalam bentuk penalaran logis dan kemampuan mendesain dan mendalami dunia empiris. Ala kulli hal terima kasih banyak buat semuanya

  2. Fathurrakman aji T.IPS-A/1 berkata

    Mohon maaf sebelumnya, izin bergabung dalam pembahasan, benar yang dikatakan oleh ghowtsul pada novel filsafat part 2 ini membahas tentang, kita ini diciptakan agar mempercai bahwa adanya sang pencipta, walaupun kita tidak ada tetapi sang pencipta akan tetap ada, begitu pendapat leuxiphos. Muncul tokoh wealthy sang penjaga dewa di negri saba’ yang memandang keras siapapun yang menolak keberadaan dewa dan merumuskan konsep spiritual yaitu PENGENALAN DIRI yang berisi “Dewa hanya akan dapat ditemukan oleh mereka yang mengenal dirinya sebagai manusia. Manusia yang tidak mengenal dirinya, kupastikan tak akan mengenal dewa.” dan menurut leuxiphos “Mereka yang tidak mengakui keberadaan dewa semakna dengan diri manusia yang tidak mengenal manusia.” Dari itu dapat disimpulkan bahwa manusia harus mengenal dirinya terlebih dahulu baru kita akan mengenal dewa, dan seseorang yang tidak mengenal dirinya maka tidak akan mengakui keberadaan dewa. Dapat mengambil makna dari novel diatas adalah kita sebagai manusia harus dapat mengenal diri kita secara baik agar dapat menemukan sosok sang pencipta di hati kita yaitu Allah SWT, dan Allah SWT menciptakan kita untuk Beribadah kepada-Nya dan meyakini-Nya.

  3. Aida Nur Aisyah-TIPS A/1 berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Sebagai seseorang yang beragama tentu kita menyakini(mengimani) adanya Tuhan dan menjalankan semua perintahNya, seperti menjadi khalifah di bumi dengan menjaga dan melestarikannya serta mempunyai rasa kemanusiaan yangg tinggi. Namun,kita sebagai orang yang beragama kurang menerapkannya dalam kehidupan kita, justru orang yang tidak beragama lebih menerapkannya dalam kehidupan mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya mengimani Tuhan kita.
    Sekian
    Wassalamu’alaikum wr.wb

    1. Mukhammad Hasanudin(T.Ips A)Semester 1 berkata

      Saya tidak setuju dengan pendapat anda,menurut pandangan saya dari novel tersebut seseorang belum mengenal dirinya sendiri sehingga belum juga mengenal tuhannya jika kita sudah mengenal dirinya sendiri maka akan sendirinya mengenal tuhannya yang menciptakan kita semua sebagai khalifah di bumi.dan Wealthy yang merupakan pelindung dewa, seakan dia lupa bahwa cara mengenal tuhan seperti apa,dia hanya mengenal dewa dan tidak mengetahui Tuhan itu nyata. Leuxiphos bahkan tidak mau menjadi Wealthy sekalipun wealthy seorang kesatria dan pahlawan di juga merupakan seorang ekstrimis.
      Terimaksih

      1. Dadan handriansyah (T.Ips A/1) berkata

        Dadan handriansyah (TIPS.A/1)
        Menurut saya welthy terlalu dekat dengan dewa sedangkan di atas dewa masih ada tuhan sang pencipta, ia merasa di atas dewa tidak ada lagi yang harus d teladani atau d jadikan petunjuk.. Makannya dia merasa udah cukup pantas menjadi dewa. Ia merasa kemampuan ilmunya udah cukup menjadi seorang dewa.. Jadi intinya ia malah menjadi sosok dewa yang haus dengan kekuasaan ya.. Dia lupa dengan jati diri nya dan membuat dia lupa dengan siapa atau oleh siapa ia diciptakan.

  4. Iqbal ismail berkata

    assalamuakum.saya Iqbal ismail
    novel ini untuk mengingatkan kita bahwa kita itu ada yang meciptakan dan kita harus bersyukur kepada yang menciptakannya oleh sebab itu kita harus berkusnudon. kepada sang pencipta kita yaitu Tuhan yg menciptakan manusia untuk menyempurnakan akhlak.

  5. Iqbal ismail berkata

    assalamuakum.
    novel ini untuk mengingatkan kita bahwa kita itu ada yang meciptakan dan kita harus bersyukur kepada yang menciptakannya oleh sebab itu kita harus berkusnudon. kepada sang pencipta kita yaitu Tuhan yg menciptakan manusia untuk menyempurnakan akhlak.

  6. Adelia pramesetia putri berkata

    Assalamualaikum
    Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya harus memahami bahwa kita diciptakan berarti ada yang Menciptakan.
    Penting bagi kita untuk mengenal Tuhan kita, namun sebelum kita mengenal Tuhan kita, kita harus bisa mengenal diri kita sendiri. Setelah kita mengenal diri kita sendiri, kita dapat mengenal Tuhan kita, orang tua kita, dll.
    Kutipan “leuxiphos tak mau menjadi wealthy” menggambarkan jati diri leuxiphos yang tidak ingin menjadi wealthy karena wealthy yang terlalu ekstremitas dan wealthy memanfaatkan Dewa untuk mempertahankan jabatannya sebagai pelindung Dewa. Padahal wealthy adalah sosok ksatria.
    Maka dari itu penting bagi kita sebagai umat-Nya untuk memiliki sifat keagamaan dan kemanusiaan agar hidup kita seimbang. Kita tidak boleh hanya memiliki satu dari keduanya, karena itu akan menyebabkan hidup kita tidak seimbang.
    Terima kasih
    Wassalamualaikum

    -Adelia Pramesetia Putri. Tadris IPS A/1

    1. Silmy awwalunnisa T.IPS-A/1 berkata

      Tuhan itu satu. Melupakan tuhan atau menganggap tuhan tidak afa merupakan penghianatan terbesar. Adanya aku, kamu, kalian, karena diciptakan tuhan. Takan tercipta jika tuhan tidak menciptakan.

      1. Ayuning Sutiman berkata

        Kata leoxiphos ” manusia yang tidak mengenal dirinya kupastikan ia tak kan pernah mengenal Dewa”
        Diri… pengenalan diri itu penting. Jika seseorang tidak mengenali dirinya , maka bagaimana cara ia menjalani kehidupannya?
        Mungkin kehidupan yang dijalaninya itu akan terasa abstrak tak karuan jika seseorang tidak memgenali dirinya. Yaaa karna ia tidak mengetahui siapa dirinya, perasaannya dll.
        Dan jika seseorang tidak mengenali dirinya, sudah pasti ia tidak akan mengenali dewa / tuhannya.
        Bagaimana bisa seseorang mengenali dewa / tuhannya jika dirinya sendiri tidak ia kenal?
        Jadi jika kita ingin mengenal dewa / tuhan, terlebih dahulu kita harus mengenali diri kita sendiri.

    2. Afni Nursofiya T.IPS-A/1 berkata

      kita tidak boleh menjadi sosok wheatlty yang Mempertahankn kekuasaannya dengan cara menindas orang yg tidak percaya akan adanya tuhan. karena kita adalah salahsatu ciptaan-Nya. harus percaya bahwa ada yg menciptakan kita yaitu tuhan, kita harus mengenal diri kita dan pencipta kita, karena degan mengenal diri kita dan pencipta kita maka kita akan bisa mengenal ciptaan tuhan lainnya.

      1. Silmy awwalunnisa TIPS A/1 berkata

        Ingatkan dengan benar dengan lembut. Jangan mengomentari nya terlalu berlebihan. Itu akan membuatnya malas.

  7. Muhamad Udin TIPS-A/1 berkata

    Assalamualaikum
    novel ini sngat menarik untuk dibaca, menurut aku novel ini berisi tentang Ketuhanan yang Maha Esa. artinya bahwa Tuhan itu satu atau tunggal, kita sebagai manusia harus yakin bahwa Tuhan itu satu. jangan sampai sekali-kali kau menduakanya apalagi samapi syirik karna kalau sudah begitu Tuhan akan murka terhadap engkau sendiri.
    Tuhan menciptakan kita itu untuk menyembah-Nya, menuruti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

    1. Muhammad Ghowtsul Alam berkata

      Mohon maaf sebelumnya, izin menanggapi.
      menurut saya, statement anda tidak sesuai dengan apa yang ada pada novel tersebut.
      Dijelaskan pada novel tersebut, menceritakan manusia dalam mengenal dewa. dalam rangka mengenal tuhan, dia harus tahu dirinya sebagai manusia. manusia yang tidak mengenal dirinya, dipastikan tidak akan mengenal dewa. dengan kata lain, mereka yang tidak mengenal dirinya sebagai manusia sama dengan tidak mengakui keberadaan dewa. begitulah menutut Leuxiphos.

      1. Fathurrakhman aji T.IPS-A/1 berkata

        Mohon maaf sebelumnya, izin bergabung dalam pembahasan, benar yang dikatakan oleh ghowtsul pada novel filsafat part 2 ini membahas tentang, kita ini diciptakan agar mempercai bahwa adanya sang pencipta, walaupun kita tidak ada tetapi sang pencipta akan tetap ada, begitu pendapat leuxiphos. Muncul tokoh wealthy sang penjaga dewa di negri saba’ yang memandang keras siapapun yang menolak keberadaan dewa dan merumuskan konsep spiritual yaitu PENGENALAN DIRI yang berisi “Dewa hanya akan dapat ditemukan oleh mereka yang mengenal dirinya sebagai manusia. Manusia yang tidak mengenal dirinya, kupastikan tak akan mengenal dewa.” dan menurut leuxiphos “Mereka yang tidak mengakui keberadaan dewa semakna dengan diri manusia yang tidak mengenal manusia.” Dari itu dapat disimpulkan bahwa manusia harus mengenal dirinya terlebih dahulu baru kita akan mengenal dewa, dan seseorang yang tidak mengenal dirinya maka tidak akan mengakui keberadaan dewa. Dapat mengambil makna dari novel diatas adalah kita sebagai manusia harus dapat mengenal diri kita secara baik agar dapat menemukan sosok sang pencipta di hati kita yaitu Allah SWT, dan Allah SWT menciptakan kita untuk Beribadah kepada-Nya dan meyakini-Nya.

    2. Ega sopana IPS A/1 berkata

      Menurut leuxiphos setiap yang ada diseluruh alam semesta ini adalah diciptakan. Karena tercipta pasti yang mencipta. Leuxiphos mengutamakan manusia dibumi ini agar mengakui keberadaan -Nya yaitu Tuhan. Karena dialam semesta ini tidak akan tercipta jika tidak ada Dia sang Pencipta

  8. Santri Mabruri Abdi berkata

    Assalamualaikum Wr.Wb. Nama Saya Muhammad Santri Mabruri, 17086030011.
    Setelah saya membaca kemudian sekarang diminta untuk mengomentari, maka menurut saya dilihat dari sebuah kalimat “Wealthy yang merupakan pelindung dewa, seakan lupa bahwa sisi kemanusiaan juga penting untuk diperhatikan dalam memberikan pemahaman kepada manusia lain bahwa Tuhan itu nyata. Leuxiphos bahkan tidak mau menjadi Wealthy, yang merupakan seorang ekstrimis. Masyarkat bahkan menuduhnya sebagai orang yang memanfaatkan Dewa untuk mempertahankan jabatannya.” Novel ini memberikan gambaran kepada kita bahwa seseorang harus mengenal dirinya terlebih dulu sebelum ia mengenal orang lain. Seseorang harus mengenal dirinya sendiri dulu sebelum dia mengenal siapa TuhanNya. Seseorang harus mengenal dirinya sendiri dulu sebelum mengenal kedua orangtuanya. Sehingga dalam perjalanan kehidupan yang berpegang teguh kepada Agama yang kita anut yakni Islam, harus ada keseimbangan agamis dan humanis. Demikian kurang labihnya mohon maaf. Wassalam.

  9. Muhtadin berkata

    Novel Aku adalah kita dalam Dia atau Dia dalam kita Novel Filsafat Part – 2 sangat bagus sekali, Novel ini menerangkan tentang kadaan tuhan sebagai sang pencipta .tuhan itu sejatinya ada ,bagaimana selau mengawasi kita dan selau dekat. Manusia fungsiya adalah sebagai Hamba yang di ciptakan oleh tuhan.

    1. Cecep Sumarna berkata

      yess goog

  10. mely mentari berkata

    Novel ini memberikan gambaran kepada kita bahwa seseorang harus mengenal dirinya sendiri sebelum ia mengenal orang lain. Wealthy yang merupakan pelindung dewa, seakan lupa bahwa sisi kemanusiaan juga penting untuk diperhatikan dalam memberikan pemahaman kepada manusia lain bahwa Tuhan itu nyata. Leuxiphos bahkan tidak mau menjadi Wealthy, yang merupakan seorang ekstrimis. Masyarkat bahkan menuduhnya sebagai orang yang memanfaatkan Dewa untuk mempertahankan jabatannya. Dari situ bisa digambarkan bahwa dalam pendidikan atau bahkan dalam kehidupan itu sendiri, diperlukan keseimbangan agamis dan humanis. Dimana agama sebagai prinsip hidup, dan memanusiakan manusia merupkan salah satu hal yang penting utnuk lebih dekat kepada setiap insan manusia. Sebab untuk dekat dengan manusia, kita harus memahami manusianya itu sendiri. Oleh karena itu, diakhir penulisan novel ini Leuxiphos memberikan pandangannya kepada kita semua bahwa tidak akan mungkin manusia mengenal Tuhannya jika dirinya sendiri tidak mengenal dirinya.

    Mely Mentari
    mahasiswa pps semester 1 IAIN Syekh Nurjati Cirebon

  11. wafi ppssnj berkata

    assalamualaikum..saya Muhammad Wafi..
    setelah saya membaca dari novel part 2 Aku adalah kita dalam dia atau dia dalam kita..menarik untuk di baca.. dan isi yang menjadi sorotan sesuai yang saya baca dalam metafisika sebagai suatu faham yang memandang bahwa apa yang dinamakan kenyataan adalah bersifat kealaman.

  12. Euis setiawati berkata

    Assalamu’alaikum…prof mohon maaf mengganggu waktunya saya Euis Setiawati mahasiswa pasca iain syekh nurjati semester I NIM 17086030007 akan memberikan komentar novel part 2 sesuai dg tugas mandiri yg prof. berikan…sudah saya coba koment di akun prof.tapi belum bisa masuk aja…jadi saya mencoba komen disini aja prof.🙏 kepercayaan /keyakinan yg dimiliki leuxiphos adalah sebuah gambaran yang selayaknya dimiliki oleh kita sebagai seorang muslim yakni tentang adanya kita menjadi bukti adanya Dia (Tuhan) yg menciptakan,karena suatu hal yg mustahil ketika adanya sesuatu tidak ada yang mencipta.Salah satu tujuan kita diciptakan Tuhan adalah sebagai Khalifah fil ardi yakni sebagai wakil Tuhan untuk menjaga alam semesta dan menjaga keseimbangannya.Sejalan dg hal itu maka sebuah larangan ketika kita menduakan atau berlaku syirik terhadapNya dan Tuhan pun memberikan azab yg pedih (marah besar). Manusia dg segala kekurangan dan kerendahannya sebuah keniscayaan bahwa Dia akan mengakui adanya Tuhan yg Maha Pencipta begitupun yg dilakukan Wealthy,bentuk kepercayaannya Dia kepada Dewa, bahkan dia tsangat mengutuk keras terhadap orang2 yg tidak mempercayai akan adanya Tuhannya yakni Dewa.

  13. Mahwiyah berkata

    Novel ini terinspirasi bahwa manusia hendaknya sadar karena dalam diri manusia tidak terlepas dari Tuhannya, manusia tercipta karena ada yang menciptakan dan manusia adalah hasil karya Tuhan yang telah menyatu dalam dirinya, manusia tidak akan bisa mengenal Tuhannya jika mereka belum mengenal dirinya dari sudut pandang kemanusiaan, manusia yg telah di ciptakan oleh Tuhan harus dapat meyakini keberadaan Tuhan dan mengakui kemanunggalannya.
    Novel ini juga dapat membuka wawasan pemikiran seseorang akan siapa jati dirinya dan kepada siapa mereka harus mengabdi,
    Manusia hrs dapat memposisikan dirinya sebagai khalifah dari sang pencipta dan harus selamanya berbuat kebaikan di muka bumi ini demi keberlangsungan kehidupan yang humanis.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.