Inspirasi Tanpa Batas

Al Qalb dan Kecerdasan Emosi

0 3

Konten Sponsor

Hal ini sejalan dengan ungkapan yang dikemukakan Peter Salovey dan John Mayer [1995] dari University Harvard dan New Hampshire di AS (1995), yang menyatakan bahwa kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi sendiri itulah yang dinamakan kecerdasan emosi atau Emotional Intelligence (EI) atau juga dikenali sebagai Emotional Quotient (EQ). Ema Yudiani [2005: 62] mengutip Patton juga mendefenisikan kecerdasan emosi sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif dalam mencapai suatu tujuan.

Ketika tuntutan kecerdasan emosi (EQ) menjadi fokus utama banyak kalangan dalam pemberdayaan potensi diri dalam upaya pengembangan diri seseorang maupun pengembangan kepribadian dalam komunitas sosial, tentu menjadi suatu hal yang menakutkan bagi seseorang setelah ia menyadari bahwa kecerdasan emosional (EQ)-nya tidak terlalu menonjol. Pada kesempatan lain Solovey juga mendefenisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengenal perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu fikiran, memahami fikiran dan maknanya dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Ismail Zain mengutip pernyataan Daniel Goleman bahwa kecerdasan intelektual (IQ) tidak dapat menjamin kesejahteraan dan keharmonisan diri serta hubungannya dengan masyarakat.

Kecerdasan Emosi Menurut Reuven BarOn

Menurut Reuven BarOn,[2000: 171-191] kecerdasan emosi sebagai mata rantai keahlian, kompetensi dan kemampuan nonkognitif yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menghadapi tuntutan dan tekanan lingkungan. BarOn juga mempopulerkan istilah emotional quotient inventory menampilkan nilai total kecerdasan emosi yang dibagi menjadi lima bahagian 1). Intrapersonal EQ: Self Regard (kemampuan untuk dapat menghargai dan menerima sifat dasar manusia yang pada dasarnya baik); 2). Interpersonal EQ Empathy (kemampuan memahami, mengerti serta menghargai perasaan orang lain); 3). Adabtability EQ: Reality Testing (kemampuan untuk menghubungkan antara pengalaman dan kondisi saat ini secara objektif); 4). Stress management EQ: Stress tolerance (kemampuan untuk menghadapi kejadian dan situasi yang penuh tekanan dan menanganinya secara aktif dan positiftanpa harus terjatuh dari impulse control atau kemampuan menunda keinginan dan dorongan untuk bertindak); 5). General Mood EQ: optimism (kemampuan untuk melihat sisi baik kehidupan dan memelihara sikap positif, meski pada masa yang tidak menyenangkan).

Sedangkan Goleman membagi kecerdasan emosi menjadi lima bahagian: 1). Mengenali emosi diri; 2). Mengelola emosi diri; 3). Motivasi diri; 4). Empati (mengenali emosi orang lain); 5). Membangun hubungan baik dengan orang lain. Dalam kamus bahasa Melayu sebagaimana yang dikutip Afrinaldi menyatakan emosi bermakna perasaan pada jiwa yang kuat (seperti sedih, marah dan lain-lain). Begitu juga dengan Oxford Advanced Learners’s Dictionary (1995) mendefenisikan emosi sebagai perasaan yang kuat (kasih sayang, keriangan, benci, takut, cemburu dan gangguan perasaan). Dr. Hj. Ety Tismayati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar