Al Hallaj, Shufi Kemanusiaan dalam Intelektual Muslim Part-19

Al Hallaj, Shufi Kemanusiaan dalam Intelektual Muslim Part-19
0 15

Shufi mistik yang saya istilahkan dengan kata theoshof, dalam gaya tertentu, jika didalami lebih jauh misalnya dari apa yang dipraktekkan al Hallaj, sebenarnya dapat disebut sebagai suatu aliran atau ajaran dalam kegiatan keagamaan yang bertujuan mencari cara, tentang bagaimana manusia melakukan hubungan atau relasi secara langsung dan khusus dengan Tuhan-nya.

Konsep komunikasi ini dibungkus dalam satu nalar yang jika kita mencoba membaca pikiran al Jilli, seorang shufi/mistik falsafi lain, dengan konsep mirar-nya, menganggap seluruh makhluk Tuhan, termasuk tentu yang utama adalah manusia, selalu mengandung dua unsur yang berbeda. Kedua unsur itu adalah unsur lahut dan unsut nashut.

Pola relasi manusia dengan Tuhan dapat dilakukan secara langsung, dalam perspektif shufi, sepanjang manusia melakukan kontak langsung antara ruhnya dengan Tuhannya dalam bentuk ittihad (penyatuan diri). Untuk sampai pada tingkat ittihad ini, di kalangan ahli shufi, memang dibutuhkan banyak tempat tertentu (maqam), tentu bukan dalam pengertian fisik, yang berbeda dengan maqam biasanya. Ritual-ritual tertentu yang selama ini dianggap biasa, dalam kacamata kaum shufi dipandang tidak efektif mendorong manusia mampu melakukan komunikasi itu dengan Tuhannya secara langsung.

Konsep Ittihad

Istilah untuk kata ittihad antara satu shufi dengan shufi lain itu berbeda. Misalnya, rabi’ah al adawiyah menyebut ittihad dengan kata mahabbah. Al Ghazali menyebutnya dengan kata ma’rifat, Abu Yajid al Busthomi dengan baqa, al Hallaj dengan wihdat al wujudnya. Meski istilah yang digunakan itu berbeda, tetapi, substansi maknanya satu sama salin, sejatinya sama.

Al Hallaj, sempat digelari dengan nama Hallaj al Asrar (penyingkap suara hati), al Mughit (penasehat), al mukid (sang pemelihara), al mummayis (sang bijaksana) dan tidak sedikit yang menyebutnya dengan kata asketis.Gelar ini diberikan kepadanya, khususnya ketika pengikutnya demikian banyak dari mulai Iran, Irak sampai dengan ke India. Mereka mengidolakan al Hallaj karena kemampuan mistiknya yang luar biasa pula.

Diketahui kalau al Hallaj sempat melaksanakan ibadah haji selama tiga kali berturut-turut. Sehabis melaksanakan ibadah haji itulah, al Hallaj sempat membuat keributan baru karena ia membuat miniature Ka’bah di Baghdad. Ia sebenarnya sedang ingin menunjukkan bahwa perintah Tuhan melaksanakan ibadah haji itu, agar umat Islam dapat tunduk dalam kepentingan kemanusiaan. Karena itu, dalam konteks tertentu. Al hallaj dapat disebut sebagai sosok yang tak pernah bosan mendorong umat Islam untuk terus membangun nilai-nilai kemanusiaan sebagai salah satu jalan menuju ittihad.

Kalimat Nyeleneh al Hallaj dalam Upaya Kemanusiaan

Saat dia melakukan ceramah keagamaan di berbagai tempat itulah, berbagai pertentangan mulai muncul secara massif, khususnya dari para theolog dan ahli fiqih Islam. Berbagai sebutan miring terhadap dirinyapun mulai muncul seperti: orang gila, dukun, dan sempat juga dia tuduh telah melakukan perjanjian dengan makhluk ghaib seperti Jin. Mengapa demikian? Sebab beberapa pernyataannya cukup aneh dan mengganggu mayoritas masyarakat. Namun demikian, salah satu ciri kemanusiaan dia adalah terlihat dari khutbahnya berikut ini:

Wahai orang-orang Muslim, selamatkanlah aku dari Tuhan. Darahku akan kupersembahkan sebagai martir atas dosa manusia terhadap Tuhan. Tuhan telah memberikan padamu darahku yang syah menurut hukum. Cepat dan cepatlah bunuh aku. Jika kalian semua membunuhku, kalian semua telah menjadi pejuang dalam suatu perang suci yang tiada pahala kecuali syurga. Aku adalah manusia terkutuk, maka, bunuhlah aku. Dalam kalimat lebih lanjut ia menyatakan:  Ya Allah,  Ampunillah setiap manusia dari segala dosanya, meski engkau tidak mengampuni atas semua dosaku”.

Inilah khutbah pradoksal yang menggambarkan bagaimana ia demikian tulus mencintai manusia dan berjuang demi kemanusiaan. Ia menunjukkan ketulusan cinta kemanusiaannya, mengalahkan ketulusan cinta pada dirinya sendiri. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...