Al Hallaj Theosof Muslim yang Kontroversial | Intelektual Muslim Part-18

Al Hallaj Theosof Muslim yang Kontroversial | Intelektual Muslim Part-18
0 49

Abu Al-Mugis Al-Husain ibnu Mansur al-Baidlawi, lebih dikenal dengan sebutan al Halaj. Seorang Filosof shufi (theosof)  Iran yang lahir pada tahun 858 Masehi atau bertepatan dengan tahun 244 Hijriyah di sebuah Kota bernama Baida, Provinsi Fars negeri Iran hari ini. Seorang shufi besar bernama Sahal ibnu Abdullah At-Tustari telah mengajari al Hallaj sejak dia masih remaja, di sebuah kota bernama Tustar.

Ketika al Hallaj berumur 18 tahun, berangkat ke Basrah dan Baghdad, dengan tujuan khusus untuk berguru kepada Syekh Abdul Husain al-Nurim Syekh Junaid Al-Bagdadi dan Syekh Amru ibn Usman Al-Makki. Keduanya sangat dikenal sebagai ahli spiritual Islam yang diakui tingkat keshalehannya.

Al Hallaj kemudian tumbuh menjadi seorang shufi dengan nalar filosofis besar sebagaimana banyak dilakukan sejumlah filosof lain di generasinya. Harus dicatatkan bahwa sebelum al Ghazali lahir dan tumbuh berkembang, semua filosof kebanyakan adalah ahli tasawuf. Atau sebaliknya! Semua shufi pastilah ia seorang filosof. Al Ghazalilah yang berhasil menjinakan dunia tasawuf ke dalam bentuk kegiatan spiritual.

Konsep Tasawuf al Hallaj

Al Hallaj dikenal dan masih diingat sampai hari ini, karena pernyataannya tentang wihdat al wujud (penyatuan wujud) manusia dengan Tuhan. Rumusan ini kemudian dikonseptualisasi oleh dirinya dalam apa yang disebut dengan ana al haq. Inilah gagasan kontroversial yang menyebabkan dirinya mirip seperti Socrates yang mati karena dipaksa minum racun. Al Hallaj juga sama. Ia mati karena terpaksa digantung dan disalib oleh suatu putusan dan kebijakan negara yang menganggap pikirannya bertentangan dengan theologi dalam Islam.

Konsep wihdat al wujud al Hallaj adalah lanjutan dari pemikiran gurunya yang bernama Syekh Amru ibn Usman Al-Makki. Guru al Hallaj lain, melarang dengan keras konsepnya ini untuk dikembangkan. Tetapi, al Hallaj, tetaplah ia. Ia menjadi tokoh sangat piawai dalam mengurai pengalaman spiritualnya –dapat juga dibaca dengan rahasia ketuhanannya– ke masyarakat banyak. Ia berdakwah bukan hanya di Iran dan Irak, tetapi bahkan sampai ke India. Pengikutnyapun yang kemudian disebut dengan alhalajiyah sangat banyak.

Ia diasumsikan sebagai sosok waliyullah yang memeiliki kekeramatan tertentu. Karenanya ia dikagumi dan mendorong umat Islam cukup dependen terhadap pendapatnya ini. Inilah yang menyebabkan ia dianggap berbahaya. Mungkin Karena pengaruh semacam ini pula, al Ghazali yang lahir dua abad kemudian menyatakan: “hentikan penamu atau mulutmu ketika akan menceritakan pengalaman spiritual pribadi dengan Tuhan yang dianutnya.” Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...