Tradisi Mudik: Jalan Menuju Alam Abadi

0 0

Tradisi Mudik: Jalan Menuju Alam Abadi
Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Prof. Dr. H. Cecep Sumarna2Rutinitas mudik kembali tiba, menghampiri siapapun yang hidup di alam prophan (dunia). Tidak terasa, belasan bulan berjalan, menghempaskan tetesan keringat setiap manusia yang bekerja, mengumpulkan koin bulanan untuk bekal hari raya dan menampilkan diri –meski terkesan memaksakan– akan setiap potensialitas diri masing-masing dengan tujuan sama, Mudik.

Mudik telah menghabiskan banyak bekal yang dihasilkan atas keringat mereka yang bekerja. Habisnya bekal itu, bukan saja dipakai untuk membeli sejumlah pakaian dan atribut tubuh lain, tetapi, juga memoles kembali rumah yang catnya mulai lapuk, membereskan rumah yang mulai keropos dan menertibkan kembali isi rumah yang mulai tidak nyaman. Tidak sedikit juga, hasil kerja mereka dihabiskan untuk membeli kendaraan roda dua dan empat baik yang baru maupun yang bekas.

Kepulangan mereka ke kampung halaman itu, bukan saja telah menyampaikan kesan penting bahwa hidup di alam pengembaraan sebagai sesuatu yang menjanjikan, meski sebenarnya belum tentu kenikmatan itu dirasakan mereka yang mengembara. Tetapi kesan itu, telah menyeruak dengan indikator setiap tahun, urbanisasi tetap berjalan dengan massif.

Itulah potret Muslim Indonesia. Potret suram sekaligus menawan siapapun yang meliriknya. Mereka yang bergelut dalam dunia bisnis misalnya, selalu menjadikan momen mudik sebagai potensi usaha yang cukup menjanjikan banyak keuntungan. Para penjual barang mulai pada emperan sampai pada kelas etalase habis dikunjungi mereka yang mau mudik. Politisi menempatkan situasi ini sebagai lahan empuk untuk mendulang popularitas mereka agar dalam setiap event pemilihan ia tetap dianggap peduli.

Desingan suara mobil di jalanan,  kepulan asap kendaraan yang merayap, juntaian penumpang kereta api, gesekan manusia di pelabuhan dan desakan penumpang pesawat di Bandar Udara, telah menjadi atraksi rutin tahunan Indonesia. Indonesia dengan mayoritas masyarakat Muslim dengan populasi mendekati angka 87,5 persen itu, telah mendorong dirinya dalam suatu komunitas yang dalam tataran tertentu, terkesan sangat ambigu. Tetapi itulah kenyataannya.

Saya sendiri melihat bahwa fenomena mudik, memiliki relevansi teologis yang sangat tinggi. Mudik bukan hanya akan kembali memperkenalkan kejujuran lidah yang selama ini dipaksa dibikin moderen dan dipaksa melupakan semua menu makan yang khas sesuai dengan lidah kita, tetapi dapat mengingatkan manusia bahwa  sesungguhnya hidup di alam dunia ini, tidak lebih dari hanya sekedar pengembaraan sementara yang penuh sandiwara. Pada akhirnya, manusia akan dipaksa kembali ke alam primordialnya yang paling hakiki, yakni kembali kepada Tuhannya yang ideal. Masalahnya, dalam mudik yang paling hakiki itu, sudahkan kita mengecet rumah kita, memperbaiki mobil kita, dan melakukan sejumlah persiapan lain sehingga jalan yang kita tempuh menuju wujud ideal itu, dapat dilakukan dengan cara yang ideal juga. Semoga demikian adanya

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...