Inspirasi Tanpa Batas

Al Farabi Tokoh dan Teoritikus Politik Islam | Intelektual Muslim Part-9

Al Farabi Tokoh dan Teoritikus Politik Islam Intelektual Muslim Part-9
0 84

Baghdad –sebagai pusat ibu kota dunia Islam– masih tetap menjadi pusat perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan, saat di mana al Farabi tumbuh sebagai sosok ilmuan yang disegani. Ia bukan hanya dikenal sebagai komentator filsafat Yunani, khususnya filsafat Plato dan Aristoteles, tetapi juga teoritikus politik dalam dunia Islam.

Alfarabi sedikit berbeda dengan filosof lain di dunia Islam, karena ia lebih banyak bicara soal politik negara. Mengapa? Karena secara natur Baghdad sedang berada pada moment deklanasi (penurunan) wibawa dalam konteks politik. Karena itu, tidak salah meski ia juga mengurai tentang hukum emanasi (alfayd), tetapi, konsentrasi utama berpikirnya terletak dalam kajian politik kenegaraan. Karya masyhur yang sering disebut magnum ovus-nya adalah al-Siyasah al-Madaniyah, Fushul al-Madani dan Tahshil al-Sa’adah. Karya ini, semua berbicara soal negara dan politik kekuasaan.

Secara nalar, isi kitab-kitab tadi, sangat dekat dengan pikiran Plato dan Aristoteles yang membahas manusia dalam terminologi sosial. Dalam kajian di buku ini, ia menyebut bahwa manusia membutuhkan manusia lain. Kebutuhan manusia terhadap manusia lain disebutnya sebagai kebutuhan alami atau dapat juga disebut sebagai kebutuhan qudrati.  Negara mesti hadir untuk memenuhi kebutuhan materil dan spiritual dalam rangka memperoleh kebahagaiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Inilah politik moral atau etika politik sebagaimana Plato dan Aristoteles inginkan.

Karena itu, negara mesti hadir untuk membentuk masyarakat yang sempurna, yakni masyarakat yang besar karena bergabung berbagai bangsa lain dalam satu kekuatan politik yang sama, yakni membuat rakyatnya menjadi makmur. Jika prinsip ini tidak tercapai, maka, suatu negara boleh dibentuk hanya dalam satu kekuatan homogen dilihat dari gabungan masyarakat dalam satu kesatuan bangsa, atau bahkan hanya terdiri dari satu kota saja. Ini masih disebut sebagai negara ideal, meski sangat minimalis. Tetapi, ia tidak setuju pembentukan suatu  negara yang tidak ideal, yakni bentuk pemerintahan tingkat desa, kampung atau bahkan mungkin keluarga.

Negara Ideal al Farabi

Al Madinah al Fadhilah atau negara utama adalah bentuk pemerintahan yang mencerminkan dirinya seperti tubuh manusia. Negara mesti mampu menjamin seluruh organ tubuh dalam fungsinya masing-masing secara cepat dan tepat. Kita tahu bahwa tubuh memiliki organ yang berbeda, tetapi, satu sama lain saling terkait.

Negara pasti memiliki organ vital. Dalam anggapan al Farabi yang vital itu adalah jantung. Semua organ dalam tubuh manusia bekerja untuk kepentingan jantung, meski cara kerjanya berbeda. Apa yang menjadi jantung sesungguhnya dari sebuah negara itu?

Dalam tulisan al Farabi, jantung itu adalah kemakmuran dan kenyamanan hidup dan tercapainya tujuan pembentukkan negara, yakni membuat warganya memperoleh kebahagian; lahir dan bathin. Untuk itu, sebuah negara ideal pasti membutuhkan kepala negara yang failsuf. Para kepala negara yang failasuf tadi, dianggapnya akan mampu menggerakan mata, telinga, tangan dan kaki.

Dengan nalar semacam itu, maka, suatu negara ideal disebut fdhilah jika kepala negara mampu menggerakkan seluruh anggota masing-masing sesuai dengan tugasnya tanpa mencampuri tugas-tugas lain. Jika ini mampu tercapai, maka, negara dapat dipandang sebagai negara utama karena jantung itu negara tetap berjalan dengan baik. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...