Tradisi Mudik Belajar berjalan Menuju Alam Abadi

0 19

Tradisi Mudik Belajar berjalan Menuju Alam Abadi. Rutinitas tahunan dalam kata mudik akan kembali tiba. Delapan hari ke depan, dan delapan hari sesudahnya, jalan akan kembali macet. Dipenuhi lalu lintas kendaraan dengan anek ragam dan tipikal yang harus dipandang menarik.

Mudik, kembali menghampiri banyak umat Muslim yang hidup di alam prophan (dunia). Suatu pola kehidupan yang mungkin semu. Tidak terasa, belasan bulan berjalan. Menghempaskan tetesan keringat karena banyak bekerja guna mengumpulkan koin bulanan. Apa yang dikumpulkan itu, semua diukur untuk kebutuhan pulang tahunan.

Mereka yang urban di kota-kota Megapolitan cara berpikirnya sebenarnya sederhana. Bagaimana mereka memiliki bekal guna mudik saat hari raya tiba. Kebanyakan di antara kita berlomba, bagaimana ketika mudik mampu menampilkan diri –meski terkesan memaksakan– akan setiap potensialitas diri masing-masing. Tujuannya sama, yakni memberi sesuatu yang berarti kepada khalayak.

Mudik yang rutin tahunan itu, tentu saja akan menghabiskan banyak bekal. Keringat yang dicucurkan ketika bekerja selama 11 bulan itu, akan dihempaskan saat mudik tiba. Habisnya bekal yang dicari selama 11 bulan sebelum mudik, umumnya dipakai membeli pakaian dan atribut tubuh lain. Bisa juga digunakan untuk kembali memoles rumah yang catnya mulai lapuk, membereskan rumah yang mulai keropos dan menertibkan kembali isi rumah yang mulai tidak nyaman.

Yang agak mapan dari sisi pekerjaan selama 11 bulan itu, akan dihabiskan untuk membeli kendaraan roda dua dan empat; baru atau bekas. Tujuannya sekali lagi sama! Yakni mudik dan bagaimana mereka menunjukkan eksistensinya kepada saudara dan teman-temannya di kampung secara pantastik.

Mudik dalam Makna Sosial

Apakah mudik yang bakal menghabiskan jutaan barel minyak, ribuan kanvas rem beserta minyaknya, patut disebut kampungan? Tidak juga! Mengapa? Sebab kepulangan mereka ke kampung halaman setelah 11 bulan ditinggalkan, bukan saja telah menyampaikan kesan penting bahwa hidup di alam pengembaraan sebagai sesuatu yang bersipat sementara, tetapi, juga memiliki terminologi bagaimana kita memiliki bekal hidup dalam jangka panjang.

Meski tidak setiap pengembaraan mampu menghasilkan kenikmatan oleh mereka yang mengembara, tetapi kesan itu, telah menyeruak dengan indikator setiap tahun, urbanisasi tetap berjalan dengan massif.

Dalam konteks tertentu, mudik adalah tradisi Indonesia. Karena itu, tidak salah jika ada yang menyebut bahwa kegiatan mudik adalah, potret Muslim khusus Indonesia. Ia menampilkan Potret suram sekaligus menawan siapapun yang meliriknya. Darinya pula berbagai keuntungan hidup manusia diperoleh.

Misalnya, karena mudik, mereka yang bergelut dalam dunia bisnis, selalu menjadikan momen mudik sebagai potensi usaha yang cukup menjanjikan banyak keuntungan. Para penjual barang mulai kelas emperan sampai kelas etalase habis dikunjungi mereka yang mau mudik dan tentu banyak barang yang habis terjual.

Politisi menempatkan mudik sebagai lahan empuk untuk mendulang popularitas mereka agar dalam setiap event pemilihan ia tetap dianggap peduli. Bagi masyarakat desa, mudik juga mengandung makna bagaimana uang mampu diedarkan ke khalayak luas di pedalaman.

Desingan suara mobil di jalanan,  kepulan asap kendaraan yang merayap, juntaian penumpang kereta api, gesekan manusia di pelabuhan dan desakan penumpang pesawat di Bandar Udara, telah menjadi atraksi rutin tahunan Indonesia.  Di situlah rupiah akan memperoleh popularitasnya di mata masyarakat.

Indonesia dengan mayoritas masyarakat Muslim dengan populasi mendekati angka 87,5 persen itu, telah mendorong dirinya dalam suatu komunitas yang dalam tataran tertentu, terkesan sangat ambigu. Tetapi itulah kenyataannya.

Mudik dan Pesan Spiritual

Saya sendiri melihat bahwa fenomena mudik, memiliki relevansi teologis yang sangat tinggi. Mudik bukan hanya akan kembali memperkenalkan kejujuran lidah yang selama ini dipaksa dibikin moderen. Selama sebelas bulan dipaksa melupakan semua menu makan yang khas sesuai dengan lidah kita di kampung halaman kita. Tetapi, mudik juga dapat mengingatkan manusia bahwa sesungguhnya hidup di alam dunia ini, tidak lebih dari hanya sekedar pengembaraan sementara yang penuh sandiwara.

Pada akhirnya, manusia akan dipaksa kembali ke alam primordialnya yang paling hakiki, yakni kembali kepada Tuhannya yang ideal. Masalahnya, dalam mudik yang paling hakiki itu, sudahkan kita mengecet rumah kita, memperbaiki mobil kita, dan melakukan sejumlah persiapan lain sehingga jalan yang kita tempuh menuju wujud ideal itu, dapat dilakukan dengan cara yang ideal. Inilah yang sulit diukur. Tetapi, semoga saja kita mampu merefleksi makna mudik dalam kehidupan sehari-hari. Amiin …. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.