Al Razi Filosof Muslim Penolak Kenabian | Intelektual Muslim Part-11

3 309

Al Razi Filosof Muslim – Sosok filosof ini layak disebut pemberani, rasionalis dan sangat empiris. Inilah sosok yang paling sulit dilupakan karena keberaniannya yang kontroversial dalam konteks berpikir. Nama filosof itu adalah al Razi atau Razhes. Argumentasi-argumentasi dialektis ala filosof Yunani Kuna yang diadaftasi ke dalam filsafat Islam. Ini telah menyebabkan dia dinobatkan sebagai filosof Muslim yang atheis dan banyak dibenci para ulama-ulama fiqih Muslim semasa dia menjadi pemikir aktif di Baghdad.

Tetapi, terhadap penyebutannya sebagai sosok yang ateis itu, banyak kalangan dan pemikir lain yang justru membelanya. Mereka yang membela itu, umumnya berpendapat bahwa  al Eazi justru adalah monoteis yang hanya percaya kepada Tuhan yang Tunggal. Wujud Tuhan dianggap al Eazi sebagai Dzat yang menyusun dan mengatur jagad raya ini. Meski memang harus diakui kalua tokoh tidak mengakui adanya wahyu dan kenabian.

Alasan al Razi Menolak Kenabian

Menurut al Razi, sejatinya, manusia tidak membutuhkan Nabi yang bertugas menjadi perantara turun atau berfungsinya wahyu dalam kehidupan manusia. Mengapa? Sebab dalam nalar al Razi, dengan kasih sayang Tuhan, Ia sebenarnya telah memberi potensi yang sama kepada manusia untuk mengenal Tuhannya secara benar. Ia justru menjadi ragu akan kasih sayang Tuhan, jika dalam faktanya Tuhan memilih manusia-manusia tertentu yang bertugas untuk menerjemahkan pesannya dalam kehidupan manusia di muka bumi.

Dalam anggapan al Razi,  manusia tidak mungkin dapat berpikir secara filosofis, ketika dirinya mengikatkan diri pada cerita-cerita kewahyuan yang dianggapnya terlalu kuna. Prinsip-prinsip dasar kewahyuan selalu menegaskan dirinya dalam bentuk yang kontradiktif, penuh kebodohan dan cenderung membandel serta dogmatism. Special prophecy, karena itu, menurutnya, tidak diperlukan Karena dalam fakta social, kenabian hanya akan membuat manusia, satu sama lain, khususnya dari mereka yang berbeda nabinya itu, untuk melakukan peperangan. Terjadinya permusuhan di antara umat manusia ini, Karena manusia merasa memiliki term kebenaran di antara masing-masing agama.

Dalam konteks ini ia membuat semacam hypotesa yang menyebut bahwa bagaimana mungkin manusia menerima Tuhan lebih mencintai seorang manusia sebagai pengemban standar umat manusia, yang membuat manusia lain bergantung padanya? Bagaimana  manusia dapat mempertemukan kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Bijaksana dengan memilih seseorang dengan cara demikian, yang membuat umat manusia siap untuk saling membunuh, menimbulkan pertumpahan darah, perang dan konflik hanya karena manusia memiliki perpektif kenabian yang satu sama lain berbeda. By. Prof. Cecep Sumarna

Al-Razi. Rasa’il Falsafiyah Islam. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidat, 1982
Lenn E. Goodman. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Bandung: Mizan, 1996

  1. lyceum
    lyceum berkata

    Mas Khavid alWani dan Mas Jenal, terima kasih atas komentar anda. Inilah dinamika pemikiran yang tidak surut dan terus menyulut perhatian banyak kalangan. Yang pasti dari semua itu, inilah interaksi budaya ilmiah. Soal pendekatan teologis … kita tidak tahu.

  2. Khavid Khalwani/TIPS-B SMT-3/1415104050/IAIN SNJ CRB berkata

    Setiap ada argumentasi pasti ada sebuah rasionalisasinya begitupun Al-Razi yang berpendapat bahwasannya menolak akan kepercayaan kenabian. Karena menurutnya dengan adanya Tuhan itu sudah cukup untuk dapat sebagai keyakinan umat. Banyak kasus yang terjadi akan kepercayaan kepada nabi yang berbeda menjadikan pertumpah darahan antar manusia. Kepercayaan ini yang salah dipahami. Kita harus percaya akan adanya nabi tetapi ingat ada batasannya karena mengapa? Karena Tuhan(Allah) menciptakan nabi sebagai suri tauladan untuk manusia dalam melaksanakan kehidupannya. Manusia disini dituntut untuk berbuat kebaikan serta menegakkan seperti pada masa nabi bukan untuk mengagungkan nabi sebagai kepercayaan manusia iu sendiri. Melainkan sebagai motivasi hidup untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik seperti para nabi da rosul yang telah Allah utuskan.

  3. Jenal berkata

    Kenafa arazi bisa membuat hipotesis yang sedemikian? Dia beranggapan bahwa cinta kepada nabi malah menghalang cinta kepada tuhan? Bukan nya.. penyulutan perang dinatara pengikut nabi itu merupakan sikap yang jelas-jelas bukan salah nabi. Tapi salah para pengikutnya. Sehingga para nabi tidak perlu disalahkan karena sejatinya mereka berlandaskan kebenaran. Ara zi mungkin terlalu bersikap skeptis dan zumud akan ketaklidannya terhadap filsafat kuno. Harunya dia tak perlu mengatakan bahwa wahyu itu kuno atau kuno. Sebab sudah pasti antara karya tuhan dan karya manusia(filsafat) pastilah berbeda, karna tuhan serba tahu. Seandainya ia faham atas keterbatasan nalarnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.