Aku Tak Menyembahmu Kabah | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 16

Aku Tak Menyembahmu Kabah | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 16
0 134

Aku Tak Menyembahmu Kabah. Satu persatu, penumpang kembali naik ke dalam bus. Setelah semuanya masuk, Kepala Rombongan, kembali membacakan do’a. Do’a perjalanan yang lantunan kalimatnya tidak pernah berubah. Bus yang ditumpangi Crhonos, Shofi dan keluarganyapun, mulai merayap maju dengan pelan. Betapa padatnya jalan ke luar dari area Masjid Bir Ali. Beberapa kali, Crhonos ingin memalingkan mukanya ke belakang. Tetapi, Shofi selalu mencegahnya. Ia tidak mengidzinkan anaknya itu, untuk melirik ke arah belakang.

Klakson-klakson mobil dengan suara yang sangat keras terdengar terus bersahutan satu sama lain. Bersahutan antara satu mobil dengan mobil lainnya. Jika suasana seperti ini terjadi, Crhonos merasa sedang tidak berada di tanah haram. Ia merasa seperti sedang berada di sebuah kampium para pendekar tanah sahara. Kadang suara tukang parkir dengan janggut yang sangat panjang tebal, begitu keras terdengar. Suara suara yang mirip untuk mereka yang berasal dari pegunungan, seperti sedang marah.

Begitu mobil masuk ke jalan raya [semacam jalan tol di Indonesia], tepat pukul 18.00 waktu setempat. Bus itu melaju dengan cepat. Crhonos yang duduk di barisan depan, menyaksikan dengan seksama kecepatan bus dimaksud di kisaran 80-120 KM per jam. Suatu kecepatan di atas rata-rata. Mobil itu maju diiringi dengan tenggelamnya matahari. Semakin lama semakin redup, lalu hilang sama sekali. Tidak lama kemudian, lampu-lampu yang demikian besar, menyala di jalan raya yang juga sangat lebar. Tampak sangat terang.

Setelah perjalanan kurang lebih 4 jam, atau kurang lebih sekitar pukul 22.00 bus yang ditumpangi rombongan Crhonos, supir memarkir bisnya di tempat pemberhentian. Tempat ini menjadi area pemberhentian semua bus yang melintasi Mekkah-Medinah atau Medinah Mekkah. Bus-bus itu berjejer sangat banyak dan panjang. Di masa Rasulullah, konon di tempat ini, pernah terjadi suatu peristiwa besar, karena terjadi perang badar. Di tempat ini, setidaknya terdapat POM bensin, mini market, restoran, WC dan masjid.

Perang Heroism Ketuhanan

Terpaan angin begitu kuat menerjang muka jama’ah di tempat pemberhentian. Cuaca sangat dingin dan menusuk pori-pori dan sumsum tulang manusia. Terlebih kami, kata Crhonos, sudah memakai pakaian ihram. Rasanya sulit untuk tidak disebut bahwa kami berada dalam kedinginan yang sangat akut. Jama’ah banyak yang turun dari mobil. Mereka umumnya melakukan buang air besar dan kecil ke WC umum. Sebagian ada yang masuk ke rumah makan. Mereka melakukan santap makan malam bersama keluarganya masing-masing.

Hampir satu jam setengah, jama’ah berhenti di tempat di mana Nabi pernah melakukan perang badar. Suatu perang dengan jumlah yang sangat tidak seimbang. Jumlah kaum Muslim hanya 10 persen dari jumlah kaum Quraisy yang masih kaffir. Tetapi, sekalipun mereka berada dalam jumlah yang jauh lebih kecil, umat Islam justru memenangkan pertarungan ini. Di tempat inilah, Shofi berbisik kepada Crhonos.

Hai anak-ku, tahukah kamu tentang perang badar? Sewaktu aku masih mengajar dan salah satunya kamu menjadi muridku, sering dikisahkan tentang heroisme Muslim. Perang ini adalah perang heroisme ketuhanan. Bayangkan … dengan hanya 10 persen dari jumlah kekuatan musuh, umat Islam mampu mengalahkan mereka. Nanti kamu baca surat Ali Imran [3]: 124-125. Terjemahannya adalah sebagai berikut: “Ingatlah, ketika kamu mengatakan kepada orang mu’min: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

Di tempat inilah, kata Shofi, dulu umat Islam mampu menunjukkan eksistensinya. Ia berada dalam lindungan Tuhan. Mengapa? Karena mereka semua bukan saja mengakui Tuhan yang tunggal, tetapi juga mengamalkan seluruh perintah-Nya tanpa reserve. Jadi, kalau kamu ingin memenangkan segala pertarungan, maka, perkokohlah keyakinan kamu. Kisah di perang Badar ini, harus menjadi inspirasi buat kamu.

Crhonos heran, bapaknya yang sudah tua dan memiliki penyakit yang sangat akut itu, masih tetap memberi nasihat kepada anaknya itu. Tetapi, Crhonos kembali menyatakan bahwa tampaknya, Shofi hendak menyampaikan segala hal tentang agama dan prinsip dasar keagamaan yang dianut.

Petugas yang Tidak Profesional

Jama’ah melanjutkan perjalanannya kurang lebih pukul 23.30 malam. Kepala Rombongan kembali membacakan do’a reguler yang disebut Shofi sebagai do’a abadi. Inilah do’a yang tidak pernah berubah. Jama’ahpun seperti tidak bosan membacakan do’a itu, terlebih dibarengi dengan membaca bacaan talbiyah. Bacaan itu, menyentuh hati terdalam manusia. Menggoyahkan keangkuhan hidup dan mendorong setiap jiwa manusia yang ada didalamnya, dalam lanskap hidup penuh misteri.

Dalam kasus tertentu, karena umumnya memakai pakaian ihram, jama’ah seperti terhipnotis dan pola hidup yang seolah akan mengalami kematian. Akhirnya, sangat mudah difahami mengapa mereka dan tentu saja keluarga Shofi, sangat mudah meneteskan air mata.

Perjalanan dari tempat istirahat menuju Hotel, semestinya cukup ditempuh dalam waktu dua jam. Namun, ketika bus akan masuk ke sekitar Hotel, kebetulan kami di tempatkan di syari’ Syuhada dekat Tan’im, perjalanan menjadi tersendat. Macetnya lalu lintas di sekitar Hotel yang akan dimasuki jama’ah, telah membuat jama’ah mulai gelisah. Akhirnya, pukul 0.200, Jama’ah dapat masuk ke dalam hotel dalam waktu yang sangat terbatas.

Petugas-petugas haji yang ditetapkan pihak penyelenggara haji, memang tampak sangat tidak ahli. Mereka bukan saja tidak memiliki kemampuan berkomunikasi –tentu bahasa Arab– tetapi, juga tidak memiliki kemampuan lobby yang baik. Kami tidak tahu, harus ditempatkan di kamar yang mana. Hotel yang demikian besar, dan tidak kurang dari tujuh lantai itu, diisi berbagai jama’ah dari Afrika, Somalia, India dan Bangladesh. Ooooh inilah kelas Indonesia dalam pentas dunia. Shofi mendekatkan ke dua tangannya ke mulutnya, agar Crhonos tidak terlalu kritis. Anaknyapun kembali diam.

Setelah beristirahat beberapa saat, jama’ah kembali diminta untuk masuk ke dalam bus. Naiklah mereka. Dalam kondisi yang sudah sangat lelah dan ngantuk, jama’ah sampai ke Ka’bah, tepat pada pukul 0.4.00 dini hari. Shofi dan keluarganya masuk ke Ka’bah melalui Bab al Fath.

Crhonos Mengalami Past Live

Begitu Crhonos masuk ke dalam Ka’bah, ia seperti Past live. Ia merasa pernah berada di tempat itu. Crhonos yakin, tempat ini pernah ditinggalinya dalam waktu yang cukup lama. Saat itu, suasana semakin terasa histeria, terlebih ketika ia mendengar berbagai isak tangis seluruh jama’ah.Crhonos tetap tegar. Ia hanya merinding bulu kuduknya, karena suasana di mana ia berada dalam satu alam primordial yang pernah dilaluinya.

Semakin lama, tangisan itu semakin terasa banyak. Inilah mungkin yang mengabsyahkan Mekkah sebagai Bakkah. Kota air mata. Air mata yang tidak mungkin cukup ditampung di sebuah tangki minyak tanah di Indonesia. Crhonos kaget mengapa mereka menangis. Merekapun berhamburan mendekati Ka’bah dengan cara seperti berlari. Mereka mencari lampu hijau yang menjadi tanda dimulainya pelaksanaan thawaf. Lampu ini persis sejajar dengan hajar aswad.

Sementara Crhonos menahan tangan istri dan ibunya, Siti, agar tidak memaksakan diri. Terlebih tentu, Crhonos sadar bahwa bapaknya, Shofi sangat tidak mungkin masuk secara langsung ke pelataran Ka’bah. Crhonos ingin mencari tahu di mana ia dapat menyewa kursi roda, agar bapaknya dapat melaksanakan thawaf.

Tidak lama kemudian, seorang laki-laki hitam bertubuh tinggi besar dengan membawa kursi roda datang menjumpainya. Crhonos demikian lihai berkata-kata dengan lelaki yang tampaknya turunan Afrika itu. Kursi roda yang sebelumnya ditawarkan dengan 500 riyal itu, langsung turun dengan harga 100 riyal. Laki-laki itu pula yang mendorongnya. Mereka kemudian sama-sama melakukan perjanjian agar Shofi kembali ditempatkan di tempat di mana mereka saat itu melakukan transaksi. Setelah Shofi mulai bergerak, barulah Crhonos dan Vetra bersama Siti berjalan mendekati Ka’bah untuk melakukan thawaf.

Vetra dan Siti terus menangis. Sementara Crhonos justru menunjukkan watak filosofinya. Ia tidak ingin menangisinya apalagi menempatkannya sebagai sesuatu yang mengalahkan Tuhannya. Ia mengatakan:

“Wahai Ka’bah, aku tahu kau sangat agung. Tidak ada yang mampu mengalahkan kemuliaan dan keagunganmu. Tetapi, kau bukan Tuhanku. Aku tidak menyembahmu. Kedatanganku ke sini bukan untuk menyembahmu. Aku datang untuk melaksanakan perintah Tuhan-ku menjumpai salah satu keagungan-Nya, yakni dirimu. Maafkan aku. Aku tak akan memujamu sebagai tujuan persembahanku. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...