Take a fresh look at your lifestyle.

Al Razi Sosok Kimiawi Dunia Islam | Intelektual Muslim Part-10

0 20

Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ibnu Yahya Al-razi. Lebih popular dengan sebutan al Razi (Islam) dan Rhazes dalam panggilan masyarakat Barat. Penyebutan kata Razi atau Thazes menyandarkan kepada kampong halamannya yang kebetulan lahir di Kota Tua yang bernama Razy. Kota ini, di masa Yunani Kuna dikenal dengan kata Rhogee, yang posisinya sangat dekat dengan Kota Teheran di Republik Islam Iran hari ini.

Al Razi yang lahir tahun 865. Dan meninggal pada 925 Masehi itu, di masa mudanya dikenal sebagai ahli kimia dan ahli musik, khususnya pemain Kecapi. Karena itu, tidak heran jika ia termasuk di antara filosof dan ilmuan yang buta matanya, tentu di masa tuanya, karena terkena pecahan dari zat-zat kimia yang dia ujicobakan. Selain itu, kebutaannya itu juga diperparah karena dia diangap terlalu banyak membaca dan menulis. Dunia kimia baru dia tinggalkan sewaktu dirinya merasa kabur melihat segala sesuatu melakukan uji coba dimaksud dan berkonsentrasi secara penuh ke dalam dunia kedokteran.

Pergumulan intelektual al Razi dengan Ali Ibnu Robban al-Thabari, yang dikenal ahli dalam bidang kedokteran, telah menyebabkan dirinya juga masyhur dalam bidang kesehatan. Guru kesehatan al Razi ini yang bertempat tinggal di Merv ini, kebetulan memiliki seorang ayah beragama Yahudi yang sangat ahli dalam tafsir-tafsir kitab suci. Dari bapak Ali Ibnu Robban al-Thabari inilah, dia mempelajari dan bergulat dengan sangat tekun dalam mengembangkan dunia filsafat dan agama. Selain itu, al Razi kemudian juga dikenal sebagai sosok yang ahli dalam bidang ilmu falak dan matematik. Tentu, selain dia dipandang pakar dalam bidang ilmu kimia dan ilmu kedokteran.

Kesehatan dalam Pandangan Al Razi

Kesehatan dalam pandangan al Razi, terjadi lebih karena adanya respons atau reaksi kimiawi yang terdapat dalam tubuh manusia. Jadi pengobatan yang dilakukan seorang tabib, sesungguhnya adalah membangkitkan respons kimiawi dimaksud dalam tubuh manusia. Itulah yang menyebabkan dirinya beranggapan bahwa antara dimensi kimiawi dengan kesehatan manusia sangat erat sekali hubungannya. Karena ketekunan dan keahliannya dalam dua bidang ini, ia kemudian dinobatkan sebagai kepala rumah sakit di Ray Baghdad.

Yang menarik ketika usianya semakin lanjut dan berbagai penyakit datang menjumpainya, ia menolak untuk diobati. Ia mengatakan bahwa obat tidak akan mampu menyehatkan tubuhnya, Karena ia merasa bahwa Tuhan sebentar lagi akan menjemputnya. Dan benar pula di usia yang pas genap 60 tahun, dia meninggal dunia dengan tenang. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar