Aku Tetap Gugur Dan Menanti Skenario Takdir

Kumpulan Puisi-puisi terbaik tentang cinta dan penantian. Puisi Penantian, Puisi Indah Ayu Aku Tetap Gugur Dan Menanti Skenario Takdir
0 319

Sesekali kita adalah raja dan ratu yang tidak memiliki singgasana. Ya… memang seperti itu, ketika kita tahu bahwa ada penantian besar yang kita tunggu. “Berusahalah” itu yang acapkali di dengar dari mereka orang terdekat kita. Lalu, salahkah jika kita utarakan penantian itu secara terus menerus? adakah cara terhebat untuk tunjukan sisi lain harapan kita?  semua jawabanya ada pada Takdir. Dan sekali lagi “Aku Tetap Gugur Dan Menanti Skenario Takdir

Ketahuilah, bahwa mereka yang diam lalu bicara dalam syair terpahat adalah pemilik jiwa agung. Sadar akan lal itu, maka berpuisi merupakan ciri dari Jiwa-jiwa agung. Dan kali ini Lyceum.id. menghdirkan kembali puisi-puisi terbaik yang masuk ke meja redaksi. seperti puisi yang satu ini, Puisi karya Indah Ayu :

Gugur

Karya : Indah Ayu

Dingin…
Layaknya siang ditengah badai salju.
Mentari pun tak berarti.
Aku kembali terbangun dan termenung di tengah gelap.
Sadar bahwa ketukan pintu itu tak pernah terdengar,
meskipun aku mencoba mengetuknya dengan keras dan berulang.
Tapi sayang, akhirnya aku gugur.
Gugur dalam bertahan untuk mengeraskan leherku agar tak menoleh.
Tuhan selalu mentakdirkan kehendak yang membuatku tak kuasa dalam inginku.
Inginku untuk sirna.

Entah bagaimana pun tak ada yang tahu,
malam tidak akan mengerti,
pun hati yang sama sekali tidak hadir.
Kata-kata pun tak akan habis menggambarkannya,
Justru diam lah yang mampu.
Apalah arti singa jika ia tak punya tahta,
Apalah arti pena jika ia tak bertinta.
Tak dibutuhkan.

Sekali lagi aku termenung dan mengetuk pintu itu,
di terik siang yang panas,
meski akhirnya aku mati terbakar dan kembali gugur.
Gugur bahkan sebelum berjuang.
Layaknya pahlawan yang tidak punya jasa.
Tidaklah pantas dikenang,
atau dijadikan sesuatu yang berkenan.
Andai engkau pemilik rumah mendengar sehela nafas terakhirku,
Apakah pintu itu akan terbuka?
Atau kau hanya keluar lewat pintu belakang?
Apa yang kan kau lakukan saat sadar ada mayat di depan pintumu?
Kuharap kau memiliki mukjizat nabi isa.
Tapi mukjizat sudah tidak lagi ada di zaman ini.
Angan selalu terkubur takdir.
Yang pada akhirnya hanya akan membuatku semakin gugur.
Tapi setidaknya gugurku menunjukkan pada semesta bahwa aku memang anak adam.
Gugur berkali-kali membuatku semakin heran.
Selalu bertanya, tentang apa yang dilakukan si pemilik rumah itu.
Tapi sayang, untuk tahu apapun aku tak mampu.

BACA JUGA : “Pelacur ” Ya, Aku Si Pelacur Itu Dalam Sajak

Mencoba menguping dibalik dinding beton yang setebal itu tidak akan terdengar apapun.
Mencoba penglihatan sinar x pun tak terlihat.
Seperti itulah gugurku.
Padahal aku hanya ingin beristirahat di dalam rumah itu,
dan mati perlahan.
Padahal aku hanya ingin merasakan empuknya sofa dalam rumah itu,
yang mungkin rasanya tidak akan lagi sama.
Padahal, dan padahal.
Tapi sedikitpun pemilik rumah tidaklah ingin tahu.

Kadang aku berpikir,
bahwa si pemilik rumah hanya tidak sadar akan seseorang dibalik pintunya,
tapi sekali lagi kembali aku bertanya,
mengapa tidak juga ia sadar dan membuka pintu?
Aku tahu, itu semua memang pertanyaan bodoh.
Karna bertahun-tahun sudah aku tak pernah mendapat jawabannya.
Hingga pertanyaan-pertanyaan bodoh itu kembali bersautan.
Mungkin si pemilik rumah itu hanya ingin memastikan bahwa pengetuk pintunya bukanlah penyamun,
tapi lagi-lagi aku bertanya mengapa tidak juga terbuka?
Apakah mungkin aku sudah dianggap penjahat yang akan membunuh dan merusak isi rumahnya?
Atau aku hanya dianggap makhluk asing yang tak lagi kasat di matanya?
Seperti itukah?
Pada akhirnya, aku tetap gugur dan menanti skenario takdir sang khalik.


Editor : [Ali Alamsyah Putra]

Komentar
Memuat...