Inspirasi Tanpa Batas

Al Ghazali Hujjatul Islam dalam Sosok Intelektual Muslim Part-1

Al Ghazali Hujjatul Islam dalam Sosok Intelektual Muslim Part-1
0 127

Mulai hari ini dan ke depan, Lyceum Indonesia, menghadirkan sosok-sosok Intelektual Muslim abad ke 8 sampai dengan abab ke 13 Masehi. Tulisan tentang berbagai sosok dimaksud, dibahas dalam tiga naskah secara urut yang menyangkut pengorbanan sang tokoh pada dunia ilmu. Edisi pertama mengangkat tentang sosok al Ghazali yang dianggap banyak pihak telah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dunia Islam.

Benda Tertajam yang Dimiliki Manusia

Al Ghazali. Inilah nama yang dikenal umat Islam dengan kalimat yang sangat pendek. Padahal, nama sebenarnya begitu panjang, yakni: Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy Syafi’i. Sosok ini, lahir di Tus, Iran pada tahun 1058 dan meninggal di kota yang sama pada tahun 1111 Masehi. Ia termasuk di antara fuqaha, theolog, filosof dan shufi Muslim yang sangat terkenal dan dalam kasus tertentu terkesan kontroversial. Itulah yang kemudian telah memperkenalkan dirinya sebagai hujjatul Islam. Inilah sosok pelanjut dari pemikiran Ibnu Sina, Abu al Hasan al As’ary, al Kindi dan Harits al Muhasibi. Ia sama seperti sosok intelektual Muslim masa lalu, yang selalu menyisakan dialektika filosofis dalam banyak hal. Itu juga yang diperlihatkan al Ghazali dengan guru-gurunya. Perbedaannya sangat terlihat diametral satu sama lain.

Al Ghazali dikenanl sebagai sosok yang tidak pernah berhenti mendorong umat Islam, tentu yang paling penting adalah para pengikutnya, agar mampu menjaga lisan. Hal ini terlihat ketika dia bertanya bertanya kepada para muridnya, tentang benda apakah yang paling tajam dari segenap benda yang dimiliki manusia.

Banyak murid dirinya yang menjawab bahwa yang paling tajam itu, adaah pisau, keris, sillet atau bahkan pedang. Al Ghazali mengatakan bahwa mungkin iya benda dimaksud tajam. Tetapi, ada yang lebih tajam dari hanya sekedar pedang, yakni lidah manusia. Dengan lidah, manusia dapat membunuh manusia lain dan tentu yang paling sederhana adalah melukai perasaan manusia yang lain. Melalui lidah, manusia akan dengan sangat mudah membolak balikan kata dan logika. Menurutnya, adalah tidak hina jika kita menerima alasan orang lain yang patut dianggap benar, sekalipun datang dari musuh pada apa yang menurut keyakinan kita, hal dimaksud sangat membuat diri kita terasa lemah.

Belajar Mendengarkan, Itu Pelajaran Penting

Al Ghazali, juga menyarankan agar para intelektual Muslim untuk tidak segan dan malu kembali ke jalan yang benar, dengan cara salah satunya menerima logika orang lain, yang dianggap lebih lurus dan lebih benar jika dibandingkan dengan logika yang kita anut. Menurutnya, banyak umat manusia yang jatuh karena tidak mau kembali ke jalan yang benar, hanya karena ia merasa bahwa pada apa yang disebut benar itu, logikanya dimiliki orang lain. Karena itu, belajar mendengarkan jauh lebih penting untuk para alim, dibandingkan dengan belajar berbicara atau membaca sesuatu hanya untuk mengetahui sesuatu.

Inilah tauladan atau contoh dalam melaksanakan ajaran agama dan menjauhi apa yang dilarang agama. Jadilah,  contoh agar mampu menginspirasi manusia yang lain. ** Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...