Aku Hendak Memenuhi Panggilan-Mu | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 8

Aku Hendak Memenuhi Panggilan-Mu | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 8
0 158

Aku Hendak Memenuhi Panggilan-Mu – Proses manasik di KBIH Islamic center terus diikuti Crhonos bersama keluarganya. Ia mengikuti dengan tekun latihan ini. Hampir tidak ada satu kegiatan rutin yang dilaksanakan pada hari minggu itu, yang kelewat tidak diikuti Crhonos dengan keluarganya. Terlebih materi yang ditampilkan di KBIH ini, memang cukup menarik untuk didengarkan dan diikuti. Kalimah-kalimah sakti penuh magis ketuhanan,  dihafalkan Crhonos. Kalimat dimaksud misalnya berbunyi:

Labaik Allahumma Labaaik, labaaika Laa Syarika Laka Labaaik. Inal Hamda Wan Nikmata Laka Wal Mulka La Syarika lak“.  [Aku dating memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, aku sedang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada apapun yang dapat menandidingi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan adalah milik-Mu. Sekali lahi tidak ada sekutu bagi-Mu ya Allah

Terbayang oleh Crhonos, bagaimana bacaan ini menggema di seluruh jagad Mekkah. Kalimat ini akan dikumandangkan seluruh jamaah haji dari seluruh dunia. Masyarakat Muslim akan berkumpul dari berbagai ras, suku dan bangsa dalam satu waktu dan tempat yang sama. Manusia dengan badan yang tinggi, pendek, kurus dan gemuk, berkumpul. Bersatu seperti sebuah keluarga besar yang tidak ada kebencian satu sama lain. Suatu suana indah penuh persaudaraan.

Ia membayangkan bagaimana pemandangan penuh kesucian itu, menyentuh hatinya. Suatu pemandangan mengharukan sekaligus mungkin menghisteriskan dirinya dalam nuansa ketuhanan. Umat muslimin dari negara yang berbeda-beda, yang mungkin terbiasa berseteru dan berselisih kalau bukan terpecah belah, saat prosesi haji berlangsung, akan mengumandangkan satu kalimat dan satu ucapan yang sama. Pakaian yang digunakan juga sama, yakni serba putih.

Haji Mempersatukan Perbedaan

Inilah suatu situasi spiritual yang tidak lagi membedakan kedudukan dan martabat manusia berdasarkan kekayaan,  bangsa dan suku. Tidak lagi ada jarak antara mereka yang disebut dengan ulama dan masyarakat awam. Pejabat dan rakyat. Manusia kaya dan manusia miskin. Semuanya bersatu, memadu kalimat yang sama. Mereka mengucapkan kalimat talbiyah menyambut seruan Allah. Inilah seruan yang difirmankan-Nya dalam surat al Hajj [22]: 27:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamudengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Inilah firman di mana Allah memerintahkan kepada Ibrahim, bapak agama bertauhid, sebagaimana dapat dibaca dalam hadits yang dieiwayatkan ibnu Jarir berikut ini:  “Wahai manusia sesungguhnya Rabb kalian telah membangun satu rumah (ka’bah) dan memerintahkan kalian untuk berhaji kepadanya. Lalu menerima panggilan ini apa saja yang mendengarnya dari batu-batuan, pepohonan, bukit-bukit debu atau apasaja yang ada, lalu mereka berkata: labbaik allahumma labbaik …

Bagi Crhonos, haji adalah kegiatan di mana umat manusia dipersatukan. Ia menjadi symbol sekaligus ajaran yang menyatukan seluruh elemen manusia yang berbeda satu dengan yang lain. Crhonos menyerah pada kehendak kuasa Tuhan. Tuhan adalah pemilik segala kepemilikan dan penentu segala ketentuan. Ia hanyut dalam segenap lamunan panjangnya, bagaimana Mekkah yang penuh padang pasir itu, akan dia kunjungi. Menyaksikan bagaimana artepak ketuhanan dibangun manusia di muka bumi. Bagaimana Tuhan yang menciptkan manusia sebagai cermin terbaik-Nya itu, menyatu dalam segenap kubangan kehidupan yang kosmopolit.

Segala Hal Telah Siap

Dalam prosesi manasik di KBIH itulah, Crhonos mulai menulis dalam X File-nya berbagai peristiwa. Segenap peristiwa yang mengharukan atau membahagiakan. Tidak sedikit yang menyedihkan. Ia mulai menyadari segenap kemungkinan atas keberangkatan diri dan keluarganya ke tanah suci.

Ia mulai sadar bahwa hajji adalah panggilan. Hajji adalah ketentuan yang dalam bahasa orang kampung disebut dengan takdir. Kegiatan pelaksanaan haji, tidak mungkin dapat dipisahkan dengan hati dan kecenderungannya dalam menerima kebenaran. Tidak terasa, latihan itu telah berlangsung enam bulan.Suatu durasi waktu, di mana dia atau bagian dari keluarganya harus bolak balik, menjemput Shofi dan Siti ke kampung halamannya guna mengikuti manasik. Pernah suatu hari, Shofi meminta untuk tidak mengikuti manasik. Maklum, fisiknya sering melemah. Ia mengatakan:

“Crhonos, aku merasa telah cukup mengikuti manasik. Setiap apa yang disampaikan pemateri hajji, itu sudah aku faham dan hafal. Insyaallah aku akan mengikuti hajji dengan mengerti secara benar berbagai bacaan yang mungkin hadir di tanah suci. Aku menyadari sepenuhnya, bahwa kegiatan ini penting. Tetapi, lebih penting jika saya harus mempersiapakan energi fisik guna keberangkatan kita ke tanah suci. Crhonos diam. Ia hanya meneteskan air mata. Ia sadar memang Shofi sedang sakit. Ia membiarkannya istirahat. Dan hanya Siti yang terus menerus mengikuti kegiatan ini secara tuntas”.

Dalam perjalanan enam bulan itu pula, Crhonos tidak sadar, tabungannya sudah penuh. Ongkos untuk berangkatpun sudah cukup. Hutang ke bank syari’ah itu juga sudah lunas. Bahkan setelah diambil segenap keperluan untuk keberangkatan mereka, uang yang tersisa di tabungan persis dalam jumlah yang sama seperti saat dia pertama kali memperoleh uang dari guru Syadily. Jumlahnya sama dengan harga tanah yang dijualnya. Crhonos banyak beristighfar. Ia merasa tidak logis mengapa ia dapat memenuhi hajatnya dalam waktu singkat. Inilah spiritualitas pertama dalam kaca mata manusia yang dirasakan Crhonos.

Walimah Safar Dalam Dinamika Unik

Shofi dan Siti menyelenggarakan acara walimahan tiga minggu sebelum keberangkatannya ke tanah suci. Acara itu, dihelat cukup ramai dengan pengunjung yang juga sangat merayap. Para masyarakat memadati rumah kediaman Shofi dan Siti. Mereka mengisyakan tangis, karena keberangkatan Haji Shofi, justru terjadi saat di mana ia mengalami sakit yang cukup akut. Mereka tidak membayangkan dapat kembali bertemu dengan Shofi di kampung halamannya. Mereka ragu, ia kembali lagi.

Dan entah mengapa, banyak sekali amplop berisi uang di rumah Shofi setelah acara itu berlangsung. Crhonos meminta Herman dan Amin untuk membagikan seluruh uang yang diberikan masyarakat itu, kepada siapapun yang membutuhkannya.

“Hai Crhonos, di rumah kita banyak amplop. Isinya uang melulu. Banyak banget. Lalu dengan langgamnya sebagai manusia penuh percaya diri, Crhonos meminta kedua adiknya itu, untuk membagikan uang dimaksud kepada seluruh warga masyarakat. Sediakan sebagai bentuk shadaqah kita kepada masyarakat. Insyaallah perbekalan yang kita miliki cukup untuk keberangkatan ini. Uang itu, kemudian dibagikan dengan tidak menyisakan sedikitpun”

Crhonos sendiri menyelenggarakan acara walimahan dua minggu sebelum keberangkatannya ke tanah suci. Ia mengundang melalui SMS terhadap teman-temannya dari berbagai daerah. Ia menyediakan makanan dalam jumlah yang sangat banyak. Ia merasa memiliki modal uang ditabungannya untuk kegiatan dimaksud.

Saat prosesi itu berlangsung, Crhonos sendiri tidak mengerti, mengapa teman-temannya memberi amplop kepadanya dan kepada istrinya. Semua yang hadir memberinya. Ia tidak mengerti. Apa aku dianggap tidak punya bekal. Terus menerus ia mempertanyakan mengapa mereka memberi uang. Mengapa tidak mengerti? Sebab selama Crhonos menghadiri acara walimahan, ia merasa tidak pernah memberi semacam itu. Dianggapnya yang hajji pasti mampu secara ekonomi. Iapun kembali menghabiskan uang pemberian itu, kepada seluruh fakir miskin dan ibnu sabil.

Dalam bathin, Crhonos mengatakan: “Betul bahwa uang ini aku perlukan sebagai bekalku, tetapi, sesungguhnya bekal hajji yang paling baik adalah sikap ketakwaanku” By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...