Alamsyah dan Yanti Memadu Kasih | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 8

Alamsyah dan Yanti Memadu Kasih | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-8
0 122

Alamsyah agak kikuk ketika Ghina membawanya bertemu dengan Yanti. Yanti yang tubuhnya sangat Sintal, bibir merah dan muka yang bersih dan bening, serta wataknya yang tenang, bertemu dengan Alamsyah di sebuah Restaurat yang tidak jauh dari kantornya. Mereka bertiga kebetulan memiliki dasar-dasar pergaulan Islami yang relatif baik. Hanya Yanti memang memiliki beban psikologi yang cukup berat, maklum sebelumnya, ia termasuk wanita yang paling sering kena luka dari suaminya.

Setelah sedikit basa-basi, Alamsyah berkata: “Yanti … mohon maaf, barangkali situasi ini tidak membuat kamu menjadi kurang nyaman. Aku tak bermaksud sedikitpun memanfaatkan posisiku yang menjadi pemilik perusahaan dan kamu yang bekerja di perusahaan ini. Aku tak bermaksud menundukkan dan menjadikan kamu sebagai istriku secara paksa. Sama sekali tidak! Kamu memiliki kemerdekaan untuk menolak atas upayaku untuk menjadikan kamu sebagai istriku. Namun, sudikah kiranya, lamaranku ini kau terima … ! Kamu jangan tanya, mengapa aku tidak datang ke rumahmu dan memintanya kepada orang tuamu. Saya kira kita mafhum dalam posisimu yang bukan lagi perawan, kamu memiliki hak untuk menerima atau menolak atas ajakanku ini, sekalipun tidak atas restu orang tuamu.

Yanti diam dan kemudian berkata dengan sangat terbata-bata. Aku bangga dan sejujurnya aku sangat bahagia. Aku bukan hanya sekedar telah menempatkanmu sebagai boss kami, tetapi, juga menempatkannya sebagai guru yang patut ditauladani. Kau adalah kakaku dan segala halnya telah membuat kami harus bersyukur bahwa di alam dunia ini, masih ada orang baik dan bijak seperti dirimu. Aku takut … aku masih trauma. Berilah aku waktu untuk merenung beberapa saat lamanya. Tolong jangan marah ya sama aku … jikapun Tuhan tidak memberi idzin atas niat tulus dan baikmu, demi ke dalaman rasa dan kekagumanku kepada dirimu, selamanya aku tak akan pernah memiliki laki-laki lain karena nafas cintaku telah diisi sama dirimu. Dengan linangan air mata yang makin deras, Alamsyah termangu dan kemudian dia menyatakan: “tak mengapa Yanti … demi rasa cintaku kepadamu … aku tak kan pernah membiarkan kamu larut dalam duka. Bekerja dengan baik di perusahaan ini …. anggap saja, kita tidak pernah berbicara seperti ini.

Itulah hari di mana Yanti, Ghina dan Alamsyah bertemu dalam satu peraduan kasih sayang yang tak berhingga. Mereka seperti menunjukkan wataknya yang benar-benar Islami dan sedikitpun tak pernah menunjukkan rasa kecewa. Justru keduanya tampil prima dengan posisi yang sebenarnya saling menyukai dan mencintai.

Yanti dan Alamsyah Bertemu di Hotel Bintang

Setelah pertemuan itu berlangsung, Alamsyah dan Ghina, terlebih tentu dengan dengan Yanti, tak saling bertemu dalam waktu yang cukup lama. Alamsyah yang shaleh serta Yanti yang Islami dan Shalihah terus berkarier di perusahaan yang semakin hari semakin berkibar. Ia menjadi perusahaan yang sangat besar dengan kapital omzet cukup untuk 50 tahun ke depan. Yanti kembali kuliah di Post Graduate Program atas beasiswa dari perusahaan. Yantipun kembali menjadi mahasiswa S2 dalam bidang yang sama yakni kebijakan publik di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Saat itu, usianya sudah menginjak 39 tahun.

Tanpa diduga, sewaktu Yanti menyelesaikan ujian S2 di Bandung, Alamsyah juga sedang melakukan loby di salah satu Hotel Kota Priangan Bandung. Keduanya bertemu. Tanpa janjian, mereka berada dalam hotel yang sama. Sehabis ujian, Yanti tidak langsung pulang, karena ada beberapa catatan penting atas tesis yang ditulisnya, yang catatannya baru dapat diambil besok paginya.

Sewaktu makan malam, Alamsyah kaget di tempat jamuan makan malam hotel itu ada Yanti. Ia mendekatinya dan mengajaknya berbicara. Asyiklah mereka berbicara di meja itu berdua, tanpa ada yang mengetahui detil pembicaraan mereka. Pramusaji Hotelpun datang mengirimkan makanan dan minuman. Merekapun berdua lahap makan malam itu.

Namun demikian, minuman yang disajikan kepada mereka yang tinggal setengah gelas lagi, dipaksa diambil pramusaji tanpa alasan. Alamsyah dan Yanti hampir marah kepada pramusaji itu. Tetapi entah apa dan mengapa minuman itu diambil secara paksa dari hadapan mereka. Akhirnya, mereka pasrah dan mendapatkan minuman lain yang masih penuh. Ternyata minuman itu, salah alamat ke nomor meja yang dituju. Minuman itu untuk pasangan lain dan telah dicampuri bahan-bahan perangsang atas permintaan konsumen. Namun Yanti dan Alamsyah awalnya tidak mengetahui.

Mereka Larut dalam Reaksi Minuman

Yang pasti satu jam kemudian, baik Alamsyah maupun Yanti jadi berubah sikap. Mereka yang sebelumnya sangat menjaga prinsip-prinsip Islami itu, ketika masuk ke dalam kamarnya masing-masing, gelisah. Mereka memiliki bayangan yang aneh. Alamsyah beberapa kali ingin mengontak Yanti … sama juga dengan Yanti beberapa kali ingin mengontak Alamsyah. Tetapi selalu tidak jadi. Akhirnya, Yanti masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dalam air hangat di hotel Bintang IV di Kota Bandung itu.

Berbeda dengan Yanti, perasaan Alamsyah makin tak menentu. Akhirnya, ia bermaksud mengajak Yanti ke luar kamar mencari angin segar di Kota Paris Van Java itu. Ia ke luar kamarnya dan mengetuk pintu Yanti. Dengan nafas yang tak menentu, Yanti membuka pintu kamar dengan tubuh hanya dibalut Handuk dengan rambut ditutup plastik penutup air. Yanti yakin itu Alamsyah.

“Begitu pintu dibuka, benar juga ternyata Alamsyah. Yanti berkata: “Ada apa boss … Alamsyah diam. Yantipun sama, diam … Setelah itu, mereka saling memegang tangan dan masuk ke kamar Yanti secara kikuk dan pelan. Tangan mereka, telah membuat seluruh syaraf keduanya, menjadi tak mampu menahan diri, akhirnya mereka larut dalam irama asmara yang sangat indah. Mereka lupa bukan saja atas posisinya masing-masing, tetapi, juga atas prisip-prinsip keislaman yang dianutnya. Malam itu, mereka sampai tiga kali melakukan hubungan suami istri. Larut dalam asmara kasih yang dalam terminologi cintanya masing-masing, memiliki benih kasih sayang yang sangat tulus”– Bersambung … By. Charly Siera

Komentar
Memuat...